Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Kisah Ibu yang Tidak Sanggup Hadapi Anaknya yang Menderita ADHD

wolipop
Rabu, 22 Mei 2013 17:45 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok. ist
Jakarta -

1. Pengakuan

Dalam acara bincang-bincang di tv, ibu dari Ryan, 10 tahun mengaku putranya berperilaku seperti binatang. ADHD yang diderita Ryan membuat dirinya menyerang Jenny maupun orang lain tanpa sebab. Takut putranya akan melakukan hal-hal yang lebih menakutkan, ia berandai jika putranya adalah seekor anjing, ia akan segera menyuntiknya mati.

2. Psikologis

Namun sebagai seorang ibu dan bukan pemilik hewan peliharaan, ia tentu saja tidak akan berbuat sekeji itu. Dalam wawancara, ia berpesan kepada audiens agar jangan menghakimi pernyataannya yang mengejutkan tadi. Ia menghimbau agar audiens membayangkan berada di posisi dirinya sebelum mendengarkan kisahnya. Ia sendiri pun mengaku bahwa dirinya juga penderita ADHD dan baru mengetahuinya di usia 40an.

3. Curhat

"Ketika anjingmu bertingkah (kejam) dan bisa menyerangmu kapan saja, kamu punya pilihan (mengakhiri hidupnya). Aku tidak bisa hidup tanpa (anakku (Ryan) namun menjadi ibunya, aku tidak punya pilihan," curhatnya di sesi wawancara. Selain Ryan, Jenny juga memiliki tiga anak dari pernikahan sebelumnya, yang berusia 25, 23 dan 19. Ketiganya juga didiagnosa menderita ADHD namun dalam skala yang jauh lebih kecil.

4. Khawatir

Berbincang dengan presenter Holly Willoughby dan psikolog Phillip Schofield, Jenny menjelaskan putranya terlihat seperti anak sepuluh tahun lainnya yang masih polos dan baik-baik, namun ia memiliki dua sisi kepribadian. Suatu saat ia bisa memukul, meninju wajah, mencakar dan tindakan kekerasan lainnya kepada orang lain. Ia khawatir jika beranjak dewasa, putranya tidak bisa mengendalikan diri dan melakukan perbuatan yang lebih menyeramkan.

5. Dedikasi

Saat ini Jenny telah berhenti bekerja dan mendedikasikan waktunya untuk mengurus putranya Ryan. Perceraian yang dialami dirinya juga akibat dari perilaku Ryan yang semakin tidak terkontrol dan mencitrakan dirinya sebagai ibu yang buruk. "Berganti rutinitas bisa membuat putraku marah namun kadang biasa saja. Sangat tidak terduga aksi-aksinya," katanya. Iapun menghimbau para ibu untuk meminta bantuan orang lain jika mengalami hal seperti ini.
(fer/fer)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads