Ketimbang Pria, Ibu Bekerja Lebih Jago Multitasking
wolipop
Senin, 05 Des 2011 18:43 WIB
Jakarta
-
Jangan meremehkan kemampuan ibu bekerja. Penelitian terbaru pun menunjukkan, ketimbang para ayah yang juga bekerja, ibu bekerja lebih jago multitasking.
Penelitian yang dilakukan oleh Department of Sociology and Anthropology di Bar-Ilan University, Israel itu menunjukkan, wanita menghabiskan 48,3 jam seminggu untuk multitasking. Sementara pria hanya 38,9 jam seminggu.
Penelitian tersebut juga mengungkapkan, para ibu melakukan pekerjaan multitasking lebih dari 40% waktunya sepanjang hari. Namun ibu bekerja menganggap multitasking itu bukan sebagai sesuatu yang positif. Mereka justru merasa hal itu sebagai sesuatu kegiatan yang membuat stres.
"Penelitian kami menunjukkan wanita paling jago multitasking. Penelitian juga memperlihatkan adanya perbedaan besar dari pengalaman emosional para ibu dan ayah saat melakukan multitasking," jelas Shira Offer, pimpinan penelitian tersebut.
"Bagi ibu, multi tasking merupakan sebuah pengalaman negatif, sedangkan bagi ayah sebaliknya," tambahnya.
Para ibu melaporkan mereka merasa stres ketika melakukan multitasking di rumah dan di tempat publik. Sementara bagi para melakoni multitasking di kedua tempat itu justru menjadi sebuah pengalaman positif.
Penelitian Shira dan timnya juga melihat perbedaan aktivitas yang dilakukan ayah dan ibu saat multitasking. "Saat multitasking di rumah, misalnya, ketimbang ayah, ibu akan melakoni pekerjaan mengurus rumah dan anak, yang tentu saja menguras tenaga. Sedangkan ayah, melakukan aktivitas yang berbeda, seperti bicara dengan pihak ketiga atau mengurus dirinya sendiri," jelasnya.
Penelitian tersebut menunjukkan, pada ibu bekerja, 52,7% kegiatan multitaskingnya adalah berurusan dengan mengurus rumah. Sementara para ayah, hanya 42,2%. Para ibu bekerja, 35,5% multitasking-nya adalah mengurus anak, sedangkan ayah hanya 27,9%.
Barbara Schneider yang juga ikut dalam penelitian itu mengatakan, ada sebabnya kenapa multitasking dianggap sebagai pengalaman negatif oleh para ibu. Hal tersebut karena adanya penilaian dan kritik dari orang-orang.
"Kemampuan mereka untuk memenuhi tugas sebagai seorang ibu yang baik bisa dengan mudahnya dinilai dan dikritik saat melakukan multitasking. Sehingga hal itu membuat ibu merasa stres," jelas Profesor Sosiologi di Universitas Michigan itu.
Professor Shira menambahkan, para ayah tidak mendapatkan tekanan atau penilaian tersebut. "Meskipun mereka juga diharapkan terlibat dalam mengurus anak dan rumah, para ayah tetap dianggap sebagai kepala rumah tangga," tandasnya.
(eny/kik)
Penelitian yang dilakukan oleh Department of Sociology and Anthropology di Bar-Ilan University, Israel itu menunjukkan, wanita menghabiskan 48,3 jam seminggu untuk multitasking. Sementara pria hanya 38,9 jam seminggu.
Penelitian tersebut juga mengungkapkan, para ibu melakukan pekerjaan multitasking lebih dari 40% waktunya sepanjang hari. Namun ibu bekerja menganggap multitasking itu bukan sebagai sesuatu yang positif. Mereka justru merasa hal itu sebagai sesuatu kegiatan yang membuat stres.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagi ibu, multi tasking merupakan sebuah pengalaman negatif, sedangkan bagi ayah sebaliknya," tambahnya.
Para ibu melaporkan mereka merasa stres ketika melakukan multitasking di rumah dan di tempat publik. Sementara bagi para melakoni multitasking di kedua tempat itu justru menjadi sebuah pengalaman positif.
Penelitian Shira dan timnya juga melihat perbedaan aktivitas yang dilakukan ayah dan ibu saat multitasking. "Saat multitasking di rumah, misalnya, ketimbang ayah, ibu akan melakoni pekerjaan mengurus rumah dan anak, yang tentu saja menguras tenaga. Sedangkan ayah, melakukan aktivitas yang berbeda, seperti bicara dengan pihak ketiga atau mengurus dirinya sendiri," jelasnya.
Penelitian tersebut menunjukkan, pada ibu bekerja, 52,7% kegiatan multitaskingnya adalah berurusan dengan mengurus rumah. Sementara para ayah, hanya 42,2%. Para ibu bekerja, 35,5% multitasking-nya adalah mengurus anak, sedangkan ayah hanya 27,9%.
Barbara Schneider yang juga ikut dalam penelitian itu mengatakan, ada sebabnya kenapa multitasking dianggap sebagai pengalaman negatif oleh para ibu. Hal tersebut karena adanya penilaian dan kritik dari orang-orang.
"Kemampuan mereka untuk memenuhi tugas sebagai seorang ibu yang baik bisa dengan mudahnya dinilai dan dikritik saat melakukan multitasking. Sehingga hal itu membuat ibu merasa stres," jelas Profesor Sosiologi di Universitas Michigan itu.
Professor Shira menambahkan, para ayah tidak mendapatkan tekanan atau penilaian tersebut. "Meskipun mereka juga diharapkan terlibat dalam mengurus anak dan rumah, para ayah tetap dianggap sebagai kepala rumah tangga," tandasnya.
(eny/kik)
Pakaian Pria
Rekomendasi 3 Jaket Bomber Hitam Pria Andalan Paling Stylish Buat Upgrade OOTD Kamu!
Hobi dan Mainan
VITAMIN KUCING Growth Hack by Petglow x Butter Belly, Solusi Praktis Bikin Anabul Makin Lahap & Berisi!
Pakaian Pria
Prabu Rudi Black White Sneakers, Sepatu Baru Pria Favorit untuk Menyambut Chinese New Year 2026 yang Wajib Kamu Beli!
Perawatan dan Kecantikan
Makeup Heavy saat Lebaran Bikin Kulit Breakout? Ini Penyebab yang Sering Diremehkan
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Most Popular
1
Potret Baby Kaia Anak Steffi-Nino Fernandez, Kini Wajahnya Sudah Diungkap
2
Angel Karamoy Rayakan Valentine Bareng Gusti Ega, Kado Mewahnya Bikin Salfok
3
8 Pemotretan Mesra Olla Ramlan & Tristan Molina Untuk Sambut Hari Valentine
4
7 Foto Sarwendah Pemotretan Imlek 2026, Tampil Anggun Serba Merah
5
Sinopsis KOKUHO, Film Jepang Terlaris yang Tayang Lebih Awal di Indonesia
MOST COMMENTED











































