Jelang Melahirkan, Kim Kardashian Khawatir Preeklampsia dan Plasenta Akreta
Kim Kardashian diprediksi melahirkan anak keduanya pada Natal 2015 mendatang. Kim pun merasakan kegelisahan jelang persalinan karena risikonya mengalami preeklampsia meningkat di kehamilan kedua ini.
Saat hamil anak pertamanya, North West, Kim memang mengalami preeklampsia. Preeklampsia adalah sindrom yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, kenaikan kadar protein di dalam urin (proteinuria), dan pembengkakan pada tungkai.
Ketika hamil North, tubuh Kim memang membengkak yaitu pada wajah, kaki dan tangannya. Dia pun sempat jadi bulan-bulanan media hiburan karena bobot tubuhnya yang bertambah cukup banyak saat kehamilan pertamanya.
Baca Juga: 50 Foto Before-After Selebriti yang Operasi Plastik
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain preeklampsia, Kim juga berisiko terkena plasenta akreta yaitu kondisi klinis ketika plasenta menempel terlalu dalam ke dinding rahim sehingga sulit terlepas. Saat melahirkan North pada 15 Juni 2013 lalu, plasenta memang tidak langsung keluar dari rahim bintang ‘Keeping Up With The Kardashians’ itu. Plasentanya masih menempel di dinding rahim.
Melalui tulisan di blognya, Kim pun menceritakan bagaimana sulitnya mengeluarkan plasenta tersebut dari rahimnya. “Dokter sampai harus memasukkan seluruh tangannya dan mengambil plasentaku dengan tangannya itu. Sungguh mengerikan dan menyakitkan!!! Ibuku sampai menangis karena dia tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya,” cerita istri Kanye West tersebut.
Kim mengungkapkan lagi, sebenarnya dia melahirkan North dengan cukup mudah. Namun yang membuat proses persalinannya menjadi seperti mimpi buruk adalah karena plasenta akreta yang dualaminya.
“Itu menjadi pengalaman hidup paling menyakitkan. Mereka sampai memberiku epidural lagi, tapi kami dipacu waktu, jadi aku harus menghadapi (rasa sakit) itu,” tulis Kim.
Dengan berbagai risiko kesehatan yang dihadapinya, tak heran selebriti 35 tahun itu begitu resah dengan proses persalinan keduanya. Apalagi menurutnya dalam kasus yang sangat langka tindakan histerektomi bisa saja diperlukan jika kondisinya sudah sangat parah. “Untungnya kata dokter, hal tersebut tidak akan terjadi,” ungkapnya. Histerektomi yang dimaksud Kim adalah proses pengangkatan rahim dengan metode pembedahan.
(eny/eny)











































