Ini Baju Khas Indonesia yang Bisa Jadi Tren Hijab Menurut Musa Widyatmodjo
Arina Yulistara - wolipop
Selasa, 10 Mei 2016 17:08 WIB
Jakarta
-
Ketika melihat tren hijab tiga atau empat tahun lalu, gaya tumpuk, tabrak warna, tabrak motif, begitu populer di Indonesia. Seiring bergantinya tahun, tren busana muslim menjadi lebih simpel dan sederhana. Setahun belakangan ini, penerapan gaya tumpuk atau layering kembali tren tapi dalam konsep yang simpel dengan pemilihan warna senada serta netral.
Sementara untuk potongannya, tunik mendominasi gaya hijabers saat ini. Sebelumnya kaftan dan abaya yang digemari wanita muda berhijab Indonesia. Potongan tunik, kaftan, atau abaya menurut desainer senior Musa Widyatmodjo kurang bisa merepresentasikan busana muslim khas Indonesia. Dikatakannya lagi, seharusnya Indonesia punya gaya hijab yang bisa menjadi tren baru dan khas Tanah Air. Tren seperti apa yang dimaksud?
Ketika berbincang dalam talkshow bersama CNN Indonesia, Musa menuturkan bahwa kain dari berbagai daerah bisa dimanfaatkan untuk menciptakan tren hijab baru yang mencirikan negeri ini. Dengan demikian maka para pelaku mode khususnya busana muslim tidak lagi mengadopsi model hijab dari negara lain.
"Kita banyak justru mengadopsi gaya Timur Tengah seperti kaftan, atau Pakistan kayak tunik. Padahal Indonesia sangat kaya, kita punya budaya yang cukup kuat, kayak baju kurung dari Sumatera Barat itu merepresentasikan busana muslim, kain panjang dengan siluetnya yang beragam, kerudungnya, atau dari Sulawesi ada baju labbu. Itulah yang seharusnya jadi tren baru dalam berhijab," papar Musa dalam talkshow 'Indonesia Kiblat Busana Muslim Dunia' bersama CNN Indonesia, di Lunch @Newsroom, kantor CNN, Gedung Aldecvo Octagon, Lantai 5, Jl. Warung Jati Barat Raya No. 75, Jakarta Selatan, Selasa (10/5/2016).
Ditambahkan Musa, saat Indonesia sudah memiliki gaya hijab sendiri yang mencirikan budaya bangsa ini tanpa mengadopsi dari negara lain barulah siap menjadi kiblat busana muslim dunia. Hingga sekarang, Musa mengatakan Indonesia belum kuat untuk menjadi kiblat fashion muslim dunia namun bukan berarti tidak bisa. Lain hal kalau cita-cita Indonesia menjadi pusat pasar muslimah dunia tentu sangat berpotensi.
"Kalau kiblat itu panutan ya, kayak Paris, Milan, New York, mereka jadi panutan karena punya sejarah, buku-buku, dokumentasi, museum, research tentang fashion, sedangkan di Indonesia kita masih banyak 'bolong-bolongnya', belum punya itu, tapi bukan mengatakan tidak mungkin, bisa saja terjadi Indonesia menjadi kiblat fashion muslim dunia di 2020. Mungkin yang kita bisa lakukan dengan mengatur strateginya untuk mewujudkan impian kita," tambah pria yang sudah 25 tahun menjadi perancang busana itu.
Musa pun menyebutkan bahwa untuk mewujudkan impian Indonesia menjadi kiblat fashion muslim dunia, tak hanya desainer yang andil di dalamnya tapi peranan pemerintah serta media massa juga harus berjalan secara beriringan. Mungkin salah satu langkah yang bisa diambil saat ini dengan membuat satu ciri khas busana muslim yang merepresentasikan Indonesia.
"Kalau kita bicara berhijab, ketika menyebutkan orang Arab atau Timur Tengah kita sudah tahu seperti apa gaya mereka. Kalau di Indonesia ada seribu satu gaya, tapi kalau kita bicara role model atau kiblat kita harus bisa memberikan contoh, bagaimana kita bisa memberikan contoh kalau belum mempunyai ciri khas," ujarnya lagi. (ays/ays)
Sementara untuk potongannya, tunik mendominasi gaya hijabers saat ini. Sebelumnya kaftan dan abaya yang digemari wanita muda berhijab Indonesia. Potongan tunik, kaftan, atau abaya menurut desainer senior Musa Widyatmodjo kurang bisa merepresentasikan busana muslim khas Indonesia. Dikatakannya lagi, seharusnya Indonesia punya gaya hijab yang bisa menjadi tren baru dan khas Tanah Air. Tren seperti apa yang dimaksud?
Ketika berbincang dalam talkshow bersama CNN Indonesia, Musa menuturkan bahwa kain dari berbagai daerah bisa dimanfaatkan untuk menciptakan tren hijab baru yang mencirikan negeri ini. Dengan demikian maka para pelaku mode khususnya busana muslim tidak lagi mengadopsi model hijab dari negara lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditambahkan Musa, saat Indonesia sudah memiliki gaya hijab sendiri yang mencirikan budaya bangsa ini tanpa mengadopsi dari negara lain barulah siap menjadi kiblat busana muslim dunia. Hingga sekarang, Musa mengatakan Indonesia belum kuat untuk menjadi kiblat fashion muslim dunia namun bukan berarti tidak bisa. Lain hal kalau cita-cita Indonesia menjadi pusat pasar muslimah dunia tentu sangat berpotensi.
"Kalau kiblat itu panutan ya, kayak Paris, Milan, New York, mereka jadi panutan karena punya sejarah, buku-buku, dokumentasi, museum, research tentang fashion, sedangkan di Indonesia kita masih banyak 'bolong-bolongnya', belum punya itu, tapi bukan mengatakan tidak mungkin, bisa saja terjadi Indonesia menjadi kiblat fashion muslim dunia di 2020. Mungkin yang kita bisa lakukan dengan mengatur strateginya untuk mewujudkan impian kita," tambah pria yang sudah 25 tahun menjadi perancang busana itu.
Musa pun menyebutkan bahwa untuk mewujudkan impian Indonesia menjadi kiblat fashion muslim dunia, tak hanya desainer yang andil di dalamnya tapi peranan pemerintah serta media massa juga harus berjalan secara beriringan. Mungkin salah satu langkah yang bisa diambil saat ini dengan membuat satu ciri khas busana muslim yang merepresentasikan Indonesia.
"Kalau kita bicara berhijab, ketika menyebutkan orang Arab atau Timur Tengah kita sudah tahu seperti apa gaya mereka. Kalau di Indonesia ada seribu satu gaya, tapi kalau kita bicara role model atau kiblat kita harus bisa memberikan contoh, bagaimana kita bisa memberikan contoh kalau belum mempunyai ciri khas," ujarnya lagi. (ays/ays)











































