Lewat Seni, Hijabers Malaysia Ini Coba Redakan Islamophobia di Amerika
Arina Yulistara - wolipop
Rabu, 27 Jul 2016 11:36 WIB
Jakarta
-
Pandangan negatif tentang masyarakat muslim masih menyelimuti sekelompok orang di dunia. Beberapa wanita muslim berhijab pun menjadi korban dari sikap diskriminatif para islamophobia terutama yang tinggal di negara barat. Melihat hal itu, sejumlah wanita muslim berusaha untuk meredakan islamophobia dengan menggelar acara yang menginspirasi.
Tak hanya itu, beberapa wanita muslim juga berusaha untuk melawan kelompok pembenci Islam lewat karya mereka. Seperti yang dilakukan oleh Azzah Sultan. Wanita 20 tahun itu berusaha meredakan stereotipe buruk tentang hijabers lewat karya seninya.
Ya, Azzah mencoba mengajak seluruh muslimah untuk turut berpartisipasi dalam karya terbarunya yang dinamakan 'Home Sweet Home'. Wanita asal Malaysia yang kini berdomisili di New York itu mengajak muslimah Amerika lewat media sosialnya baik Facebook, Tumblr, dan Instagram.
Azzah meminta para muslimah Amerika untuk menyumbangkan jilbab warna merah, putih, atau biru untuk proyek tersebut. Ia mengaku mendapatkan banyak sumbangan dari berbagai negara di Amerika. Seluruh jilbab yang didapatkannya dijahit semua untuk menciptakan bendera Amerika.
Harapannya potongan bendera itu untuk menunjukkan bahwa menjadi wanita muslim tidak membuat mereka kehilangan identitasnya sebagia warga Amerika.
"Saya menjahit syal ini dengan tangan bersama-sama, melihat latar belakang yang berbeda-beda dan cerita dari para muslimah yang kita gabungkan menjadi satu," tutur Azzah dilansir dari Huffington Post.
Baca juga: 50 Inspirasi OOTD Hijabers Dunia
Azzah bercerita kalau ia membuat proyek tersebut karena tergugah setelah pindah ke Amerika di usia 16 tahun dan melihat masih banyak masyarakat yang tidak paham tentang Islam. Beberapa dari mereka masih berpandangan buruk dengan masyarakat muslim terutama yang mengenakan jilbab.
Menurut wanita yang melanjutkan pendidikan di Parsons School of Design, New York, itu tak hanya masyarakat tapi media di negara barat masih sering salah dalam merepresentasikan wanita berhijab. Tak sedikit yang menganggap hijab sebagai simbol penindasan, tradisional, kuno, dan pandangan negatif lainnya.
Maka dari itu, Azzah berusaha menampilkan hal yang positif lewat karya seninya. "Saya menggunakan seni untuk mengekspresikan perasaan frustasi saya kepada masyarakat," ujar Azzah.
Selain menjahit kerudung, Azzah juga memamerkan serial fotografinya di website pribadinya yang berjudul 'We Are Not The Same'. Ia menampilkan foto-foto wanita muslim berpenampilan modern sesuai dengan minat mereka.
"Wanita muslim juga memiliki kegiatan favorit, kepribadian yang ceria, budaya, dan hobi berbeda-beda," tambahnya.
Di akhir kata, Azzah berharap setelah lulus kuliah nanti dia bisa mempunyai galeri seni sendiri sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana.
"Tujuan utama saya insya Allah untuk memiliki ruang galeri sendiri di mana saya bisa bekerja dengan wanita muslim lainnya. Seperti menciptakan lingkungan di mana kita bisa mengekspresikan diri melalui seni," pungkasnya. (ays/ays)
Tak hanya itu, beberapa wanita muslim juga berusaha untuk melawan kelompok pembenci Islam lewat karya mereka. Seperti yang dilakukan oleh Azzah Sultan. Wanita 20 tahun itu berusaha meredakan stereotipe buruk tentang hijabers lewat karya seninya.
![]() |
Ya, Azzah mencoba mengajak seluruh muslimah untuk turut berpartisipasi dalam karya terbarunya yang dinamakan 'Home Sweet Home'. Wanita asal Malaysia yang kini berdomisili di New York itu mengajak muslimah Amerika lewat media sosialnya baik Facebook, Tumblr, dan Instagram.
Azzah meminta para muslimah Amerika untuk menyumbangkan jilbab warna merah, putih, atau biru untuk proyek tersebut. Ia mengaku mendapatkan banyak sumbangan dari berbagai negara di Amerika. Seluruh jilbab yang didapatkannya dijahit semua untuk menciptakan bendera Amerika.
![]() |
Harapannya potongan bendera itu untuk menunjukkan bahwa menjadi wanita muslim tidak membuat mereka kehilangan identitasnya sebagia warga Amerika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: 50 Inspirasi OOTD Hijabers Dunia
Azzah bercerita kalau ia membuat proyek tersebut karena tergugah setelah pindah ke Amerika di usia 16 tahun dan melihat masih banyak masyarakat yang tidak paham tentang Islam. Beberapa dari mereka masih berpandangan buruk dengan masyarakat muslim terutama yang mengenakan jilbab.
Menurut wanita yang melanjutkan pendidikan di Parsons School of Design, New York, itu tak hanya masyarakat tapi media di negara barat masih sering salah dalam merepresentasikan wanita berhijab. Tak sedikit yang menganggap hijab sebagai simbol penindasan, tradisional, kuno, dan pandangan negatif lainnya.
Maka dari itu, Azzah berusaha menampilkan hal yang positif lewat karya seninya. "Saya menggunakan seni untuk mengekspresikan perasaan frustasi saya kepada masyarakat," ujar Azzah.
Selain menjahit kerudung, Azzah juga memamerkan serial fotografinya di website pribadinya yang berjudul 'We Are Not The Same'. Ia menampilkan foto-foto wanita muslim berpenampilan modern sesuai dengan minat mereka.
"Wanita muslim juga memiliki kegiatan favorit, kepribadian yang ceria, budaya, dan hobi berbeda-beda," tambahnya.
![]() |
Di akhir kata, Azzah berharap setelah lulus kuliah nanti dia bisa mempunyai galeri seni sendiri sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana.
"Tujuan utama saya insya Allah untuk memiliki ruang galeri sendiri di mana saya bisa bekerja dengan wanita muslim lainnya. Seperti menciptakan lingkungan di mana kita bisa mengekspresikan diri melalui seni," pungkasnya. (ays/ays)














































