Mahasiswi AS Coba Berhijab 1 Hari Pasca Pemilu Demi Pecahkan Stereotipe
Arina Yulistara - wolipop
Selasa, 22 Nov 2016 10:15 WIB
Pittsburgh
-
Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat yang baru. Kemenangan Trump membuat masyarakat muslim khawatir. Bahkan dikabarkan terjadi lonjakan terhadap tindakan rasisme dan diskriminasi terhadap warga muslim pasca hasil pemilu diumumkan.
Untuk membantu membangkitkan citra positif tentang muslim serta memudarkan stereotipe buruk mengenai Islam, beberapa hijabers melakukan berbagai aksi sosial. Salah satunya dengan menggelar acara hijab seperti yang dilakukan oleh para mahasiswi di Universitas Pittsburgh, Pennsylvania.
Mahasiswi yang tergabung dalam komunitas Muslim Student Association (MSA) di Universitas Pittsburgh ramai-ramai menggelar acara hijab. Tujuannya untuk mengajak para mahasiswi lain baik muslim maupun agama lain mencoba berhijab selama satu hari lalu menceritakan apa yang mereka alami.
Dalam acara dengan nama 'Islam Awareness Week' itu, para mahasiswi yang tergabung dalam MSA tidak berharap kegiatan tersebut bisa mengundang banyak perhatian. Mereka hanya ingin menunjukkan bahwa wanita muslim sama saja seperti wanita umumnya begitu pula masyarakat muslim lainnya.
Para anggota MSA berharap bisa menunjukkan kalau semua lapisan masyarakat Amerika memiliki keragaman baik ras maupun agama. Namun sebagai warga Amerika tetap bersatu.
"Orang-orang membutuhkan wadah untuk berbicara dan bagaimana cara menumbuhkan rasa persatuan," ujar Aya Shehata, mahasiswi sekaligus ketua kegiatan sosial dari MSA dilansir dari The Incline.
Acara dilakukan dengan membuat tantangan kepada para mahasisiwi untuk mencoba menutup kepala mereka menggunakan scarf selama satu hari. Setelahnya mereka diminta menceritakan apa yang terjadi selama berhijab.
Para panitia acara berkumpul di lobi Litchfield Towers untuk menggelar acara tersebut. Ketika berbicara di depan mahasiswi lainnya, Shehata sedikit bercerita kalau ia mengenakan jilbab sejak berusia 14 tahun.
Shehata mengatakan kalau hijab hanya sebagai simbol keimanannya. Sebaiknya orang-orang tidak menilai dari penampilan saja tapi bagaimana tingkah lakunya.
"Mereka tidak melihat kamu dari penampilan Anda tapi mereka harusnya melihat Anda," ujar Shehata.
Di acara tersebut, ada beberapa mahasiswi yang tertarik mencoba mengenakan jilbab. Salah satunya adalah Alexa Connors. Ia menuturkan ingin mencoba merasakan bagaimana menjadi seorang hijabers selama satu hari.
Setelah satu jam mengenakan jilbab, Alexa bercerita kalau ia banyak dipuji temannya. "Saat aku mau masuk kelas, temanku mengatakan kalau aku lebih cantik," ceritanya. (aln/hst)
Untuk membantu membangkitkan citra positif tentang muslim serta memudarkan stereotipe buruk mengenai Islam, beberapa hijabers melakukan berbagai aksi sosial. Salah satunya dengan menggelar acara hijab seperti yang dilakukan oleh para mahasiswi di Universitas Pittsburgh, Pennsylvania.
Mahasiswi yang tergabung dalam komunitas Muslim Student Association (MSA) di Universitas Pittsburgh ramai-ramai menggelar acara hijab. Tujuannya untuk mengajak para mahasiswi lain baik muslim maupun agama lain mencoba berhijab selama satu hari lalu menceritakan apa yang mereka alami.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para anggota MSA berharap bisa menunjukkan kalau semua lapisan masyarakat Amerika memiliki keragaman baik ras maupun agama. Namun sebagai warga Amerika tetap bersatu.
"Orang-orang membutuhkan wadah untuk berbicara dan bagaimana cara menumbuhkan rasa persatuan," ujar Aya Shehata, mahasiswi sekaligus ketua kegiatan sosial dari MSA dilansir dari The Incline.
First up at the @PittMSA hijab challenge is Alexa, a junior. She said she wants to know what it would be like. pic.twitter.com/Pv4MXgFEd9
— MJ Slaby (@mjslaby) November 17, 2016
Acara dilakukan dengan membuat tantangan kepada para mahasisiwi untuk mencoba menutup kepala mereka menggunakan scarf selama satu hari. Setelahnya mereka diminta menceritakan apa yang terjadi selama berhijab.
Para panitia acara berkumpul di lobi Litchfield Towers untuk menggelar acara tersebut. Ketika berbicara di depan mahasiswi lainnya, Shehata sedikit bercerita kalau ia mengenakan jilbab sejak berusia 14 tahun.
Shehata mengatakan kalau hijab hanya sebagai simbol keimanannya. Sebaiknya orang-orang tidak menilai dari penampilan saja tapi bagaimana tingkah lakunya.
"Mereka tidak melihat kamu dari penampilan Anda tapi mereka harusnya melihat Anda," ujar Shehata.
Di acara tersebut, ada beberapa mahasiswi yang tertarik mencoba mengenakan jilbab. Salah satunya adalah Alexa Connors. Ia menuturkan ingin mencoba merasakan bagaimana menjadi seorang hijabers selama satu hari.
Setelah satu jam mengenakan jilbab, Alexa bercerita kalau ia banyak dipuji temannya. "Saat aku mau masuk kelas, temanku mengatakan kalau aku lebih cantik," ceritanya. (aln/hst)
Kesehatan
Cara Praktis Rawat Luka Ringan dengan Betadine Ointment
Pakaian Pria
Jordan Rare Air WSH 84 SS Crew, Worth It Dibeli? Simak Panduannya
Pakaian Wanita
Rekomendasi Pakaian Muslim Wanita yang Cocok di Lebaran 2026
Pakaian Wanita
Lebih Mudah Ibadah Saat Bepergian atau Mudik! 3 Legging Wudhu Friendly Praktis untuk Muslimah
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Rekomendasi Hijab Pashmina Viscose untuk Lebaran 2026, Harga Mulai Rp 60 Ribu
Baju Lebaran 2026
7 Rekomendasi Setelan Lebaran 2026: Koleksi Baju One Set Ala Gen Z
40 Ucapan Selamat Idul Fitri 2026 untuk Kartu & Bingkisan Lebaran
Buttonscarves Rilis Koleksi Lebaran 2026, Eksplorasi Budaya Mesir dan Maroko
Baju Lebaran 2026
Rekomendasi Tunik Lebaran 2026: Pilihan Brand Lokal Terbaik Mulai Rp 100 Ribu
Most Popular
1
Ratu Yordania Memohon Putranya Dibebaskan Setelah Batal Jadi Calon Raja
2
Foto Maia Estianty Bukber Bareng Anak-Calon Mantu, Ada Bumil & Calon Manten
3
Rekomendasi Hijab Pashmina Viscose untuk Lebaran 2026, Harga Mulai Rp 60 Ribu
4
Viral Divorce Dust, Tren Makeup untuk Bongkar Pasangan Selingkuh
5
Potret Ganteng Gubernur Termuda Jepang Saat Kerja, Pesonanya Bikin Salfok
MOST COMMENTED











































