ADVERTISEMENT

Warna-warni Tenun Buna Khas Wini, Harganya Bisa Rp 3 Juta per Lembar

Inkana Putri - wolipop Minggu, 11 Sep 2022 10:25 WIB
Tapal Batas Wini Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Timor Tengah Utara -

Nusa Tenggara Timur memang terkenal dengan ragam jenis kain tenunnya. Bahkan, setiap daerah di NTT memiliki ciri khas motif tenunnya masing-masing. Di Kota Kecil Wini misalnya, daerah ini terkenal dengan motif futus, sotis, dan buna.

Penanggung Jawab Kelompok Tenun Desa Tainsala, Fidelishake mengatakan menenun memang merupakan aktivitas yang telah dilakukan para wanita Timor sejak zaman nenek moyang. Bahkan, aktivitas tenun juga menjadi salah satu mata pencaharian para wanita di sana.

"Kita di sini orang Timor kerja pokoknya bagi ibu-ibu ya tenun ini. Itu sejak dari nenek moyang sampai sekarang kita jalani. Sejak dari nenek moyang itu, kita sudah belajar untuk tenun. Namanya adat orang Timor, dia punya kerja pokoknya tenun," ujarnya kepada detikcom baru-baru ini.

Lebih lanjut, ia mengatakan masyarakat di desanya umumnya menenun motif futus, sotis, dan buna. Adapun setiap motifnya memiliki kegunaan yang berbeda. Untuk sotis, motif ini biasanya dikenakan untuk sehari-hari, sedangkan futus dipakai saat acara adat. Sementara buna, motif ini disebut menjadi motif paling bagus dan biasanya dipakai saat acara pesta atau kumpul resmi.

"Motif buna menangnya di warna, lalu dia modelnya bagus. Kalau futus dia pakai untuk ke gereja kita pakai ini. Kalau pernikahan, yang dipakai buna. Kalau sotis kita pakai sehari-hari, buat anak sekolah untuk rompi," paparnya.

Dari ketiga motif, Fidelishake menyebut tenun motif buna menjadi yang paling mahal. Lantaran untuk membuat satu lembar besar tenun buna dibutuhkan waktu berbulan-bulan. Tak hanya itu, tenun buna juga memerlukan setidaknya 100 kepala (gulungan) benang, berbeda dengan sotis yang menggunakan 25 kepala, atau sotis yang hanya memakai 10 kepala saja.

Tapal Batas WiniTenun Buna NTT /Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Menariknya lagi, satu lembar besar tenun buna berukuran 2x1 meter harganya pun bisa mencapai Rp 3 juta. Fidelishake menyebut proses pembuatan buna yang berbeda juga jadi alasan motif yang satu ini dihargai mahal.

"Kalau yang paling mahal itu buna, kalau yang besar itu Rp 2,5 juta - Rp 3 juta. Dia dijual mahal karena dia (juga) sering dipakai untuk seragam-seragam orang-orang besar di kantor. Jadi mereka butuh motifnya bagus, terus yang punya model," jelasnya.

"Penyebabnya dia itu tidak tenun begini, dia langsung dianyam, diikat. Dia pakai benang, kita potong benang pendek-pendek begini, baru kita lilit. Jadi dia satu hari dapatnya hanya 2-3 cm, kadang perlu waktu (pembuatannya) sampai 2-3 bulan," lanjutnya.

Fidelishake menyebut dalam satu bulan kelompok tenun di desanya ini bisa menjual hingga 10 lembar tenun. Namun, motif yang dijual biasanya berdasarkan permintaan pelanggan.

"Kita biasanya buat tenun kita lihat dari langganan yang pesan. Kalau pesan motif ini, kita kerjanya motif ini. Kalau pesannya sotis, kita kerjanya sotis. Kalau dia butuh buna, kita kasih tau waktu dia butuh waktu 2-3 bulan baru bisa diambil. Tapi yang paling laku ini sotis, kita kirim lewat Atambua, Atambua ke Timor atau ke Bali. Ya (dijual) sampai Timor Leste (juga) karena ini kan perbatasan Timor Leste," katanya.

Kota kecil Wini, NTT, memiliki bentang alam yang indah. Di Wini, travelers juga bisa merekam momen sunset di Pantai Oeusapi.Kota kecil Wini, NTT, memiliki bentang alam yang indah. Di Wini, travelers juga bisa merekam momen sunset di Pantai Oeusapi. Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Dalam membuat tenun, Fidelishake mengatakan pihaknya turut didukung oleh bantuan pinjaman dari BRI. Kelompok tenun yang terbentuk tahun 2018 ini mengatakan awalnya mereka kesulitan modal untuk mengembangkan usaha tenun. Sejak saat itulah akhirnya mereka meminjam modal guna mengembangkan usaha mereka.

"Awalnya dibentuk kita nggak punya modal, dapat bantuan dari BRI modal Rp 5 juta. Kita stor sampai tahun 2022 dan kita lanjutkan pinjam Rp 10 juta untuk melanjutkan modal pembuatan tenun ikat," katanya.

Fidelishake mengungkapkan modal tersebut mereka gunakan untuk membeli benang. Berkat bantuan ini, ia mengaku ibu-ibu Kelompok Tenun Desa Tainsala kini dapat memajukan usaha tenunnya.

"Modalnya itu kita gunakan untuk beli benang untuk tenun. Terima kasih BRI sudah membantu ibu-ibu tenun ikat. Semoga ke depan lagi bisa membantu," tutupnya.

Sebagai informasi, detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!



Simak Video "Kisah di Balik Resort Satu-satunya di Kota Kecil Wini"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)