Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Liputan Khusus Resolusi 2014

Agar Keuangan 2014 Tak Berantakan Saat Punya Anak Pertama

wolipop
Jumat, 10 Jan 2014 18:07 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok. Thinkstock
Jakarta - Ketika baru dikaruniai anak pertama, sebagian besar orangtua cenderung memanjakan buah hatinya itu. Euforia memiliki anak untuk pertamakalinya membuat orangtua tidak ragu membelanjakan uang mereka untuk keperluan si bayi. Jika memungkinkan, semua yang terbaik diberikan pada anak pertama.

Orangtua sebenarnya sudah tahu perilaku mereka 'memanjakan' anak ini bisa berdampak pada kondisi keuangan. Pakar keuangan Lisa Soemarto mengatakan, ketika orangtua tidak memilih mana yang lebih penting dibeli untuk keperluan bayi, keuangan bisa terlalu boros.

"Yang penting diutamakan itu bukan penampilan, tapi gizi yang nomer satu," ujar wanita yang menjabat sebagai Senior Partner dan Advisor di Akbar's Financial Check-up itu saat berbincang dengan wolipop di kafe Pand'Or, Jalan Wijaya 1, Jakarta Selatan, Selasa (7/1/2014)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun anak pertama, jangan sungkan untuk berhemat dengan menerima 'sumbangan' pakaian atau keperluan bayi lainnya dari saudara dan teman. Selama 'sumbangan' benda yang diberikan itu masih layak dipakai, Anda bisa menggunakannya dan pastinya akan lebih jauh menghemat pengeluaran.

"Kalau pikirannya ingin membahagiakan anak, bisa membahagiakan mereka dengan menyisihkan sebagian uang untuk barang-barang konsumtif ini, lebih untuk masa depannya. Lebih baik sekarang sudah dipikirkan masa depannya," ucap Lisa.

Lisa menyebutkan lagi, orangtua sebaiknya menyisihkan pendapatan mereka untuk menyiapkan dana pendidikan anak. Dana pendidikan ini harus dipersiapkan sedini mungkin.

Apakah memiliki anak ini segala sesuatunya memang harus direncanakan? Dalam pandangan Lisa yang seorang perencana keuangan, memang lebih baik perencanaan tersebut sudah dipikirkan sebelum anak lahir. Hal itu karena justru di masa anak-anak tersebut kebutuhan mereka lebih tinggi. Jangan sampai malah setelah memiliki anak kondisi keuangan memburuk.

Perencanaan mempunyai anak ini semakin penting dilakukan saat pasangan ingin memiliki anak kedua, ketiga dan seterusnya. "Bisa dihitung kan. Kalau misalnya nggak cukup, jalan keluarnya adalah menunda," katanya.

Meski demikian menunda tidak selalu menjadi satu-satunya jalan keluar. Menambah penghasilan dengan berwirausaha misalnya juga dapat menjadi alternatif agar kondisi keuangan tetap tercukupi. Hanya saja ketika berpikir untuk mencari tambahan penghasilan, khusus untuk wanita perlu dipertimbangkan bisakah hal tersebut dijalani.

"Saat hamil tua dan mengasuh anak pertama, otomatis nggak maksimal kerjanya. Itu juga mesti dipikirin siap atau nggak. Oleh karena itu perlu direncanakan jadi bisa tahu akan cukup atau nggak. Kalau nggak cukup bagaimana jalan keluarganya," urai Trainer International Association of Registered Financial Consultans (IARFC) itu.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads