Liputan Khusus KDRT

Suami Tukang Pukul, Kisah Dini Dianiaya dan Diancam 'Monster' KDRT (Bag. 1)

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 22 Sep 2019 14:22 WIB
Foto: dok detikcom Foto: dok detikcom

Jakarta - Wanita bernama Dini Surya Istanti, merupakan satu dari sekian banyak wanita yang mengalami kekerasan rumah tangga atau KDRT. Namun ia tidak tinggal diam. Dini memilih bangkit untuk melanjutkan hidupnya bersama dua buah hatinya.

Menceritakan kisahnya kepada Wolipop, Dini mengungkapkan sebelum menikah suaminya bersikap normal. Hingga di tahun ketiga pernikahan mulai ada perlakuan kasar dari suaminya. yang awalnya kekerasan verbal meningkat menjadi kekerasan fisik.


"Jadi saya merasakan kekerasan fisik dan mental juga. Dan yang mengalami itu aku dan dua anakku. Anak pertama masih umur empat tahun sampai dia kelas 5 SD dan anak keduaku berumur satu tahun, mereka juga mendapatkan kekerasan juga," kata Dini saat berbincang dengan Wolipop, Rabu (18/9/2019).

Dini SuryaDini Surya Foto: dok. Instagram


Dini merasakan KDRT dari sering diolok-olok sang suami hingga dipukuli. Saat itu dia mau tidak mau memilih bertahan karena diancam oleh sang suami.

"Di rumah itu dipasang cctv sampai tujuh buah. Dia juga berbicara,'kalau misalnya kamu keluar dari rumah, aku bakal melakukan langkah hukum ini, dan sudah di-backup pengacara ini'. Ada kayak ancaman. Dan dia sudah punya strategi-strategi," kisah Dini yang tinggal di Surabaya ini.

Dini pun beberapa kali merencanakan untuk melarikan diri dari rumah. Tetapi rencananya berkali-kali gagal karena suaminya selalu mengawasi melalui kamera pengintai. Untuk mengobati rasa ketidakberdayaannya, Dini mengaku sering mengikuti kelas psikologis secara online.

Secara diam-diam Dini pun menyimpan semua bukti penganiayaan yang dilakukan oleh sang suami agar ketika dirinya lapor polisi, posisinya tidak lemah di mata hukum. "Saya memasang strategi juga sebenernya. Terus yang nggak kalah penting menyimpan foto lukanya. Semua luka bekas penganiayaan, aku foto dan email. Semua ada tanggalnya dan kejadiannya seperti apa," jelasnya.

Berkali-kali gagal menyelamatkan dirinya dan anak-anaknya, Dini pun merasa menemui jalan buntu. Saat merasa pasrah itu, dia berkonsultasi dengan ustad.

Wanita berusia 35 tahun itu mengatakan bahwa ustad menasihatinya untuk lebih dekat dengan Allah SWT, dengan berbagai macam cara, seperti salat taubat dan salat tahajud. "Mungkin nanti dia mendapatkan hidaya. Akhirnya saya jalani, tapi semakin ke sini eskalasinya semakin naik tingkat kekerasannya. Jadi yang dulunya mukul tidak berbekas, naik lagi jadi berbekas, kemudian ada darah. Kayak kepala anak saya pernah dilempar. Kepala, wajah, pipi, tangan, kaki, pinggang, sudah pernah semua," tuturnya mengingat lagi kisah sedihnya.

Sudah merasa tidak sanggup menghadapi kekerasan dari suaminya yang semakin meningkat, Dini menceritakan semua yang ia alami ke ustadnya lagi. "Ini sudah menyerempet nyawa. Masa aku tetap diam. Ya sampai amalan-amalan sudah saya jalani, kayak sedekah, zikir, sudah tak lakui satu-satu. Akhirnya saya disuruh,"Tetap berdoa minta sama Allah, kalau sudah di agama, ada yang namanya perceraian, itu sudah jalan yang terakhir, kalau sudah tidak membawa kebaikan," ucapnya mengingat perkataan ustadnya.

