Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Anak Broken Home

Bahaya yang Bisa Terjadi Jika Anak 'Terjebak' di Lingkungan Broken Home

Intan Kemala Sari - wolipop
Jumat, 26 Jun 2015 11:32 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta -

Seorang anak selayaknya mendapatkan kasih sayang orangtua dan tumbuh di dalam lingkungan yang mendukungnya untuk berkembang. Namun apa jadinya jika anak tersebut tinggal di dalam keluarga yang tidak harmonis atau broken home?

Sebuah penelitian yang dilakukan di The University of New Hampshire Cooperative Extension Inggris menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga broken home akan terkena berbagai dampak yang berpengaruh terhadap proses pertumbuhannya. Ini beberapa dampaknya yang perlu diwaspadai.

1. Dampak Emosional
Setelah orangtua bercerai, anak-anak yang masih berusia tiga hingga 13 tahun dapat mengalami pertumbuhan emosional yang terhambat. Seperti yang dijelaskan oleh psikolog Lori Rappaport, ketika orangtua bercerai, anak-anak bisa menderita depresi berkepanjangan hingga bertahun-tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, beberapa anak dengan usia yang lebih dewasa (di atas 13 tahun) umumnya cenderung menunjukan reaksi emosional yang lebih sedikit saat kedua orangtuanya berpisah. Lori mengatakan hal itu bukanlah keuntungan bagi pertumbuhan anak.

"Anak yang memiliki sedikit reaksi emosional sebenarnya berusaha memendam perasaan negatif yang ada di pikirannya. Penekanan emosional ini membuat orangtua, guru, dan terapis sulit untuk membantu anak tumbuh sesuai dengan tahapan perkembangannya," ujarnya seperti dikutip dari Everyday Life.

2. Pertumbuhan Akademik Lambat
Lori yang mengambil studi psikolog klinis di University of Southern California memaparkan dampak lain yang bisa terjadi kepada anak broken home, yaitu pertumbuhan akademik yang lambat.

"Perasaan stres pada anak yang disebabkan dari perceraian saja cukup untuk menghambat kemajuan akademis sang anak. Tetapi perubahan gaya hidup dan ketidakstabilan dari hubungan keluarga yang tidak harmonis berpotensi untuk menghasilkan pendidikan yang buruk pada anak," jelas psikolog yang mengajar di Chapman University, Amerika ini.

Menurutnya, penurunan akademik yang buruk ini dapat berasal dari sejumlah faktor. Di antaranya dari lingkungan rumah, sumber daya keuangan yang tidak memadai, serta rutinitas yang tidak konsisten.

3. Dampak Perilaku Sosial
Psikolog Carl Pickhardt dalam artikelnya yang berjudul 'Parental Divorce and Adolescents' yang dipublikasikan di jurnal Psychology Today menambahkan, perceraian memiliki dampak hubungan sosial terhadap anak. Beberapa anak melampiaskan perasaan tentang keluarganya yang tidak harmonis dengan bertingkah agresif dan melakukan bullying terhadap temannya.

Anak-anak lainnya mungkin memiliki tingkat kecemasan tinggi yang membuatnya sulit untuk berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Sedangkan remaja dari keluarga yang tidak harmonis mempunyai kecenderungan untuk memiliki rasa tidak percaya, baik terhadap orangtua maupun calon pasangannya.

Selain itu, anak broken home juga bisa terjerumus ke dalam perilaku buruk seperti menggunakan obat-obatan terlarang, seks di luar nikah, atau minum-minuman keras dan pergaulan bebas lainnya.

4. Kehilangan Figur Teladan
Ditambahkan oleh psikolog Ayoe Sutomo M.Psi., anak broken home merasa tidak ada figur dewasa yang dapat diteladani. Hal ini membuatnya mempunyai pemikiran bahwa tidak ada orang yang bisa dipercayai dan dijadikan 'pegangan' hidup.

"Anak kehilangan teladan atas nilai-nilai dalam keluarga yang menjadikannya kehilangan nilai dalam kehidupannya. Ini membuatnya sedih dan jika tidak ditangani dengan baik dan tepat maka anak dapat merasa kesepian, frustrasi, dan sensitif," jelasnya saat dihubungi Wolipop, Selasa (23/6/2015).

5. Potensi Penyakit Kejiwaan
Penelitian dari London Institute of Psychiatry di 2008 mengatakan bahwa anak yang berasal dari keluarga kurang harmonis berpotensi besar mengidap masalah psikologis seperti skizofrenia. Penyakit ini adalah suatu kondisi di mana seseorang sulit berpikir, mengontrol pikiran, emosi, dan perilaku sehingga ia menarik diri dari kenyataan.

Anak yang ditelantarkan bisa tumbuh di dalam dunia yang penuh ketidakpastian, kebohongan, dan rasa sakit hati akibat ditinggalkan. Pengabaian ini bukan berarti ketika seorang anak dibiarkan sendiri, tetapi juga mengabaikan sang anak dalam menghadapi gejolak batin dalam dirinya.

(int/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads