×
Ad

5 Mitos tentang Introvert yang Masih Banyak Dipercaya

Arina Yulistara - wolipop
Sabtu, 01 Agu 2026 18:30 WIB
Foto: Getty Images/Siarhei Khaletski
Jakarta -

Punya teman introvert? Jangan langsung dijauhi. Ada beberapa mitos tentang introvert yang masih banyak dipercaya sampai saat ini.

Banyak orang masih menganggap introvert sebagai pribadi yang pendiam, antisosial, bahkan sulit meraih kesuksesan. Anggapan tersebut sudah lama berkembang dalam masyarakat dan sering kali membuat karakter introvert dipahami secara keliru.

Para psikolog menegaskan bahwa introvert bukanlah masalah, melainkan salah satu tipe kepribadian yang memiliki cara berbeda dalam memperoleh energi dan berinteraksi dengan lingkungan. Di berbagai budaya, khususnya budaya Barat, sosok ekstrovert sering dianggap sebagai standar ideal karena dinilai lebih percaya diri, mudah bergaul, dan menonjol di lingkungan sosial maupun dunia kerja.

Akibatnya, introvert sering dipandang kurang mampu bersosialisasi atau perlu 'diubah' agar lebih menyerupai ekstrovert. Padahal penelitian dan pandangan para ahli menunjukkan bahwa banyak persepsi tersebut hanyalah mitos.

Berikut beberapa mitos tentang introvert yang masih banyak dipercaya hingga kini:

1. Introvert Tidak Suka Bersosialisasi

Mitos yang paling umum anggapan bahwa introvert membenci interaksi sosial. Faktanya, introvert tetap menikmati bersosialisasi, hanya saja mereka lebih nyaman dalam situasi yang tenang dan tidak terlalu ramai.

Menurut Psychology Today, introvert cenderung menikmati percakapan mendalam secara empat mata atau dalam kelompok kecil dibandingkan menghadiri pesta besar yang penuh keramaian. Lingkungan yang lebih tenang membuat mereka lebih mudah membangun hubungan bermakna tanpa merasa kewalahan karena banyaknya stimulasi sosial.

Introvert juga dikenal lebih mengutamakan kualitas dibanding kuantitas dalam pertemanan. Mereka mungkin tidak memiliki lingkaran pergaulan yang sangat luas, tapi hubungan yang dibangun biasanya lebih dekat dan mendalam.

Untuk itu, menyebut introvert sebagai penyendiri bukanlah gambaran yang sepenuhnya tepat. Meski membutuhkan waktu sendiri untuk mengisi kembali energi, bukan berarti mereka ingin selalu sendirian.

Dalam situasi yang nyaman bersama orang-orang terpercaya, banyak introvert justru mampu tampil hangat, komunikatif, dan penuh antusias.

2. Introvert adalah Kepribadian yang Harus 'Diperbaiki'

Masih banyak orang beranggapan bahwa introvert perlu belajar menjadi lebih ekstrovert agar sukses dalam karier maupun kehidupan sosial. Pandangan ini justru dinilai keliru oleh banyak ahli psikologi.

Kepribadian introvert bukanlah kekurangan atau gangguan yang harus diubah. Introvert hanya memiliki cara berbeda dalam merespons lingkungan dan mendapatkan energi. Mereka cenderung lebih nyaman dengan aktivitas yang tenang, reflektif, serta interaksi yang tidak terlalu intens.

Penulis Sophia Dembling dalam bukunya The Introvert Way menjelaskan bahwa penelitian yang menyebut ekstrovert lebih bahagia sering kali menggunakan ukuran kebahagiaan yang berfokus pada aktivitas sosial seperti pesta, jaringan pertemanan besar, atau kehidupan yang sangat aktif. Padahal sumber kebahagiaan introvert bisa berasal dari membaca, berkarya, menikmati alam, atau menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat.

Psikolog Laurie Helgoe juga menjelaskan bahwa introvert cenderung mencari ketenangan dan relaksasi sebagai sumber kebahagiaan, bukan sensasi atau kegembiraan dengan intensitas tinggi. Oleh sebab itu, membandingkan kebahagiaan introvert dan ekstrovert menggunakan standar yang sama tentu tidak selalu adil.




(eny/eny)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork