Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Indonesian Heritage

Kain Tradisional Indonesia yang Paling Mahal

Ferdy Thaeras - wolipop
Kamis, 16 Agu 2012 13:23 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Priyo Oktaviano
Jakarta -

Dari waktu ke waktu, kesadaran pecinta mode Indonesia semakin meningkat dan mencintai warisan budayanya sendiri. Hal ini terealisasikan dari semakin banyaknya sosialita muda hingga publik figur yang dengan bangganya mengenakan busana tradisional ke perhelatan resmi maupun gaya keseharian.

Secara tidak langsung mereka yang menjadi panutan itu, menggerakkan masyarakat awam yang senantiasa disetir pasar untuk tren berbusana. Ketika pasar berubah haluan sesuai tren, alhasil produk massal yang beredar di pasaran, mulai dari pasar eksklusif hingga rakyat pun beradaptasi. Produk buatan dalam negeri pun semakin diminati dan memutar roda industri lebih kencang lagi.

Dari sekian banyak busana etnik yang tersedia di pasaran, semua bermula dari sehelai kain yang kemudian dijahit menjadi sepotong busana. Sehelai kain tradisional Indonesia yang dibuat oleh para pengrajin yang hidupnya didedikasikan untuk membuat kain pun membuat nilai dan harga jualnya semakin tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernahkah terlintas di benak Anda, kain tradisional Indonesia apa yang paling mahal dan tinggi kualitasnya dari berbagai aspek? Koestriastuti Koestedjo dari Cita Tenun Indonesia pun membagi pengetahuannya akan kekayaan tenun.

"Setahu saya kain yang cukup mahal adalah kain Geringsing dari desa Tenganan, Bali. Hal ini dikarenakan nilai sakral dari kain tersebut, dimana prosesnya mengikuti aturan secara adat setempat dengan proses pencelupan warna yang berkali-kali," ujarnya.

Harganya yang tinggi juga dipengaruhi dari aspek motif ragam hias yang cukup sulit, dimana kain ini menggunakan teknik ikat ganda. Teknik ini merupakan pengikatan motif pada benang pakan dan benang lungsi.

Saat menenun, pertemuan antar benang ikat lungsi dan benang pakan menghasikan corak ragam hias tertentu sesuai dengan perencanaan. Baik proses pencelupannya/pewarnaannya maupun proses menenunnya cukup lama. Bisa dibayangkan tingkat kesulitan hingga waktu yang ditempuh untuk membuat sehelai kain yang begitu istimewa ini.

Berangkat dari proses yang luar biasa ini, jarang sekali ada pembeli yang 'tega' memotong kain tersebut dan menjadikannya busana. Mereka memilih untuk menjadikan kain tersebut sebagai koleksi dan jika ingin memakainya, hanya dililitkan di tubuh dan diikat sesuai tatanan yang berlaku dari adat yang sudah ada.

(fer/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads