Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Liputan Khusus Persaingan Cinta

Boleh Marah dengan Teman yang Merebut Pria Incaran, Asalkan...

Kiki Oktaviani - wolipop
Jumat, 17 Apr 2015 16:22 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta -

Meski berteman baik, namun untuk urusan percintaan seorang teman bisa berlaku kejam dan 'menikam dari belakang'. Banyak pengalaman wanita yang merasa dikhinati oleh sahabatnya sendiri karena merebut pria incarannya.

Kecewa, marah, sedih dan semua perasaan negatif berkumpul menjadi satu ketika mengetahui bahwa kini sahabat telah bersama si pria yang juga Anda sukai. Ketika emosi negatif sudah memuncak terkadang seseorang ingin melabrak teman yang sudah berkhianat. Bolehkah melabraknya?

Dijelaskan oleh psikolog Efnie Indrianie, M.Psi, emosi negatif harus dikeluarkan dan tidak boleh ditahan-tahan. "Marah tidak bisa ditahan. Itu bisa menjadi tension yang akan berpengaruh buruk pada psikologis tubuh," ujar psikolog lulusan Universita Maranatha, Bandung, saat ditemui Wolipop di restoran Bunga Rampai, Kamis (16/4/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Efnie mengatakan, ingin melampiaskan kekesalan terhadap teman yang sudah merebut gebetan boleh dilakukan, asalkan harus didampingi oleh psikolog atau setidaknya teman Anda. Namun, wanita yang berpraktek di rumah sakit Melinda, Bandung itu menegaskan, berkonfrontasi langsung dengan sahabat yang sudah berkhianat hanya boleh dilakukan satu kali.

Baca Juga: 50 Momen Menghebokan dari Pekan Mode Dunia

"Boleh bertemu dengan dia, tapi hanya sekali. Enough setelah itu. Mungkin ada orang yang harus lihat orangnya dan menumpahkan kekesalan dan mengekspresikan, 'dia harus melihat marahku dan dia harus tahu sakit hatinya aku', ada kan orang yang seperti itu. Boleh saja dilakukan, tapi cukup sekali dan didampingi," jelas Efnie.

Setelah menumpahkan marah, tidak ada yang bisa menjamin Anda bisa lebih lega. Menurut Efnie, kemarahan merupakan sebuah energi yang bisa diubah dalam bentuk lain tanpa perlu kembali mengkonfrontasi orang lain.

"Kalau bicara soal marah, nyambung pada hukum kekekalan energi. Energi tidak bisa diciptakan, tidak bisa dimusnahkan tapi bisa dibuat dari bentuk satu ke bentuk lainnya. Jadi kadang-kadang dibuat cara melampiaskanya dengan aggression therapy, jadi dibuat orang-orangan. Orang yang bersangkutan bisa ngelemparin simbol tersebut dengan sesuatu atau memakinya," terang wanita 32 tahun itu.

Setelah emosi negatif ditumpahkan (marah, menangis atau berteriak), kondisi emosi akan berada di titik nol sehingga Anda mulai menerima kisah hidup Anda tersebut. Setelah itu, mulai untuk kembali melakukan aktivitas, mencari aktivitas baru yang lebih menyenangkan atau bertemu dengan orang-orang positif. Jika sudah sampai di tahap benar-benar bisa menerima keadaan, Efnie mengatakan seseorang akan menemukan makna dari kejadian buruk tersebut dan bisa move on.

(kik/ami)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads