Lipstik Lokal Jadi Incaran
Walau Jadi Tren, Lipstik Lokal Tetap Ada Kekurangannya. Ini Dia!
Intan Kemala Sari - wolipop
Jumat, 25 Sep 2015 17:12 WIB
Jakarta
-
Eksistensi lipstik produksi Indonesia kini bangkit kembali seiring dengan banyaknya para konsumen yang menggunakan produk kecantikan tersebut. Tak heran, berbagai lipstik lokal ini mencuri hati beberapa wanita karena harganya yang relatif murah dan masih terjangkau. Meski demikian, ada beberapa hal yang menjadi perhatian para pecinta dunia kecantikan sebelum membeli lipstik lokal. Apa saja?
1. Pilihan Warna Sedikit
Blogger kecantikan Irene Widya memaparkan, pilihan warna yang masih sedikit menjadi salah satu kekurangan dari lipstik lokal. Meskipun saat ini ada beberapa brand kosmetik yang memang memproduksi lebih dari enam varian warna, namun hal tersebut masih dirasa kurang.
"Memang varian warnanya sudah lebih banyak tapi aku masih merasa kurang. Karena warna-warna yang ekstrem tidak diproduksi soalnya jarang peminatnya," ujar wanita yang akrab disapa Irene saat berbicang dengan Wolipop, Selasa, (22/9/2015).
Menurutnya, beberapa brand kosmetik tertentu rata-rata hanya bermain 'aman'. Pilihan warna yang disajikan berkisar antara warna merah dan nude saja.
2. Bahan Pengawet
Menurut wanita yang memulai kariernya sebagai blogger sejak 2013 lalu, salah satu minus dari lipstik lokal adalah dari proses produksinya. "Sepertinya dalam proses produksinya, masih jarang produk kosmetik Indonesia yang cruelty free dan vegan. Satu lagi, dalam kandungannya juga masih ada paraben," katanya.
Paraben adalah bahan pengawet yang banyak ditemukan pada produk kosmetik. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), paraben memang dibolehkan untuk dipakai dalam kosmetik asalkan memenuhi batasan penggunaan yang diperbolehkan. Penggunaan paraben dalam sebuah produk dianggap aman jika tidak lebih dari 25%. Namun pada produk kosmetik umumnya, kadar paraben berkisar antara 0,01% hingga 0,3%.
Sedangkan Cruelty free adalah produk kosmetik yang tidak 'mempekerjakan' hewan sebagai bahan percobaannya dan vegan merupakan kosmetik yang tidak mengandung unsur hewani sama sekali, melainkan menggunakan bahan yang semuanya berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Baca Juga : 50 Inspirasi Model Kebaya
3. Kemasan Ringkih
Shella Sanjaya, blogger kecantikan lainnya mengatakan, kemasan lipstik menjadi salah satu kekurangan dari lipstik matte. Ada brand lipstik yang menggunakan kemasan plastik yang cukup tipis sehingga lebih rentan rusak.
"Kemasannya yang tipis itu bikin lipstik gampang lepas atau puteran leher lipstiknya cepat rusak," tutur Shella saat diwawancara pada hari yang sama.
4. Aroma Kurang Menyenangkan
Meski beberapa lipstik produksi dalam negeri ini memiliki aroma manis mirip seperti permen dan buah-buahan, namun beberapa di antaranya masih beraroma yang kurang menyenangkan. Beberapa lipstik ada yang beraroma seperti krayon, lilin, atau bahkan wangi bahan pengawet masih kental terasa.
5. Sulit Dicari
Beberapa lipstik lokal seperti Wardah dan PAC masih bisa ditemukan di beberapa pusat perbelanjaan atau mall. Namun hal itu tidak berlaku bagi brand-brand seperti Purbasari, Inez, dan Mineral Botanica. Brand kosmetik lokal ini agak sulit ditemukan hingga Anda harus pergi ke toko-toko kecantikan yang terdapat di dalam pasar tradisional atau di distributor khusus.
(itn/itn)
1. Pilihan Warna Sedikit
Blogger kecantikan Irene Widya memaparkan, pilihan warna yang masih sedikit menjadi salah satu kekurangan dari lipstik lokal. Meskipun saat ini ada beberapa brand kosmetik yang memang memproduksi lebih dari enam varian warna, namun hal tersebut masih dirasa kurang.
"Memang varian warnanya sudah lebih banyak tapi aku masih merasa kurang. Karena warna-warna yang ekstrem tidak diproduksi soalnya jarang peminatnya," ujar wanita yang akrab disapa Irene saat berbicang dengan Wolipop, Selasa, (22/9/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
2. Bahan Pengawet
Menurut wanita yang memulai kariernya sebagai blogger sejak 2013 lalu, salah satu minus dari lipstik lokal adalah dari proses produksinya. "Sepertinya dalam proses produksinya, masih jarang produk kosmetik Indonesia yang cruelty free dan vegan. Satu lagi, dalam kandungannya juga masih ada paraben," katanya.
Paraben adalah bahan pengawet yang banyak ditemukan pada produk kosmetik. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), paraben memang dibolehkan untuk dipakai dalam kosmetik asalkan memenuhi batasan penggunaan yang diperbolehkan. Penggunaan paraben dalam sebuah produk dianggap aman jika tidak lebih dari 25%. Namun pada produk kosmetik umumnya, kadar paraben berkisar antara 0,01% hingga 0,3%.
Sedangkan Cruelty free adalah produk kosmetik yang tidak 'mempekerjakan' hewan sebagai bahan percobaannya dan vegan merupakan kosmetik yang tidak mengandung unsur hewani sama sekali, melainkan menggunakan bahan yang semuanya berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Baca Juga : 50 Inspirasi Model Kebaya
3. Kemasan Ringkih
Shella Sanjaya, blogger kecantikan lainnya mengatakan, kemasan lipstik menjadi salah satu kekurangan dari lipstik matte. Ada brand lipstik yang menggunakan kemasan plastik yang cukup tipis sehingga lebih rentan rusak.
"Kemasannya yang tipis itu bikin lipstik gampang lepas atau puteran leher lipstiknya cepat rusak," tutur Shella saat diwawancara pada hari yang sama.
4. Aroma Kurang Menyenangkan
Meski beberapa lipstik produksi dalam negeri ini memiliki aroma manis mirip seperti permen dan buah-buahan, namun beberapa di antaranya masih beraroma yang kurang menyenangkan. Beberapa lipstik ada yang beraroma seperti krayon, lilin, atau bahkan wangi bahan pengawet masih kental terasa.
5. Sulit Dicari
Beberapa lipstik lokal seperti Wardah dan PAC masih bisa ditemukan di beberapa pusat perbelanjaan atau mall. Namun hal itu tidak berlaku bagi brand-brand seperti Purbasari, Inez, dan Mineral Botanica. Brand kosmetik lokal ini agak sulit ditemukan hingga Anda harus pergi ke toko-toko kecantikan yang terdapat di dalam pasar tradisional atau di distributor khusus.
(itn/itn)










































