Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Mengenal 'Spoiled Pig Syndrome', Tren Kencan yang Tak Sehat

Vina Oktiani - wolipop
Senin, 29 Jun 2026 11:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

technology and relationship problem concept - Asian man addicts social network media or video games and ignore couple relationship at home while woman is annoyed about their communication problems
Foto: Getty Images/PonyWang
Jakarta -

Fenomena spoiled pig syndrome belakangan menjadi sorotan karena dinilai dapat memicu pola hubungan yang tidak sehat. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika salah satu pasangan terlalu sering menerima perlakuan istimewa hingga akhirnya menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajib diberikan oleh pasangannya.

Melansir AOL, meski bukan termasuk diagnosis psikologis resmi, spoiled pig syndrome dapat menciptakan ketidakseimbangan dalam hubungan asmara. Dalam situasi ini, satu pihak cenderung memikul lebih banyak beban, baik secara emosional, finansial, maupun tanggung jawab sehari-hari.

Menurut psikolog klinis Dr. Max Doshay, pola ini biasanya berkembang secara perlahan. Pada awal hubungan, memberi perhatian lebih, hadiah, atau kejutan romantis adalah hal yang wajar sebagai bentuk kasih sayang. Namun, masalah mulai muncul ketika perlakuan tersebut tidak lagi dianggap sebagai bentuk apresiasi, melainkan berubah menjadi ekspektasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika salah satu pasangan terus-menerus mengutamakan kebutuhan pasangannya, hal itu bisa membentuk rasa 'berhak' pada pihak yang menerima. Akibatnya, pasangan yang selalu memberi dapat merasa kelelahan, kurang dihargai, bahkan terbebani karena harus menjaga hubungan tetap berjalan.

Di sisi lain, pasangan yang terbiasa dimanjakan bisa menjadi semakin bergantung pada perhatian dan validasi secara terus-menerus. Jika kondisi ini dibiarkan, hubungan berisiko kehilangan keseimbangan dan berujung pada konflik yang lebih besar.

ADVERTISEMENT

Selain spoiled pig syndrome, para ahli juga menyoroti tren hubungan modern lainnya yang disebut monkey-barring. Istilah ini merujuk pada perilaku seseorang yang mulai membangun kedekatan dengan orang baru sebelum benar-benar mengakhiri hubungan yang sedang dijalani. Pola ini kerap dikaitkan dengan ketidakmampuan menghadapi proses emosional setelah putus cinta.

Para ahli menekankan bahwa kunci utama untuk menghindari hubungan tidak sehat adalah menjaga komunikasi yang terbuka, menetapkan batasan yang jelas, dan memastikan adanya usaha yang seimbang dari kedua belah pihak. Dengan begitu, hubungan dapat berjalan lebih sehat, setara, dan saling menghargai.

(vio/vio)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads