Experential Learning, Metode Mendidik Anak yang Serius Tapi Santai
Setiap orangtua tentunya ingin memberikan segala yang terbaik bagi buah hati, termasuk soal pendidikan. Demi membantu anak menuju kesuksesan saat dewasa nanti, tak sedikit orangtua yang membekalinya dengan memberikan berbagai pembelajaran dan pemahaman. Misalnya dengan mengikutkannya les atau menyekolahkan di lembaga pendidikan berkualitas baik. Psikolog anak Ratih Ibrahim, MM. Psi., menilai cara mendidik anak seperti ini kurang efektif jika hanya dilakukan secara lisan, tanpa dibarengi dengan perbuatan atau yang lebih dikenal dengan metode experential learning.
Ratih menjelaskan, experential learning adalah proses pembelajaran yang membangun pengetahuan di dalam pikiran anak melalui aktivitas yang langsung dialaminya. Pada metode ini, orangtua diharapkan mampu mengajak anak untuk merasakan proses pembelajaran dan menjelaskan tahap-tahap yang terjadi di dalamnya sehingga sesuatu yang abstrak di pikiran anak-anak dapat menjadi nyata.
Ibu dua anak ini kemudian memberi contoh kasus pada anak-anak yang mengalami kesulitan makan dengan menu yang sehat. Ia mengatakan, hal ini tidak menjadi masalah, namun yang harus ditekankan adalah proses menuju pembuatan makanannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wanita kelahiran 1966 ini juga menambahkan, proses pembelajaran tidak hanya sampai di situ. Ajak juga sang anak membantu memasak di dapur, mintalah ia untuk melakukan hal-hal kecil yang tidak membahayakan dan tetap dalam pengawasan orangtua. Dengan demikian, sang anak dapat mengetahui bahwa proses menyiapkan makanan tidaklah mudah sehingga mereka akan tergerak untuk makan dengan menu yang sehat tanpa paksaan dari orangtua.
Lebih lanjut, pendiri Conseling and Development Center PT Personal Growth itu menjelaskan, experential learning akan sangat efektif apabila diterapkan pada anak sejak usia dini. Semakin sering metode pembelajaran ini dilakukan hasilnya akan semakin efektif. Meskipun terkesan lebih banyak bermain dan bersenang-senang, proses belajar juga tetap ada.
Lulusan fakultas psikologi Universitas Indonesia ini menyarankan, dalam menerapkan experential learning pada buah hati sebaiknya perhatikan juga unsur keselamatan dan patokan usia sang anak. Dalam proses memasak misalnya, apabila sang anak masih berusia tiga tahun tidak mungkin ia diajarkan menyalakan kompor. Sebaiknya tunggu saat usianya mencapai enam atau tujuh tahun.
"Anak umur lima atau enam tahun diajarkan memotong sayuran pakai pisau? Ya nggak mungkin lah. Bahaya sekali. Ganti dengan pisau plastik yang tidak tajam mungkin nggak apa-apa," katanya.
Ratih berharap orangtua yang menerapkan metode ini dapat membuat sang anak menjadi lebih menghargai proses pembelajaran terhadap sesuatu. Karena secara tak langsung, sang anak akan mengingat terus tahapan-tahapan yang telah dilaluinya sehingga akan terbawa sepanjang hidupnya. Tidak hanya itu saja, experential learning ini juga dapat membuat mereka menjadi pribadi yang tangguh dan bisa menjawab tantangan zaman. (int/hst)
Pakaian Wanita
Jaket Boxy untuk Looks Minimalis! Newburry Jacket yang Nyaman di Cuaca Tropis
Kesehatan
Bye Kusam! Suplemen Harian yang Bikin Kulit Tetap Sehat dan Lembap Saat Ramadan
Kesehatan
Anti Lemas Saat Puasa! Ini Rekomendasi Suplemen Tambah Darah yang Bikin Ramadan Lebih Fit
Kesehatan
Stop Andalkan Sikat Gigi! Ini Cara Biar Napas Tetap Fresh Saat Puasa
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Sosok Artis Malaysia Mantan Jefri Nichol, Kini Ngaku Sudah Move On
Viral! Tradisi Sangon Manten, Uang Kondangan Diberi Terang-terangan
Punya Pasangan Lahir Februari? Ini Sifat Aslinya Menurut Zodiak
40 Ucapan Valentine untuk LDR Dalam Bahasa Indonesia dan Inggris











































