Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Sunsilk Hijab Hunt 2017

Kisah Hijabers Jakarta yang Mendapat Perlakuan Rasis Saat Tinggal di Inggris

Arina Yulistara - wolipop
Sabtu, 29 Apr 2017 17:52 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Arina Yulistara
Jakarta - Banyak kisah menarik di audisi Sunsilk Hijab Hunt 2017 Jakarta. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu peserta bernama Zeva Aulia.

Saat berbincang dengan Wolipop, wanita 27 tahun ini bercerita kalau ia pernah mengunjungi beberapa negara karena dapat beasiswa. Ia juga pernah tinggal di Inggris setelah mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S-2 di Nottingham University.

Mahasiswi jurusan Social and Global Justice itu mengaku berhijab dimana komunitas muslim adalah minoritas seperti di Inggris tidaklah selalu mudah, walau ia tahu bahwa tentunya di manapun seseorang berada akan selalu ada hal positif dan negatifnya. Secara keseluruhan, pengalamannya berhijab di luar negeri positif-positif saja dan ia tetap aktif dalam kegiatan organisasi dan sosial selama berada di sana. Namun dalam pengalaman tersebut terdapat beberapa cobaan yang terjadi. Ia menjadi satu-satunya mahasiswi yang mengenakan jilbab di kelasnya. Zeva mengatakan saat periode awal menjadi mahasiswi berhijab beberapa temannya seperti segan untuk berbincang dengannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Seperti ada gap, aku harus usaha lebih untuk menunjukkan bahwa aku pun bisa bersosialisasi dengan mereka. Aku berusaha lebih friendly dengan tetap menjadi diri sendiri hingga mereka merasa nyaman sama aku dan mengetahui pribadiku yang terbuka. Penting banget menurutku saat kita minoritas untuk berbaur dengan siapa saja agar dapat menciptakan dialog dan pengertian. Mayoritas juga penting untuk merangkul. Ini berlaku di Indonesia juga lho," ujar Zeva kepada Wolipop di Menara Bank Mega, Tendean, Jakarta Selatan, Sabtu (29/4/2017)."

Tidak hanya itu, Zeva juga bercerita kalau ia pernah diludahi ketika sedang jalan sendirian di kawasan Nottingham. Meski tidak sampai mengenai tubuhnya namun ia merasa cukup terkejut akan kejadian itu. Zeva tak menyangka kalau ia akan mengalami sikap kurang menyenangkan di Inggris hanya karena penggunaan jilbabnya.
"Terasa sih struggle-nya. Waktu itu aku jalan sendiri di Nottingham, tiba-tiba ada cowok tinggi sengaja meludah tepat ke arahku. Saat itu aku nggak berani ngelawan cuma kesal dan shock," ujarnya.

Ia menambahkan, "Karena hal frontal seperti ini tidak sering terjadi terhadap hijabers, khususnya di Inggris. Namun kejadian ini menunjukkan bahwa bibit intoleransi dapat terjadi dalam masyarakat walaupun terdapat berbagai inisiatif dari berbagai pihak untuk mempertahankan kedamaian antara mayoritas dan minoritas."

Pengalaman kurang menyenangkan karena jilbab tidak hanya terjadi sekali. Zeva juga bercerita pernah mengalami hal serupa saat mendapat beasiswa selama sebulan di Philadelphia, Amerika Serikat. Hanya saja kala itu bukan dirinya secara langsung yang mengalami sikap diskriminasi, melainkan temannya.

Zeva mengisahkan ketika ia dan satu rekannya yang juga menggunakan jilbab jalan pulang tiba-tiba ada remaja laki-laki menarik kerudung temannya. Zeva mengaku shock dan marah karena temannya sampai jatuh tersungkur. Zeva pun sempat memarahi anak remaja tersebut.

"Ada remaja anak laki-laki yang menarik kerudung temanku karena memang lebih panjang jilbabnya menutup dada. Dia sampai tersungkur dan menangis. Aku marahi anak itu, dia cuma nunduk nggak minta maaf terus langsung lari," cerita Ketua Indonesian Youth Diplomacy itu. (aln/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads