Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Unik, Styrofoam Jadi Material Utama Rumah Antigempa di Jepang

Daniel Ngantung - wolipop
Jumat, 16 Jun 2017 17:58 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Dok. Japan Dome House
Jakarta - Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kata styrofoam? Identik sebagai wadah makanan, styrofoam ternyata jadi material utama rumah antigempa di Jepang.

Adalah Japan Dome House, developer atau pengembang yang sejak 15 tahun lalu menjual rumah antigempa bermaterial styrofoam. Namun baru setahun terakhir penjualan rumah tersebut mengamali peningkatan.

Semuanya bermula ketika April 2016 perfektur Kumamoto diguncang gempa berkekuatan 7 skala richter yang menewaskan 49 jiwa dan melukai 3.000 jiwa. Sementara 44.000 orang terpaksa dievakuasi. Banyak bangunan yang runtuh dan terbakar akibat guncangan gempa yang begitua kuat. Kerusakan dilaporkan terjadi hampir merata di seluruh Kumamoto, bahkan sampai ke prefektur tetangga, Oita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Unik, Styrofoam Jadi Material Utama Rumah Antigempa di JepangFoto: Dok. Japan Dome House


Namun satu daerah yang tidak terkena dampak gempa yaitu Desa Kyushu di mana sebuah kompleks 480 rumah berbentuk kubah berada. Semuanya terbuat dari styrofoam. Pemintaan rumah styrofoam pun semakin meningkat menyusul bencana tersebut.

Unik, Styrofoam Jadi Material Utama Rumah Antigempa di JepangFoto: Dok. Japan Dome House


Perlu diketahui, styrofoam yang Japan Dome House pakai tentu saja berbeda dari jenis yang biasa menjadi bahan wadah makanan. Seperti dilansir dari OddityCentral, pengembang menggunakan styrofoam jenis baru yang telah melalui proses khusus sehingga lebih solid dan kuat.

Unik, Styrofoam Jadi Material Utama Rumah Antigempa di JepangFoto: Dok. Japan Dome House


Dijelaskan RealEstate.co.jp, styrofoam biasa memiliki butiran yang lebih besar 50-60 persen dari jenis reguler sehingga menyerap oksigen lebih banyak. Pada styrofoam jenis baru, butiran diperkecil hingga 20 persen untuk meminimalisir penyerapan oksigen. "Dengan demikian, material menjadi lebih kuat tanpa mengurangi kualitas perekatnya," demikian ditulis dalam penjelasannya.

Styrofoam lalu akan direkatkan satu-sama lain sehingga membentuk sebuah rumah. Untuk pembuatan rumah berukuran 36 meter persegi dengan tinggi 3 meter, memakan waktu satu minggu dengan melibatkan sebuah tim yang terdiri dari tiga orang. Adapun rumah dibanderol seharga 7 - 8 juta yen atau berkisar Rp 900 juta - Rp 1 miliar lebih.

Selain ringan (hanya berbobot sekitar 80 kg), rumah ini juga dianggap lebih awet mengingat bahan styrofoam tidak dapat berkarat atau membusuk.





(dng/eny)
Tags

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads