Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Terus Jadi Kontroversi, Ini Pembelaan Model Berhijab Pertama H&M

Arina Yulistara - wolipop
Rabu, 07 Okt 2015 12:05 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ist.
Jakarta - Wanita berhijab belum sepenuhnya bebas melakukan aktivitasnya di beberapa negara. Bahkan mereka kerap kali menimbulkan kontroversi karena penggunaan jilbabnya. Salah satu yang mengalaminya adalah Mariah Idrissi, model berhijab yang tampil di kampanye terbaru H&M. Ini juga merupakan pertamakalinya ritel asal Swedia tersebut menampilkan seorang hijabers.

Model yang berbasis di London itu mendapatkan berbagai kritikan dari industri fashion dan masyarakat Islam lain di seluruh dunia. Beberapa masyarakat Islam mengatakan bahwa ia 'keluar' dari kesederhaan dan batas-batas sebagai muslimah. Terus menjadi kontroversi, Mariah kembali memberikan pembelaan baik lewat media maupun jejaring sosialnya.

"Aku tidak memakai jilbab untuk fashion dan 'oh aku ini muslim'. Pertama aku muslim dan kemudian aku juga ingin membuat hijabku sedikit lebih modis bukan berarti aku melakukan apa yang dilarang," tutur Mariah seperti dilansir dari NBC News.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mariah melanjutkan kalau ia hanya salah satu dari banyak wanita muslim yang kini ingin terlihat lebih modern dan stylish tanpa melanggar kaidahnya. Ia mencontohkan, salah satu blog dengan nama 'The Muslim Girl' juga berbagi tips menggunakan hijab agar terlihat lebih trendi untuk masyarakat luas.

Model berdarah Pakistan-Maroko itu juga menambahkan kalau beberapa muslimah yang masih konservatif mencela penampilannya dan mengkritik sekaligus menduga kalau kampanye H&M ini mengandung unsur politik. Namun seorang juru bicara H&M menegaskan kalau label high street itu tidak mengaitkan kampanyenya dengan agama maupun politik.

Wanita 23 tahun ini pun membela dirinya dengan menyatakan kalau perannya sebagai model berhijab yang melakukan pemotretan untuk salah satu label fashion bukanlah sesuatu yang baru. Sebelumnya sudah banyak hijabers yang bekerja sama dengan berbagai ritel ternama.

"Semua yang aku lakukan itu mainstream karena memang ini normal dan harus dilihat sebagai sesuatu yang normal," ujar Mariah.

Mariah berharap masyarakat lebih berpikiran terbuka. Menurutnya tidak ada salahnya merek terkenal menggunakan model dengan latar belakang yang berbeda-beda baik secara ras maupun agama.

"Ada begitu banyak wanita yang berbeda latar belakang di dunia ini, seperti wanita Yahudi, Kristen, hamil, sampai wanita yang tidak suka dengan bentuk tubuh mereka. Aku hanya ingin mencoba menggabungkan kesederhaan muslimah dengan mode agar tidak lagi dipandang sebelah mata," tambahnya.

(aln/aln)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads