ADVERTISEMENT

'Silent Cut', Tren Nyalon di Jepang Terinspirasi Pandemi COVID-19

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop Rabu, 09 Nov 2022 12:45 WIB
Young woman at a hair salon and cutting hair. Ilustrasi wanita potong rambut di salon. Foto: Dok. iStock
Jakarta -

Sudah jadi hal lumrah jika hairstylist mengajak ngobrol pelanggannya saat potong rambut agar tidak bosan atau untuk menghindari rasa canggung. Tapi ternyata tidak semua orang suka mengobrol ketika rambutnya digunting atau ditata.

Terlebih lagi di masa pandemi, makin banyak orang lebih suka nyalon tanpa harus berbincang dengan hairstylist atau staf yang menangani rambutnya. Seperti di Jepang, kini muncul tren servis 'Silent Cut' yang kian hari kian populer.

'Silent Cut' merupakan istilah yang digunakan salon-salon di Jepang saat mereka melayani pelanggan tanpa bicara, atau hanya bicara seperlunya. Menurut sebuah survei, 70 persen orang lebih memilih mendapat pelayanan seperti ini.

Menurut mereka, tidak saling berbicara saat sedang menggunting, mewarnai atau merawat rambut terasa lebih relaks. Pelayanan rambut 'Silent Cut' ini juga memberi waktu bagi para pelanggan untuk istirahat sejenak saat rambut mereka ditata, ketimbang harus menghabiskan energi untuk mendengar informasi yang tidak terlalu penting atau sekadar basa-basi.

Woman on mobile phone when having hair coloring process in a hair salonIlustrasi wanita mewarnai rambut di salon. Foto: Getty Images/iStockphoto/Enes Evren

"Bagus sekali! Saya sudah menunggu servis ini selama 20 tahun. Karena mengobrol itu sangatlah melelahkan, sehingga saya hanya potong rambut 3 tahun sekali," komentar salah satu pelanggan di media sosial.

"Saya terselamatkan karena mengobrol dengan penata rambut sangat merepotkan," ujar pelanggan lainnya.

Menariknya, para hairstylist juga merasakan hal yang sama. Mereka lebih memilih diam saat bekerja dan baru bicara ketika pelanggan yang mengajaknya berbincang lebih dulu.

ilustrasi cuci rambut di salonIlustrasi cuci rambut di salon. Foto: Thinkstock

"Saya mengajak ngobrol klien karena dulu diajari untuk banyak berbincang dan mencari informasi tentang preferensi mereka tentang rambut. Tapi fokus pada topik-topik yang kurang saya sukai membuat saya sangat tidak nyaman, jadi saya memutuskan mengutamakan privasi mereka dulu," tutur seorang hairstylist, seperti dikutip dari Oddity Central.

Tren 'Silent Cut' ini bermula saat awal pandemi COVID-19, di mana beberapa salon di Tokyo, Jepang, menerapkannya untuk mencegah penyebaran virus lewat droplet. Langkah ini juga dibuat berdasarkan imbauan pemerintah Jepang yang membuat kebijakan 'tanpa percakapan' atau 'sedikit saja percakapan' di sekolah-sekolah, toko dan supermarket.

Sedikit atau tidak bicara berarti mengurangi risiko penularan virus Corona. Kebijakan itu pun dengan patuh diikuti warga Jepang, termasuk salon dan tempat pangkas rambut, yang ternyata jadi sebuah kebiasaan baru hingga kini.



Simak Video "Tren Mukena yang Diminati Jelang Lebaran, Apa Saja?"
[Gambas:Video 20detik]
(hst/hst)