×
Ad

Istilah Overthinking Populer di Socmed, Ini Arti Sebenarnya Menurut Psikolog

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Senin, 31 Agu 2026 17:00 WIB
Foto: Getty Images/Kiwis
Jakarta -

Kamu tentunya pernah melihat kata 'overthinking' atau 'ovt' berseliweran di media sosial. Istilah ini begitu populer di kalangan Gen Z untuk menggambarkan kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan.

Namun, sebenarnya apa yang dimaksud dengan overthinking? Apakah setiap kali kita terlalu banyak berpikir bisa disebut overthinking?

Overthinking ternyata bukan sekadar 'kebanyakan mikir'. Dalam psikologi, kondisi ini merujuk pada pola berpikir berulang yang justru bisa membuat seseorang semakin cemas tanpa menghasilkan solusi.

Memikirkan suatu masalah secara mendalam sebenarnya bukan hal yang buruk. Berpikir mendalam membantu kita mencari solusi, mempertimbangkan pilihan, dan membuat keputusan dengan lebih matang.

Overthinking berbeda. Alih-alih menghasilkan solusi, pikiran justru terjebak dalam lingkaran pertanyaan, kekhawatiran, dan berbagai kemungkinan yang terus berulang. Misalnya, ketika menghadapi perubahan besar dalam hidup, wajar jika kamu mempertimbangkan berbagai kemungkinan.

Namun, jika satu keputusan kecil saja terus dipikirkan hingga membuatmu tidak kunjung bertindak, kondisi tersebut bisa mengarah pada overthinking. Kamu mungkin terus bertanya, "Bagaimana kalau aku salah?", "Bagaimana kalau semuanya berantakan?", atau mengulang kejadian yang sama dalam kepala berkali-kali.

Sesekali terlalu larut dalam pikiran adalah hal yang normal. Namun, overthinking yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu pekerjaan, hubungan dengan orang lain, kesehatan, hingga aktivitas sehari-hari.

"Ciri utama overthinking adalah pola pikir tersebut tidak produktif," ujar Jessica Foley, seorang terapis di Waltham, Massachusetts, seperti dikutip dari Good Rx.

"Contohnya, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan sebuah keputusan hingga akhirnya melewatkan tenggat waktu atau kehilangan waktu tidur," lanjutnya.

Overthinking Tidak Selalu Buruk

Overthinking sering dikaitkan dengan stres, namun tidak semua stres bersifat buruk. Dalam jangka pendek, memikirkan situasi yang membuat stres justru dapat mendorong seseorang untuk bertindak.

Contohnya, ketika merasa gugup menjelang presentasi penting di kantor. Rasa khawatir tersebut bisa membuatmu mempersiapkan materi lebih serius, bekerja lebih keras, bahkan berangkat lebih awal agar tidak terlambat.

Dalam kondisi tertentu, proses berpikir tersebut juga dapat membantu seseorang memahami nilai-nilai yang dianggap penting dan menemukan area dalam dirinya yang masih ingin dikembangkan.

"Tidak semua overthinking itu buruk. Namun, pola ini menjadi tidak sehat ketika membuat seseorang tidak mampu bertindak atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari dan kesejahteraannya," terang Jessica.

Tanda-tanda Overthinking

Pada dasarnya, hampir semua orang pernah terjebak dalam pikiran atau kekhawatiran tertentu. Hal terpenting adalah menyadari ketika pola tersebut mulai terjadi berulang kali.

Beberapa tanda yang bisa menunjukkan kamu sedang overthinking antara lain:

* Memikirkan kekhawatiran atau ketakutan yang sama berulang kali.
* Terus membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.
* Berulang kali memutar kembali kejadian buruk di masa lalu dalam pikiran.
* Menghabiskan banyak waktu memikirkan hal-hal negatif tentang masa lalu atau masa depan.
* Merasa sedih atau tertekan akibat pikiran sendiri.
* Terlalu memikirkan sesuatu hingga sulit berkonsentrasi pada hal lain.
* Tetap memikirkan suatu masalah meski sebenarnya kamu sudah menemukan solusi yang cukup masuk akal.
* Sulit beralih ke masalah atau aktivitas berikutnya karena terus terjebak pada persoalan yang sama.

Apakah Overthinking Termasuk Gangguan Mental?

Overthinking bukan diagnosis gangguan mental yang berdiri sendiri. Namun, penelitian menunjukkan bahwa pola berpikir ini dapat muncul sebagai salah satu gejala dari kondisi kesehatan mental tertentu.

Misalnya, kecemasan dan depresi dapat membuat seseorang lebih rentan terjebak dalam pikiran yang berulang. Seseorang yang pernah mengalami trauma juga dapat menjadi hipervigilant, yaitu berada dalam kondisi sangat waspada terhadap kemungkinan bahaya.

Akibatnya, mereka mungkin terus mencari dan memikirkan tanda-tanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Karena itu, overthinking yang terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari sebaiknya tidak dianggap sekadar kebiasaan 'kebanyakan mikir'.

Jika kamu menyadari sering terjebak dalam pola berpikir seperti ini, ada beberapa langkah yang dapat dicoba. Salah satunya adalah mempertanyakan kembali pikiran tersebut dan melihat apakah kekhawatiran yang muncul benar-benar didukung oleh fakta.

Berbicara dengan orang terdekat yang dipercaya juga dapat membantu melihat situasi dari sudut pandang berbeda. Jika pikiran yang berulang sudah mengganggu aktivitas sehari-hari atau membuatmu kesulitan menjalani kehidupan, berbicara dengan profesional kesehatan mental juga bisa menjadi pilihan.



Simak Video "Video: 6 Warna Baju yang Bikin Kamu Kelihatan Kurang Percaya Diri, Apa Aja?"

(hst/hst)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork