Gaya Antimainstrem Tri Handoko Garap Tenun Sobi dari Sulawesi

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 10 Mei 2016 15:36 WIB
Foto: Mohammad Abduh
Jakarta - Desainer Tri Handoko mendapat kesempatan untuk memamerkan karya teranyarnya di Jakarta Fashion & Food Festival 2016. Karyanya naik pentas di 'Jalinan Lungsi Pakan', Senin (9/5/2016), malam sebuah kolaborasi Cita Tenun Indonesia (CTI) dengan enam desainer lokal dalam mengangkat tenun Indonesia.

Bagi Handoko, begitu panggilan akrabnya, peragaan kali ini terasa sangat spesial. Pasalnya, ini adalah kali pertamanya Handoko menggarap tenun.

Semuanya bermula dari sebuah tawaran CTI kepada Handoko, yakni mengolah tenun Sobi dari Sulawesi Tenggara yang kaya akan warna mencolok untuk peragaan tersebut. Sama sekali belum pernah mengangkat jenis tenun apapun, ia sempat ingin menolak tawaran tersebut.



"Apalagi, kain tenun sobi benar-benar berbeda dari karakter desain saya, terutama dari segi warna dan motif. Jujur saja, saya bukan desainer yang pandai menabrakkan warna," ungkap Handoko jelang peragaan.

Namun di satu sisi, Handoko yang dikenal memiliki garis desain yang edgy merasa tertantang. Ia lantas menerima tawaran tersebut.

Mengangkat tema 'Guerrillas' yang berarti seorang pemberontak tunggal demi keadilan, Handoko ingin menerabas arus utama dalam dunia fashion atas nama kebebasan berekspresi.

"Ini adalah wujud kepedulian saya untuk dunia fashion, khususnya revolusi dunia fashion dan mereka yang berani tampil antimainstream," ungkap desainer anggota Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI).



Ia menerjemahkan konsep tersebut ke dalam rancangan yang tidak 'beraturan', entah itu segi potongan maupun padu padan warna dan motif.

Dress, outerwear, dan celana berpotongan asimeteris terlihat cukup mendominasi koleksi ini. Dalam memadukan motif dan warna, Handoko juga tidak begitu memusingkan keindahan estetika. Namun ketidakaturan itu justru menciptakan rasa yang unik.

Sebagai sentuhan akhir, Handoko menghiasi kepala modelnya dengan hairpiece bergaya punk karya Rinaldy A. Yunardi yang semakin menguatkan pesannya, yakni melawan arus utama. (dng/eny)