Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Beda Skin Booster dan Collagen Stimulator, Kenali Bahan dan Manfaatnya

Kiki Oktaviani - wolipop
Senin, 24 Agu 2026 17:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi skin booster
IlustrasFoto: Getty Images/seenad
Jakarta -

Skin booster dan collagen stimulator sama-sama populer sebagai treatment untuk menjaga kualitas kulit. Meski sering dianggap serupa, keduanya sebenarnya memiliki cara kerja dan tujuan yang berbeda.

Menurut dr Dwindi Saptania, M.Biomed (AAM), Direktur Medis Klinik Evitderma, skin booster pada dasarnya memasukkan bahan tertentu ke dalam kulit untuk memberikan manfaat seperti hidrasi, memperbaiki tekstur, hingga membantu mengatasi pigmentasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Skin booster itu sebenarnya sudah lama beredar. Sekarang trennya justru mulai bergeser ke kolagen," ujar dr Dwindi dalam acara 19 Tahun Evitderma di kliniknya di Hang Lekir, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Skin Booster, Fokus pada Hidrasi Kulit

Jenis skin booster yang paling umum menggunakan hyaluronic acid (HA). Berbeda dengan filler, HA pada skin booster umumnya bersifat non-crosslink sehingga lebih mudah menyebar di kulit.

ADVERTISEMENT

"Kalau non-crosslink, dia akan buyar," jelas dr Dwindi.

Setelah disuntikkan, bahan tersebut tidak bertahan sebagai gumpalan atau memberikan volume seperti filler, melainkan menyebar dan memberikan manfaat terutama untuk hidrasi kulit.

Beberapa skin booster juga memiliki tambahan bahan lain, seperti vitamin, asam amino, peptida, atau bahan yang ditujukan untuk membantu masalah pigmentasi. Menurut dr Dwindi, ada pula skin booster yang memang dirancang dengan kombinasi bahan berbeda untuk memberikan manfaat spesifik pada kulit. Ada pula skin booster dengan HA crosslink. Jenis ini memiliki karakter yang sedikit berbeda karena dapat memberikan efek volumizing ringan. Karena memiliki ikatan yang membuat HA tidak langsung menyebar, penyuntikannya perlu dilakukan lebih dalam atau menggunakan teknik tertentu.

"Dia skin booster, tapi sedikit sifatnya seperti filler," kata dr Dwindi.

PN dan PDRN Juga Termasuk Skin Booster

Skin booster tidak selalu berbahan HA. Ada pula yang menggunakan PN (polynucleotide) dan PDRN (polydeoxyribonucleotide). Keduanya sering dikenal masyarakat sebagai skin booster berbasis DNA salmon. Menurut dr Dwindi, material yang digunakan bukan protein salmon, melainkan DNA yang telah diproses.

"Salmonnya bukan diambil proteinnya, DNA-nya saja," jelasnya. Ia juga menjelaskan bahwa kategori ini termasuk perkembangan skin booster yang muncul setelah penggunaan HA.

Karena skin booster bekerja terutama untuk meningkatkan kualitas kulit, treatment ini umumnya membutuhkan pengulangan untuk mempertahankan hasil.

"Skin booster kan pelembap, memang cepat hilang, harus ulang lagi berkali-kali," ujar dr Dwindi.

Cell BoosterCell Booster Foto: dok. STI

Cellbooster, Skin Booster dari Swiss

Salah satu contoh skin booster yang kini tersedia di Evitderma adalah Cellbooster, produk injeksi asal Swiss yang menggunakan teknologi CHAC (Complex Hyaluronic Acid Compounds) yang dipatenkan. Teknologi tersebut mengombinasikan HA non-crosslink dengan bahan aktif seperti asam amino dan vitamin dalam kompleks yang dirancang untuk membantu mempertahankan stabilitas bahan.

Cellbooster memiliki beberapa varian dengan fokus yang berbeda, termasuk Glow, Lift, dan Shape. Glow ditujukan untuk kebutuhan seperti hidrasi, kulit kusam, hiperpigmentasi, dan warna kulit yang tidak merata. Lift lebih diarahkan pada kelembapan, elastisitas, dan kualitas kulit, sementara Shape digunakan untuk concern tertentu seperti penumpukan lemak lokal dan kulit yang tampak kendur.

Dalam penjelasan dr Dwindi, ketiga jenis tersebut masih berada dalam keluarga skin booster, tetapi memiliki target yang berbeda.

"Glow, skin booster. Lift, masih family skin booster untuk lifting. Shape, hybrid antara meso, tapi ada pengencangan kulit," jelasnya.

Collagen Stimulator

Jika skin booster memasukkan bahan untuk memberikan manfaat langsung pada kulit, collagen stimulator bekerja dengan merangsang tubuh membentuk kolagen baru. Beberapa bahan yang digunakan dalam kategori ini antara lain PDLLA, PLLA, dan kalsium.

Menurut dr Dwindi, mekanismenya terjadi karena tubuh merespons bahan yang masuk sebagai benda asing. "Ada benda asing masuk ke muka, tubuh bereaksi. Kolagennya kemudian bangun semua," jelasnya. Respons tersebut yang kemudian memicu terbentuknya kolagen baru.

Dengan mekanisme tersebut, collagen stimulator bukan sekadar memberikan hidrasi. Treatment ini lebih diarahkan untuk merangsang pembentukan kolagen sehingga dapat membantu memperbaiki kualitas dan kekencangan kulit.

Collagen Stimulator Perlu Teknik yang Tepat

Meski menawarkan manfaat stimulasi kolagen, treatment ini juga memiliki tantangan tersendiri. Menurut dr Dwindi, penempatan bahan, dosis, hingga proses pengenceran harus dilakukan dengan tepat.

"Kalau salah taruh, placement-nya terlalu naik di atas, bisa jendol. Harus pastikan dokternya bersertifikasi," jelasnya.

Ia juga mengingatkan konsumen untuk memastikan produk yang digunakan asli dan memiliki jalur distribusi resmi.

"Sekarang banyak yang black market, campur-campur tidak tahu apa, akhirnya celaka kulitnya," kata dr Dwindi.

Dalam acara tersebut, dr Dwindi juga memperkenalkan OligioX dengan pendekatan yang berbeda dari skin booster dan collagen stimulator. OligioX merupakan generasi terbaru dari Oligio Monopolar Radio Frequency (RF) asal Korea Selatan.

OligioXOligioX Foto: dok. STI

Teknologi ini menggunakan energi Monopolar RF 6,78 MHz yang dihantarkan secara terkontrol ke jaringan kulit untuk mendukung proses collagen remodeling dan pembentukan kolagen baru.

Berbeda dari skin booster dan collagen stimulator yang memasukkan bahan melalui injeksi, OligioX bekerja menggunakan energi RF. Teknologi ini ditujukan untuk concern seperti skin lifting dan tightening, peremajaan kulit, garis halus, kerutan, pori-pori, hingga kulit yang tampak kusam.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads