Pertamakalinya, Barli Asmara Rilis Busana Couture yang Polos
Arina Yulistara - wolipop
Selasa, 31 Jan 2017 10:48 WIB
Jakarta
-
Barli Asmara identik dengan rancangan yang penuh kerumitan detail. Namun pada kesempatan kali ini, Barli mengeluarkan koleksi busana couture yang tampak polos dan tidak ramai detail. Koleksi yang bernuansa clean ini rencananya akan dipamerkan di Indonesia Fashion Week (IFW) 2017 pada Sabtu (4/1/2017).
Pria yang sudah lebih dari 15 tahun berkarya itu merilis rangkaian busana bertajuk 'Black Orchid Fervor'. Terinspirasi dari anggrek hitam dan putih, warna yang ditampilkan juga monokrom serta solid. Barli tidak mengenakan taburan payet atau beads yang biasa ia terapkan tapi lebih memilih bermain dengan struktur busananya. Meski tidak ramai detail tapi akan terselip aplikasi bunga Anggrek yang merekat pada rancangannya.
"Saya yang selalu kuat dengan detail ingin mengubah mindset saya gimana buat busana yang clean, simple tapi tetap bisa elegan. Orang sekarang capek ya haduh payet-payet lagi. Makanya saya sekarang mengeluarkan yang clean tapi tetap ada detail, aplikasi kayak anggrek. Bunga 3D dari bahan organza dan sisinya solid. Tapi ini tetap couture," jelas Barli saat berbincang di Veranda Hotel, Jakarta Selatan, Senin (30/1/2017).
Menggunakan material satin dan organza sebagai detail bunga Anggrek, Barli menyiapkan 13 koleksi untuk IFW 2017. Potongan busananya lebih feminin dan klasik. Look pada peragaan busana nanti juga rencananya dibuat santai menggunakan sandal beralas datar dan tema riasan no makeup makeup. Meski demikian, kesan elegan tetap tercipta dari siluet busana yang disuguhkan.
Bercerita kepada Wolipop, pria yang akhir tahun lalu mengeluarkan buku bertajuk Lima Belas Warsa Barli Asmara, di Antara Gemerlap Ornamentasi itu mengatakan kalau ia sebenarnya cukup bingung awalnya untuk merilis koleksi ini karena waktunya sangat singkat kurang dari satu bulan. Bagaimana caranya Barli bisa menyuguhkan koleksi baru yang tetap elegan dalam waktu sebentar.
"Kalau ngomongin waktu ini kan dekat banget waktunya, tapi ini komitmen aku sebagai desainer mau waktunya seminggu atau dua minggu ya hajar saja. Tapi kalian tahu ya waktu ini bukan Barli. Biasanya aku nyiapin koleksi tiga atau empat bulan sebelumnya tapi aku berharap koleksi ini bisa disukai masyarakat," tambah pria kelahiran Bandung itu.
Terkait koleksi yang ditampilkan, Barli menuturkan kalau rancangan terbaru ini memiliki sejarah di baliknya. Mengapa ia memilih bunga anggrek hitam? Karena menurutnya tidak semua orang bisa menanam anggrek. Bahkan ada ungkapan yang mengatakan anggrek bisa tumbuh jika ditanam oleh orang 'bertangan dingin'. Belum lagi bila waktu dan cuacanya tidak tetap maka tanaman anggrek bisa mati.
Terinspirasi dari kehidupan bunga anggrek, Barli mencoba menuangkannya dalam sebuah koleksi baru. Ia pun memilih Black Orchid Ferfor yang termasuk jenis anggrek pada abad ke-17. Barli ingin menuangkan rancangan yang klasik, simpel, dan elegan. Ia juga menggambarkan busananya seperti gaun-gaun putri Yunani yang flowy.
"Black Orchid Ferfor ini adalah suatu kehidupan anggrek, ada yang hitam dan putih tumbuh di abad ke-17. Dia kalau mau tumbuh susah-susah gampang karena sangat sensitif. Dia punya keegoisan yang cukup tinggi. Makanya kita harus yakin saat mengerjakannya. Segala sesuatu harus yakin, dengan warnanya putih dan hitam itu seperti Ying dan Yang yang merupakan satu kesatuaan dalam feng shui atau mungkin kesempurnaan," tambahnya kemudian.
Dalam 13 koleksinya, salah satu desainer dari Wardah itu tidak menyelipkan hijab. Hanya saja Barli mengatakan beberapa potongan seperti long dress atau lengan panjang bisa dipadankan dengan jilbab. Rencananya, Barli tertarik merilis koleksi ready to wear terbaru agar bisa menjamah masyarakat metropolitan pecinta busana praktis. (ays/ays)
Pria yang sudah lebih dari 15 tahun berkarya itu merilis rangkaian busana bertajuk 'Black Orchid Fervor'. Terinspirasi dari anggrek hitam dan putih, warna yang ditampilkan juga monokrom serta solid. Barli tidak mengenakan taburan payet atau beads yang biasa ia terapkan tapi lebih memilih bermain dengan struktur busananya. Meski tidak ramai detail tapi akan terselip aplikasi bunga Anggrek yang merekat pada rancangannya.
"Saya yang selalu kuat dengan detail ingin mengubah mindset saya gimana buat busana yang clean, simple tapi tetap bisa elegan. Orang sekarang capek ya haduh payet-payet lagi. Makanya saya sekarang mengeluarkan yang clean tapi tetap ada detail, aplikasi kayak anggrek. Bunga 3D dari bahan organza dan sisinya solid. Tapi ini tetap couture," jelas Barli saat berbincang di Veranda Hotel, Jakarta Selatan, Senin (30/1/2017).
Foto: Arina Yulistara/Wolipop |
Menggunakan material satin dan organza sebagai detail bunga Anggrek, Barli menyiapkan 13 koleksi untuk IFW 2017. Potongan busananya lebih feminin dan klasik. Look pada peragaan busana nanti juga rencananya dibuat santai menggunakan sandal beralas datar dan tema riasan no makeup makeup. Meski demikian, kesan elegan tetap tercipta dari siluet busana yang disuguhkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ngomongin waktu ini kan dekat banget waktunya, tapi ini komitmen aku sebagai desainer mau waktunya seminggu atau dua minggu ya hajar saja. Tapi kalian tahu ya waktu ini bukan Barli. Biasanya aku nyiapin koleksi tiga atau empat bulan sebelumnya tapi aku berharap koleksi ini bisa disukai masyarakat," tambah pria kelahiran Bandung itu.
Terkait koleksi yang ditampilkan, Barli menuturkan kalau rancangan terbaru ini memiliki sejarah di baliknya. Mengapa ia memilih bunga anggrek hitam? Karena menurutnya tidak semua orang bisa menanam anggrek. Bahkan ada ungkapan yang mengatakan anggrek bisa tumbuh jika ditanam oleh orang 'bertangan dingin'. Belum lagi bila waktu dan cuacanya tidak tetap maka tanaman anggrek bisa mati.
Terinspirasi dari kehidupan bunga anggrek, Barli mencoba menuangkannya dalam sebuah koleksi baru. Ia pun memilih Black Orchid Ferfor yang termasuk jenis anggrek pada abad ke-17. Barli ingin menuangkan rancangan yang klasik, simpel, dan elegan. Ia juga menggambarkan busananya seperti gaun-gaun putri Yunani yang flowy.
"Black Orchid Ferfor ini adalah suatu kehidupan anggrek, ada yang hitam dan putih tumbuh di abad ke-17. Dia kalau mau tumbuh susah-susah gampang karena sangat sensitif. Dia punya keegoisan yang cukup tinggi. Makanya kita harus yakin saat mengerjakannya. Segala sesuatu harus yakin, dengan warnanya putih dan hitam itu seperti Ying dan Yang yang merupakan satu kesatuaan dalam feng shui atau mungkin kesempurnaan," tambahnya kemudian.
Dalam 13 koleksinya, salah satu desainer dari Wardah itu tidak menyelipkan hijab. Hanya saja Barli mengatakan beberapa potongan seperti long dress atau lengan panjang bisa dipadankan dengan jilbab. Rencananya, Barli tertarik merilis koleksi ready to wear terbaru agar bisa menjamah masyarakat metropolitan pecinta busana praktis. (ays/ays)











































Foto: Arina Yulistara/Wolipop