Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Anak Perempuan Ini Buktikan Bisa Tetap Cantik dengan Kepala Botak

Rista Adityaputry - wolipop
Jumat, 07 Apr 2017 17:59 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Dok. Instagram
Jakarta - Beberapa sekolah dasar di Amerika Serikat memiliki sejumlah perayaan spesial untuk mengapresiasi hal-hal yang unik, seperti Twins Day, Pajama Day, Jersey Day, dan lain-lain. Perayaan spesial seperti itulah yang dinanti-nanti oleh Gianessa Wride, anak perempuan berusia tujuh tahun, yang bersekolah di Salem, Utah, Amerika Serikat. Sayangnya, ketka Crazy Hair Day tiba, Gianessa tidak bisa merayakan perayaan tersebut karena penyakit Alopesia yang dideritanya.

Alopesia adalah salah satu penyakit autoimun yang menyerang kulit kepala atau bagian tubuh lainnya sehingga rambut di area tersebut bisa rontok atau bahkan botak. Gejala tersebut diawali dengan bercak bulat dan kecil di area kepala, namun kemudian bisa berkembang menjadi kebotakan seluruh rambut kepala karena didorong oleh stres. Sayangnya, belum ada obat untuk kondisi penyakit seperti ini. Daniella Wride, ibu dari Gianessa, menyadari gejala ini ketika ia melihat banyaknya helaian yang rontok saat menyisiri rambut anaknya. Tak lama setelah Daniella membawanya ke ahli dermatologist, Gianessa didiagnosis terkena penyakit alopesia. Bahkan, sebelum ke dokter pun Gianessa telah mengalami kebotakan total.

Daniella mengungkapkan diagnosa Alopesia itu membuat putrinya stres. "Ada waktu ketika aku merasa kalau aku menghadapi ini lebih berat daripada dia. Aku jadi berpikir, aku harap seseorang dapat melihat dia dengan apa adanya, dirinya yang cantik, baik, pintar, penyayang dan bukan hanya menganggapnya sebagai anak yang tidak punya rambut," cerita Daniella pada PopSugar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Datangnya perayaan Crazy Hair Day di sekolah sempat membuat Daniella kebingungan bagaimana agar anaknya dapat ikut merayakannya tanpa merasa sedih karena ia botak. Wanita yang berprofesi sebagai suster ini pun berusaha mendampingi Gianessa untuk percaya diri akan penampilan barunya. Dibantu oleh beberapa teman Gianessa, Daniella disarankan untuk memakai glitter atau tato temporer untuk menghias kepala anaknya karena memakai wig akan membuatnya gatal. Namun, ternyata akhirnya ia memilih stiker perhiasan di toko kerajinan tangan dan memutuskan untuk menggunakan itu sebagai hiasan.

"Dia bilang kalau dia gugup sekali, takut kalau tidak ada yang menyukainya dan ketika aku selesai menghias, dia langsung lari ke kamar mandi untuk berkaca," kata Daniella yang menghias kepala Gianessa berdasarkan desain dari Gianessa sendiri.

Daniella mengatakan bahwa anaknya itu benar-benar puas dan senang melihat hasil hiasannya di kepalanya. Ketika ia mengantarkan Gianessa ke sekolah pun, banyak orang yang mengucapkan selamat atas semangatnya dan memuji penampilannya yang sangat cantik. Tidak hanya itu, Gianessa bahkan mendapat predikat sebagai 'The Best Crazy Hair' di kelas.

"Aku tak peduli apakah dia punya rambut atau tidak. Aku hanya ingin dia tidak melewatkan pengalaman-pengalamannya nanti, seperti perayaan Crazy Hair Day, persiapan kencan, dansa dengan teman-teman, merias rambut masing-masing. Anakku ini lebih pemberani dan percaya diri dari apa yang aku bayangkan," ujar Daniella.

Kepercayaan dirinya itu yang membuat Gianessa akhirnya nyaman dengan penampilan barunya. Ketika ditanya tentang penyakitnya, Daniella mengatakan kalau Gianessa hanya menjawab dengan kalimat 'tubuhku tidak suka dengan rambutku'. (eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads