Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Viral 'Aturan 24 Jam' di Media Sosial Demi Selamatkan Hubungan, Efektifkah?

Kiki Oktaviani - wolipop
Senin, 26 Jan 2026 11:15 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi pasangan
Foto: Getty Images/charnsitr
Jakarta -

Dalam hubungan, keluhan kecil yang dibiarkan menumpuk sering kali berubah menjadi bom waktu. Dari sinilah muncul konsep viral yang dikenal sebagai '24-hour rule' atau 'aturan 24 jam' sebuah strategi komunikasi yang dipercaya banyak orang mampu mencegah pertengkaran berkepanjangan dan menyelamatkan hubungan yang mulai retak.

Logikanya sederhana, jika pasangan melakukan sesuatu yang membuatmu kesal, sampaikan dalam waktu 24 jam. Lewat dari itu, masalah dianggap selesai dan tidak perlu diungkit lagi.

Di media sosial, aturan ini menuai banyak dukungan. Sejumlah netizen mengaku metode tersebut membantu mereka menahan diri dari mengirim pesan penuh amarah langsung saat itu juga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun menurut para terapis, aturan 24 jam bukan solusi yang cocok untuk semua pasangan, terutama mereka yang cenderung menghindari konflik dan menekan emosi. Norris mengingatkan bahwa aturan waktu yang terlalu kaku justru bisa berdampak sebaliknya. Terutama jika salah satu pihak merasa dipaksa berbicara sebelum emosinya benar-benar stabil;

"Regulasi emosi harus terjadi sebelum membahas masalah," kata Norris, seperti dikutip dari New York Post.

ADVERTISEMENT

Pendapat senada disampaikan psikoterapis berlisensi Sanya Bari. Ia menilai memaksakan percakapan terlalu cepat justru berisiko memperkeruh suasana.

"Memaksakan pembicaraan di malam hari setelah hari kerja yang melelahkan sering kali berujung pada sikap defensif atau ucapan yang tidak benar-benar dimaksudkan bukan penyelesaian," ujarnya.

Tekanan semacam ini, menurut para ahli, bisa sangat berbahaya bagi pasangan yang memiliki trauma, ketimpangan kekuasaan dalam hubungan, atau masalah kepercayaan yang belum selesai.

Sebagai alternatif, Melissa Tract, LCSW, psikoterapis sekaligus pendiri Mindful with Mel, menyarankan pendekatan yang lebih lembut.

"Saya merekomendasikan untuk membingkainya sebagai 'check-in 24 jam', bukan kewajiban untuk menyelesaikan masalah," jelasnya.

Fokusnya bukan pada menyelesaikan konflik secepat mungkin, melainkan mengakui bahwa ada ketegangan yang perlu dibicarakan. Salah satu kalimat yang ia sarankan adalah, "Saya belum siap membahas ini secara menyeluruh, tapi saya juga tidak ingin mengabaikannya."

Intinya, menyelamatkan hubungan bukan soal waktu. Keputusan paling bijak adalah tahu kapan pasangan bisa jeda dari masalah dan meregulasi emosi terlebih dahulu.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads