Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Remaja Gen Alpha Pilih Pacar AI daripada Manusia Asli, Pakar Ungkap Risikonya

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Jumat, 05 Jun 2026 19:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

AI, Artificial Intelligence, technology smart robot AI, artificial intelligence by enter command prompt for generates something, Futuristic technology transformation, Chatbot, assistant, secretary
Foto: Getty Images/Nirunya Juntoomma
Jakarta -

Teknologi kecerdasan buatan atau AI semakin terlibat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk urusan percintaan. Kini, muncul fenomena baru di kalangan Gen Alpha, di mana sebagian remaja laki-laki lebih tertarik menjalin hubungan dengan pasangan virtual berbasis AI dibandingkan sosok nyata.

Temuan tersebut berasal dari survei yang dilakukan Male Allies UK terhadap 1.000 remaja laki-laki berusia 12 hingga 16 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa 85 persen responden pernah berbicara dengan chatbot AI. Bahkan, satu dari lima remaja mengaku mengenal teman yang sedang 'berpacaran' dengan chatbot AI.

Lebih mengejutkan lagi, sekitar 1/4 responden mengatakan mereka lebih menyukai perhatian dan koneksi yang diberikan pasangan AI ketimbang hubungan dengan manusia sungguhan. Sementara itu, 58 persen remaja mengaku menjalin hubungan dengan AI terasa lebih mudah karena bisa mengendalikan percakapan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Nicholas Velotta, Kepala Riset Hubungan di Arya, daya tarik hubungan berbasis AI sebenarnya cukup mudah dipahami.

"AI selalu memvalidasi, mendukung, tidak pernah lelah, dan tidak pernah membantah. Bagi remaja laki-laki yang masih membangun jati dirinya, perhatian tanpa hambatan seperti itu bisa terasa seperti keintiman yang sesungguhnya," ujarnya, seperti dikutip dari New York Post.

ADVERTISEMENT

Nicholas menilai remaja laki-laki saat ini berada di tengah dua narasi yang saling bertentangan tentang maskulinitas. Di satu sisi, mereka mendapat pesan bahwa laki-laki harus dominan, kuat, dan tampil sebagai sosok 'alpha'. Namun di sisi lain, mereka juga sering mendengar bahwa laki-laki dianggap berkontribusi terhadap berbagai masalah dalam dinamika gender modern dan sebaiknya lebih banyak diam serta mengalah.

"Tidak sulit memahami mengapa seorang remaja laki-laki merasa nyaman dengan teknologi yang dirancang untuk selalu menerima, tidak menghakimi, dan seolah memahami dirinya," katanya.

Gen Alpha Menggunakan AI untuk Latihan Sosialisasi

Fenomena ini sejalan dengan studi lain pada Mei 2025 yang menemukan bahwa 52 persen remaja menggunakan chatbot setidaknya sekali dalam sebulan untuk bersosialisasi. Mereka memanfaatkannya untuk berlatih memulai percakapan, mengekspresikan emosi, meminta saran, menyelesaikan konflik, hingga belajar menghadapi situasi romantis.

Menurut Nicholas, ketertarikan terhadap AI juga lebih besar pada remaja laki-laki karena selama ini mereka cenderung memiliki lebih sedikit ruang untuk belajar mengekspresikan emosi dibandingkan remaja perempuan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa AI sebaiknya hanya menjadi alat pendukung, bukan pengganti hubungan antar manusia. Penggunaannya pun harus dibatasi.

"AI bukan manusia. Dia hanyalah sistem yang sangat canggih dan dirancang untuk membuat pengguna terus terkoneksi. Jika seorang anak laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa AI adalah pengganti hubungan manusia, dia berisiko mengalami bentuk kesepian yang berbeda," jelasnya.

Perilaku ini ternyata juga mulai terlihat pada generasi yang lebih tua. Survei tahun 2024 dari Infobip menemukan bahwa hampir 20 persen orang dewasa pernah menggoda atau flirting dengan chatbot AI. Lebih dari 45 persen pria Gen Z dilaporkan belum pernah mengajak seorang wanita berkencan secara langsung.

"Mengajak seseorang berkencan adalah tindakan yang penuh risiko. Taruhannya besar, dan banyak orang takut salah membaca situasi," ujarnya.

Padahal, menurutnya, pengalaman menjalin hubungan di dunia nyata mengajarkan berbagai keterampilan penting, mulai dari empati, kemampuan bernegosiasi, menyelesaikan konflik, hingga memahami perspektif orang lain.

"Hubungan di dunia nyata memang sulit. Kadang canggung, bahkan memalukan. Namun dari situlah seseorang belajar memahami orang lain dan berkembang secara emosional," terangnya.

Dia memperingatkan bahwa jika generasi muda terlalu bergantung pada hubungan yang serba nyaman dan tanpa penolakan seperti yang ditawarkan AI, mereka bisa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial yang dibutuhkan saat dewasa nanti.

"Generasi yang melewatkan proses itu bukan hanya akan kesulitan mencintai dengan baik. Mereka juga bisa kesulitan bekerja sama, berkolaborasi, dan menerima penolakan dalam kehidupan sehari-hari," pungkasnya.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads