29 Mahasiswi AS Coba Berhijab Seminggu karena Gejolak Trump
Arina Yulistara - wolipop
Kamis, 24 Nov 2016 11:38 WIB
Jakarta
-
Banyak hal positif yang dilakukan oleh para pelajar sekolah hingga mahasiswa demi meredakan stereotipe buruk tentang Islam, terutama setelah Donald Trump terpilih menjadi presiden. Salah satunya dengan menggelar acara menggunakan hijab seperti wanita muslim.
Mereka berusaha menunjukkan bahwa wanita berhijab yang mewakili wajah muslim itu indah, damai, dan sama seperti masyarakat lainnya. Kini acara hijab digelar oleh mahasiswi terbaik dari Midland, Texas, Amerika Serikat, Maham Kahn.
Didampingi dua teman lainnya, Alaa Assaf dan Mariam Saad, Maham menyelenggarakan Hijab Week yang diikuti sebanyak 29 mahasiswi dari Carnegie Mellon University (CMU). Para mahasiswi yang berpartisipasi dalam Hijab Week ditantang untuk mengenakan jilbab selama satu minggu.
Para mahasiswi yang ikut berpartisipasi tak hanya belajar memakai jilbab tapi juga budaya dalam muslim sehingga mereka lebih mengerti tentang Islam. Jadi ketika ditanya soal Islam oleh orang lain, mereka bisa menyebarkan berita positif yang nantinya dapat membantu meredakan Islamophobia.
Baca juga: Ameena Khan, Seniman Berhijab yang Coba Redakan Islamophobia Lewat Lukisan
Mengingat gejolak akan kasus diskriminasi terhadap masyarakat muslim meningkat setelah Trump menjadi Presiden Amerika Serikat, Hijab Week ini diharapkan bisa menjadi salah satu wadah untuk membantu orang-orang mengerti kalau Islam itu agama yang indah. Wanita berhijab tidaklah dipaksa tapi memang karena kemauan pribadi yang datang dari hati nurani.
"Saya telah menggunakan jilbab selama sekitar satu tahun sekarang. Bagi saya, itu adalah keputusan pribadi. Ini adalah tahun senior saya dan saya ingin membuatnya menjadi tahun terbaik. Saya berpikir tentang mengenakan jilbab sejak tahun pertama tapi sekarang saya telah siap," papar Maham saat menjelaskan kepada peserta Hijab Week seperti dikutip dari Central Michigan Life.
Hijab Week kali ini digelar mulai 7 November hingga 13 November 2016. Katie Wenban selaku salah satu peserta Hijab Week menuturkan pendapatnya ketika mencoba berhijab selama satu minggu. Ia menuturkan kalau mengikuti ini karena memang ingin lebih banyak dapat pengatahuan tentang hijab.
"(Dengan berpartisipasi dalam Hijab Week) aku mendapatkan perspektif baru dan lebih mengerti apa tujuan Hijab Week sebenarnya. Aku memang tidak benar-benar tahu sejarah dan alasan tepat di balik pemakaian hijab tapi aku memperoleh lebih banyak pengetahuan sehingga saat orang bertanya kepadaku tentang hal itu aku jadi bisa berbagi dengan mereka dan kemudian lebih banyak orang akan tahu," papar Katie.
Sebagai bagian dari Muslim Student Association of CMU, Maham, Assaf, dan Mariam memimpin jalannya program Hijab Week. Assaf pun berbagi pengalamannya selama mengenakan jilbab.
"Saya memakai jilbab untuk tampil lebih modest. Banyak orang pergi dengan gadis-gadis cantik. Aku ingin terlihat beda. Aku ingin mereka tidak menilai Anda hanya karena kecantikan Anda tapi bagaimana cara berpikir Anda," ungkap Assaf.
Sedangkan Kahn bercerita kalau ia tinggal di Midland yang merupakan kota kecil. Sewaktu duduk di bangku sekolah, hanya dia yang muslim dalam kelasnya dan dia tidak pernah merasa dikucilkan. Mungkin karena dirinya tinggal di lingkungan keluarga yang begitu mendukung.
Kahn berharap dengan adanya Hijab Week bisa meredakan stereotipe buruk tentang muslim terutama dalam ranah politik. Ia tidak ingin banyak masyarakat muslim yang jadi korban kejahatan hanya karena pengaruh politik yang sedang bergejolak sekarang.
"Mereka (para peserta Hijab Week) mengalami apa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari dan melihat bagaimana orang-orang berinteraksi dengan mereka, apa itu positif atau negatif. Mudah-mudahan itu akan menghilangkan stereotipe, selalu ada kemungkinan untuk setiap yang dilakukan," tambah Kahn.
Baca juga: Cerita Mahasiswi AS Saat Coba Berhijab Selama 1 Hari
(ays/ays)
Mereka berusaha menunjukkan bahwa wanita berhijab yang mewakili wajah muslim itu indah, damai, dan sama seperti masyarakat lainnya. Kini acara hijab digelar oleh mahasiswi terbaik dari Midland, Texas, Amerika Serikat, Maham Kahn.
Didampingi dua teman lainnya, Alaa Assaf dan Mariam Saad, Maham menyelenggarakan Hijab Week yang diikuti sebanyak 29 mahasiswi dari Carnegie Mellon University (CMU). Para mahasiswi yang berpartisipasi dalam Hijab Week ditantang untuk mengenakan jilbab selama satu minggu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Ameena Khan, Seniman Berhijab yang Coba Redakan Islamophobia Lewat Lukisan
Mengingat gejolak akan kasus diskriminasi terhadap masyarakat muslim meningkat setelah Trump menjadi Presiden Amerika Serikat, Hijab Week ini diharapkan bisa menjadi salah satu wadah untuk membantu orang-orang mengerti kalau Islam itu agama yang indah. Wanita berhijab tidaklah dipaksa tapi memang karena kemauan pribadi yang datang dari hati nurani.
"Saya telah menggunakan jilbab selama sekitar satu tahun sekarang. Bagi saya, itu adalah keputusan pribadi. Ini adalah tahun senior saya dan saya ingin membuatnya menjadi tahun terbaik. Saya berpikir tentang mengenakan jilbab sejak tahun pertama tapi sekarang saya telah siap," papar Maham saat menjelaskan kepada peserta Hijab Week seperti dikutip dari Central Michigan Life.
Foto: Central Michigan Life |
Hijab Week kali ini digelar mulai 7 November hingga 13 November 2016. Katie Wenban selaku salah satu peserta Hijab Week menuturkan pendapatnya ketika mencoba berhijab selama satu minggu. Ia menuturkan kalau mengikuti ini karena memang ingin lebih banyak dapat pengatahuan tentang hijab.
"(Dengan berpartisipasi dalam Hijab Week) aku mendapatkan perspektif baru dan lebih mengerti apa tujuan Hijab Week sebenarnya. Aku memang tidak benar-benar tahu sejarah dan alasan tepat di balik pemakaian hijab tapi aku memperoleh lebih banyak pengetahuan sehingga saat orang bertanya kepadaku tentang hal itu aku jadi bisa berbagi dengan mereka dan kemudian lebih banyak orang akan tahu," papar Katie.
Sebagai bagian dari Muslim Student Association of CMU, Maham, Assaf, dan Mariam memimpin jalannya program Hijab Week. Assaf pun berbagi pengalamannya selama mengenakan jilbab.
"Saya memakai jilbab untuk tampil lebih modest. Banyak orang pergi dengan gadis-gadis cantik. Aku ingin terlihat beda. Aku ingin mereka tidak menilai Anda hanya karena kecantikan Anda tapi bagaimana cara berpikir Anda," ungkap Assaf.
Sedangkan Kahn bercerita kalau ia tinggal di Midland yang merupakan kota kecil. Sewaktu duduk di bangku sekolah, hanya dia yang muslim dalam kelasnya dan dia tidak pernah merasa dikucilkan. Mungkin karena dirinya tinggal di lingkungan keluarga yang begitu mendukung.
Kahn berharap dengan adanya Hijab Week bisa meredakan stereotipe buruk tentang muslim terutama dalam ranah politik. Ia tidak ingin banyak masyarakat muslim yang jadi korban kejahatan hanya karena pengaruh politik yang sedang bergejolak sekarang.
"Mereka (para peserta Hijab Week) mengalami apa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari dan melihat bagaimana orang-orang berinteraksi dengan mereka, apa itu positif atau negatif. Mudah-mudahan itu akan menghilangkan stereotipe, selalu ada kemungkinan untuk setiap yang dilakukan," tambah Kahn.
Baca juga: Cerita Mahasiswi AS Saat Coba Berhijab Selama 1 Hari
(ays/ays)












































Foto: Central Michigan Life