Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Sudah Dapat Izin Dokter, Wanita Ini Tetap Diusir dari Pesawat karena Hamil

wolipop
Kamis, 12 Feb 2015 14:05 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Daily Record
Jakarta -

Kerry Deane mendapat pengalaman tidak menyenangkan saat hendak pulang pasca berlibur di Tunisia. Wanita asal Inggris ini mengaku dipermalukan oleh staff penerbangan saat dirinya harus menjalani pemeriksaan kehamilan di depan penumpang lainnya. Yang lebih membuatnya kesal pasca pemeriksaan itu, dia, suami dan tiga anaknya diusir dari pesawat.

Daily Record melaporkan kejadian yang dialami Kerry tiga bulan lalu ini. Seperti dikutip Mirror, wanita 32 tahun itu sedang hamil 35 minggu saat liburan ke Tunisia bersama keluarganya. Meskipun kehamilannya sudah cukup besar, dia sudah mendapatkan izin dari dokter bahwa dirinya cukup fit untuk berpergian dan naik pesawat. Dia sampai empat kali melakukan pemeriksaan untuk benar-benar memastikan dirinya dalam keadaan layak berpergian dengan pesawat terbang.

Dalam menjalani liburan ini, Kerry menggunakan jasa pengelola perjalanan ternama di Inggris, Thomson. Dia sudah mempelajari aturan dari biro perjalanan tersebut dan mereka mengizinkan wanita hamil yang usia kandungannya belum 36 minggu untuk terbang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum berangkat ke Tunisia, Kerry juga sudah mengirimkan surat izin dokternya kepada pihak Thomson. Namun kejadian tidak menyenangkan dialaminya saat akan kembali ke Inggris dari Tunisia.

Saat pesawat bersiap akan berangkat, dua dokter mendatanginya dan melakukan pemeriksaan. Dia merasa dipermalukan karena pemeriksaan tersebut dilakukan di depan penumpang lainnya. Yang lebih membuatnya kesal, meskipun berdasarkan hasil pemeriksaan tidak ada tanda-tanda akan melahirkan, dia, suaminya dan ketiga anaknya tetap diminta turun dari pesawat.

Keluarga Kerry terlantar selama berjam-jam di Bandara Enfidha, Tunisia, sebelum akhirnya mendapat penerbangan pengganti ke New Castle. Kota tujuan dari penerbangan tersebut berbeda dari sebelumnya. Kota tersebut jaraknya 150 mil jauhnya dari rumah mereka di Kilsyth, North Lanarkshire. Dalam kondisi hamil dan membawa tiga anak kecil, dia dan suaminya tidak mendapatkan pelayanan sebagaimana mestinya saat terlantar di bandara.

"Cara mereka memperlakukanku sungguh sebuah penghinaan. Kami sampai saat ini belum menerima permintaan maaf dari Thomson atas cara mereka memperlakukan kami. Yang aku inginkan bukan hanya soal kompensasi. Aku hanya ingin memastikan kejadian ini tidak dialami wanita hamil lainnya di masa depan," kata Kerry.

Juru bicara dari Thomson saat dikonfirmasi mengajukan permohonan maaf atas kejadian yang dialami Kerry. Mereka beralasan, penerbangan Kerry dari Tunisia ke Inggris dijalankan oleh pihak ketiga, bukan mereka, sehingga aturannya menjadi berbeda.

"Karena setiap maskapai memiliki kebijakan yang berbeda-beda mengenai terbang dalam kondisi hamil, kami menyarankan Ms Deane untuk bicara langsung dengan pihak maskapai yang bersangkutan untuk menghindari hal serupa terjadi," ujar pihak Thomson.

(eny/fer)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads