Seperti Ini Peraturan Kelas Renang Gadis Muslim di Swiss

Arina Yulistara - wolipop Jumat, 13 Jan 2017 15:32 WIB
Foto: Dok. Thinkstock Foto: Dok. Thinkstock

Swiss - Baru-baru ini terjadi kontroversi di Eropa karena peraturan kelas renang untuk perempuan muslim. Tepatnya di Swiss, terdapat pasangan orangtua murid menggugat sekolah karena peraturan renang yang mencampur antara siswa perempuan dan laki-laki.

Kedua orangtua yang berasal dari Turki itu ingin peraturan tersebut diubah, dengan memisahkan jam renang antara siswa perempuan dan laki-laki. Jika tidak bisa diubah, sebaiknya kelas renang tak diwajibkan. Namun pengadilan menolaknya karena peraturan tersebut sudah ada sejak dulu.

The European Court of Human Rights (ECHR) di Strasbourg mengungkapkan kalau mereka menolaknya karena bukan bermaksud melanggar kebebasan beragam tapi lebih mempertimbangkan nilai-nilai inklusi sosial dalam sistem sekolah umum. Dalam sistem sekolah umum di Basel, Swiss, kelas renang untuk murid sekolah dasar (SD) memang wajib.

Peraturan tidak dapat diubah namun sekolah tetap memberikan toleransi dengan mengizinkan murid-murid perempuannya mengenakan burkini saat kelas renang. Meski demikian, pasangan berdarah Turki-Swiss itu tidak ingin anak perempuannya berada di tengah murid laki-laki dengan menggunakan pakaian renang.

Pihak pengadilan menekankan kalau peraturan tersebut mempunyai tujuan agar anak-anak tidak hanya bisa renang tapi juga memiliki interaksi sosial yang baik dengan murid lainnya baik laki=laki maupun perempuan. Maka dari itu, mereka juga boleh mengenakan pakaian renang sesuai dengan kepercayaan masing-masing tanpa harus ada larangan seperti di Prancis.

Ya, pada tahun lalu Prancis menerapkan aturan larangan burkini di beberapa pantainya. Kala itu, Perdana Menteri Prancis Manuel Valls bersama para pendukungnya juga sempat berpendapat bahwa burkini sebagai alat ketidaksetaraan gender.

"Burkini bukan pakaian renang baru atau fashion baru. Ini adalah ekspresi dari perbudakan perempuan," ujar Valls.

Anggap tersebut dipatahkan oleh Neslihan Cevik, penulis 'Muslimism in Turkey and Beyond: Religion in the Modern World' sekaligus pendiri dari M-Line Fashion di TUrki. Neslihan menutrukan kalau burkini justru yang meningkatkan partisipasi perempuan muslim dalam kehidupan modern.

"Mereka (perempuan muslim) bisa bersantai di pantai dan kolam renang umum," kata pendiri label mode M-Line Fashion Turki itu.

Terkait kelas renang, pandangan lain juga diungkapkan oleh komunitas feminis Swedia, Feministiskt Initiativ. Mereka mengatakan kalau bukan hanya wanita muslim yang menginginkan kelas renang dipisah antara perempuan dan laki-laki, banyak wanita yang juga mengharapkannya.

"Ini bukan hanya wanita muslim yang ingin mempunyai kolam renang sendiri tapi banyak wanita dari berbagai latar belakang berbeda," terang Toktam Jahangiry, selaku juru bicara dari Feministiskt Initiativ.

Peraturan renang ini kemudian menjadi kontroversi. Menteri Demokrasi Swedia, Alice Bah Kuhnke, justru mengatakan kalau kelas renang yang mencampur semua muridnya merupakan hasil dari kemenangan atas perjuangan generasi wanita selama bertahun-tahun dalam mewujudkan kesetaraan gender.



(ays/ays)