Makeup Artist Ungkap Nilai Kerugian Pasca Kosmetik Dihancurkan Petugas BPOM
Hestianingsih - wolipop
Selasa, 05 Des 2017 16:05 WIB
Jakarta
-
Makeup artist asal Papua curhat di social media perihal pengalaman tidak menyenangkan yang ia alami dengan petugas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Rabu (29/11/2017) malam lalu. Wanita bernama Oktavia Tombokan ini menyatakan, beberapa produk kosmetik yang biasa ia gunakan untuk merias klien hancur di tangan petugas BPOM.
Curhatan dan postingan Oktavia Tombokan pun menjadi viral dan memicu para makeup artist lainnya bereaksi. Kepada Wolipop, wanita yang berdomisili di Timika, Papua, tersebut mengatakan sedikitnya belasan produk kosmetik miliknya dihancurkan petugas BPOM yang mendatangi rukonya.
"Ada 13 item yang dikembalikan, 12 produk masih ditahan dan belasan lainnya dihancurkan di depan mata saya sendiri," tutur Oktavia saat dihubungi Wolipop, Sabtu (2/12/2017).
Makeup artist sekaligus pemilik wedding organizer itu mengatakan, sebagian produk kosmetik yang dihancurkan dibelinya di luar negeri, hasil titip beli di teman dan beli melalui online shop. Oktavia belum menghitung nilai kerugian dari penghancuran kosmetik oleh petugas BPOM tersebut, namun diperkirakan cukup besar.
"Yang dihancurkan ada belasan, tapi jumlah kerugian belum saya rupiahkan. Mungkin hampir mencapai belasan juta rupiah. Sedangkan item yang masih disita Rp 15 jutaan," kata Oktavia.
Dari postingan foto di Instagram pribadinya, kebanyakan produk yang hancur berupa palet atau set makeup. Seperti eyeshadow, contouring dan lipstik dari berbagai brand.
"Untuk barang yang disita, saya harus bisa menunjukkan bukti-bukti seperti nota pembelian, label, foto atau surat keterangan. Dikasih waktu 14 hari tapi kantor mereka di Jayapura sedangkan tempat saya di Timika. Saya belum tahu langkah ke depannya harus bagaimana," cerita Oktavia.
Beberapa alat kosmetik miliknya ada yang berhasil diselamatkan setelah perdebatan panjang dengan para petugas. Alat kosmetik yang berhasil diselamatkan dibelinya dari toko-toko resmi yang ada di mal dan pusat perbelanjaan. Namun bukan tanpa perjuangan, karena awalnya kosmetik yang akhirnya tidak jadi dimusnahkan itu hampir masuk dalam daftar barang yang harus dihancurkan.
"Saya beli di mal gede di Indonesia, kok. Awalnya mau dimusnahkan juga tapi saya mohon-mohon dan saya kasih buktinya. Saya sampai telepon ke orang toko agar bisa membantu saya," jelasnya.
Wanita yang telah menjalani usaha wedding organizer sejak 2011 ini menyayangkan langkah petugas BPOM yang membongkar produk-produk kosmetiknya dan langsung menghancurkan tanpa pembinaan terlebih dahulu.
"Mereka datang membawa surat tugas, bilangnya untuk pembinaan, pengecekan barang-barang kosmetik yang digunakan layak atau tidak, kedaluwarsa atau tidak. Kalau pembinaan berarti bisa kasih kesempatan untuk buat pernyataan atau apa gitu," lanjut Oktavia.
Kini Oktavia masih berusaha mencari cara agar 13 produk kosmetik yang masih disita di kantor BPOM bisa diambil kembali. (hst/hst)
Curhatan dan postingan Oktavia Tombokan pun menjadi viral dan memicu para makeup artist lainnya bereaksi. Kepada Wolipop, wanita yang berdomisili di Timika, Papua, tersebut mengatakan sedikitnya belasan produk kosmetik miliknya dihancurkan petugas BPOM yang mendatangi rukonya.
"Ada 13 item yang dikembalikan, 12 produk masih ditahan dan belasan lainnya dihancurkan di depan mata saya sendiri," tutur Oktavia saat dihubungi Wolipop, Sabtu (2/12/2017).
Foto: Instagram |
Makeup artist sekaligus pemilik wedding organizer itu mengatakan, sebagian produk kosmetik yang dihancurkan dibelinya di luar negeri, hasil titip beli di teman dan beli melalui online shop. Oktavia belum menghitung nilai kerugian dari penghancuran kosmetik oleh petugas BPOM tersebut, namun diperkirakan cukup besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari postingan foto di Instagram pribadinya, kebanyakan produk yang hancur berupa palet atau set makeup. Seperti eyeshadow, contouring dan lipstik dari berbagai brand.
"Untuk barang yang disita, saya harus bisa menunjukkan bukti-bukti seperti nota pembelian, label, foto atau surat keterangan. Dikasih waktu 14 hari tapi kantor mereka di Jayapura sedangkan tempat saya di Timika. Saya belum tahu langkah ke depannya harus bagaimana," cerita Oktavia.
Foto: Instagram |
Beberapa alat kosmetik miliknya ada yang berhasil diselamatkan setelah perdebatan panjang dengan para petugas. Alat kosmetik yang berhasil diselamatkan dibelinya dari toko-toko resmi yang ada di mal dan pusat perbelanjaan. Namun bukan tanpa perjuangan, karena awalnya kosmetik yang akhirnya tidak jadi dimusnahkan itu hampir masuk dalam daftar barang yang harus dihancurkan.
"Saya beli di mal gede di Indonesia, kok. Awalnya mau dimusnahkan juga tapi saya mohon-mohon dan saya kasih buktinya. Saya sampai telepon ke orang toko agar bisa membantu saya," jelasnya.
Wanita yang telah menjalani usaha wedding organizer sejak 2011 ini menyayangkan langkah petugas BPOM yang membongkar produk-produk kosmetiknya dan langsung menghancurkan tanpa pembinaan terlebih dahulu.
"Mereka datang membawa surat tugas, bilangnya untuk pembinaan, pengecekan barang-barang kosmetik yang digunakan layak atau tidak, kedaluwarsa atau tidak. Kalau pembinaan berarti bisa kasih kesempatan untuk buat pernyataan atau apa gitu," lanjut Oktavia.
Kini Oktavia masih berusaha mencari cara agar 13 produk kosmetik yang masih disita di kantor BPOM bisa diambil kembali. (hst/hst)











































Foto: Instagram
Foto: Instagram