Bukan Orang Pintar, Bos AirAsia Bocorkan Kriteria yang Dicari Perusahaan

Rahmi Anjani - wolipop Rabu, 20 Mar 2019 19:36 WIB
Foto: Tony Fernandes (Reuters) Foto: Tony Fernandes (Reuters)

Jakarta - Kepintaran tentu dibutuhkan untuk bisa sukses dalam pekerjaan. Namun kadang nilai tinggi atau lulus dari universitas bergengsi saja tidak cukup untuk membuat seseorang bisa diterima di perusahaan besar. Hal tersebut diungkap oleh bos AirAsia, Tony Fernandes. Ia mengaku jika nilai akademis bukanlah yang dicarinya ketika menerima pegawai baru tapi orang-orang 'lapar'.

Hal tersebut disampaikannya ketika mengisi konferensi Money 20/20 di Singapura. Dalam acara itu, Tony Fernandes mengungkap alasan utama mengapa AirAsia menjadi salah satu perusahaan paling menarik di Malaysia. Menurut Tony, kuncinya adalah pada perekrutan. Ia mengaku selalu mencari 'orang-orang yang lapar' dan 'ingin membuktikan'.

"Jika kamu melihat semua orang dalam timku, banyak orang yang tidak pernah berhasil dan tidak pernah diberi kesempatan (sebelumnya). Kami punya yang banyak orang yang meninggalkan sekolah di usia 13 tahun yang sangat senior di perusahaan kami. Aku mencari orang dengan dorongan dan ingin membuktikan sesuatu," kata Tony dilansir Business Insider.

Dalam kamusnya, lulus dengan nilai cemerlang atau dari universitas 'Ivy League' tak selalu dibutuhkan saat mencari pegawai. Tony pun menambahkan jika orang tersebut juga perlu punya kemampuan komunikasi yang baik dan bisa bekerja dalam tim.

Selain itu, Tony juga mengungkap strateginya dalam membangun AirAsia hingga sesukses sekarang. Beberapa di antaranya adalah dengan membangun transparansi dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan siapa pun serta kapan pun. "Semua orang di AirAsia bisa berbicara denganku. Tidak ada hirarki," tambah pria 54 tahun tersebut.

Selain itu, menurutnya penting pula untuk mengapresiasi para karyawan. Misalnya dengan membiarkan mereka berkembang secara personal hingga mengajak jalan-jalan.
"Banyak perusahaan tidak sadar aset terbesar mereka -dan ini adalah salah para akuntan- yakni pegawai mereka. Itu bukan angka yang bisa kamu taruh di neraca tapi semua orang butuh atensi dan apresiasi atas apa yang mereka lakukan. Dan aku pikir kami bagus dalam itu," ungkap Tony. (ami/ami)