Dini pun pernah mencoba mengajak suaminya untuk ikut berkonsultasi ke psikolog, namun permintaannya itu ditolak. Sang suami merasa dirinya tidak bersalah.

"Aku itu sebenernya peduli sama kamu, ya ini caranya biar kamu ngerti sama anak-anak," begitu ucapan sang suami yang diingat Dini.

Kekerasan paling mengerikan yang pernah dilakukan suami Dini adalah pada putri mereka yang duduk di kelas lima SD. Sang suami melempar anak tersebut ke lantai sampai saat jatuh sang anak diam tidak bergerak.



"Jadi dadanya kena lantai duluan dan posisi kedua tangannya dibelakang. Dan ketika ia bangun posisi dagunya kayak bergeser miring. Dia dilempar langsung diam tidak bergerak. Hati saya langsung nggak karu-karuan bentuknya, saya kira anak saya sudah meninggal di tempat saat itu. Dengan posisi seperti itu pun masih dipukulin," kenang Dini dengan sedih.

Suaminya kemudian menyuruh membawa anak mereka itu ke UGD. Dini disuruh berangkat sendiri tanpa diantar oleh sang suami.

"Dan saat dokter memeriksa secara keseluruhan Alhamdulillah tidak ada apa-apa. Tapi hanya dagunya lebam kayak pendarahan. Cuman periksa di luar aja," jelas Dini.

Saat ke rumah sakit itu, terlintas dalam benak Dini untuk kabur dari rumahnya dan membawa kedua anaknya tersebut. Namun lagi-lagi niatnya gagal karena suaminya terus-menerus mengontrol melalui telepon menanyakan posisi mereka ada di mana dan sedang apa.

Dini pada akhirnya memiliki keberanian untuk meninggalkan suaminya sang tukang pukul itu pada 2016. Dia meminta bantuan ke seorang temannya. Sang teman pun membantu Dini membuat strategi agar bisa keluar rumah meskipun sang suami selalu mengawasi melalui CCTV.

"Pokoknya besok pagi, pas anak-anak keluar kamu tak siapin mobil Uber (pada saat itu masih ada Uber) di mobil uber itu sudah ada teman kita, nanti kamu langsung cari polisi terdekat untuk melapor," kata temenku itu.

Dini pun membuat siasat untuk mengelabui CCTV suaminya. Beruntung strateginya itu berjalan lancar. Dengan hanya membawa beberapa baju ganti yang ditaruh di tas plastik hitam, Dini dan anak-anaknya langsung keluar dari rumah. Dia pun langsung menuju ke Polda Jawa Timur.

Kejadian kaburnya Dini dan kedua anaknya sempat membuat heboh dan menjadi pemberitaan media lokal Surabaya. "Suami saya akhirnya diposting di Facebook kalau aku hilang bersama anak-anak. Kemudian sampai bawa-bawa nama Uber. Jadi katanya dia bilang ke salah satu radio sampai ramai banget. Sampai polisi bilang begini, bu ini semakin ke mana-mana beritanya, tolong dikasih tau ke saudara suaminya kalau ibu aman, bukan masalah dengan ubernya," ucap Dini mengenang perkataan polisi.

Setelah kabur, Dini dan kedua anaknya berada di bawah naungan Pusat Pelayanan Terpadu Khusus untuk perlindungan anak dan perempuan korban kekerasan. Suaminya sendiri berakhir di penjara, meskipun hukuman yang dikenakan hanya tiga bulan.

"Ketika dia di penjara, saya juga melayangkan kasus ke pengadilan negeri untuk kasus perceraian dan mengambil hak asuh anak. Dan saya memperlihatkan bukti kepada hakim bahwa suami saya menganiaya anak saya," ucapnya.

Bagaimana nasib Dini selanjutnya setelah mengajukan gugatan cerai dan berhasil kabur dari suaminya? Simak terus kisah Dini di Wolipop.

Simak Video "Kenali Ciri-ciri Pasangan yang Berpotensi Melakukan KDRT "
[Gambas:Video 20detik]
(gaf/kik)