Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Indonesian Heritage

Benang Emas Konsisten Hiasi Baju Adat Sumatra

Ferdy Thaeras - wolipop
Rabu, 15 Agu 2012 13:04 WIB
...
Dok. Wolipop
Jakarta - Tidak bisa dipungkiri bahwa dari setiap baju adat, terdapat nilai filosofi yang begitu berharga. Ambil saja contoh kebaya hitam dari Jawa yang disebut 'Jangan Menir'. Warnanya yang hitam melambangkan filosofi di dalam gelap justru kita akan menemukan terang.

Beda daerah, beda pula kisahnya, seperti yang disiratkan dari kebanyakan baju adat asal Sumatra. Bila ditelusuri, jumlah hingga nama dari baju tradisional yang dimiliki sangatlah beraneka ragam dan tak terhitung jumlahnya. Sayangnya tanpa preservasi yang baik, busana tersebut punah termakan waktu hingga modifikasi yang tak dilandasi pakem adat.

Mari kita ambil contoh busana tradisional Minangkabau. Pola pilar bangunan menjadi simbolisasi bahwa wanita merupakan tiang yang menahan rumah tangga agar tetap kokoh. Untuk aksen hias yang mewah, benang emas menjadi pilihan sebagai lambang kekayaan alam. Benang emas ini terkadang dimodernisasi dengan penggunaan prada yang sifatnya lebih cepat dan mudah dibuat.
 
Untuk bawahan, wanita Sumatra memilih ragam sarung untuk berbusana. Dari songket hingga tenun ikat, semua ditujukan untuk menjaga kesopanan dan syahwat dari para pria yang sulit dikontrol. Sebagai variasi gaya, ikatan kain ada yang terletak di samping, depan hingga belakang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai pelengkap tampilan, aksesori juga memegang peranan penting. Kalung dan gelang misalnya, keduanya juga memiliki makna tersendiri. Dikatakan kalung melambangkan bahwa seorang selalu berada dalam lingkaran kebenaran dan pendirian yang kokoh. Sedangkan gelang diibaratkan bahwa semua hal memiliki batasan, dimana dalam mengerjakan sesuatu harus disesuaikan dengan batas kemampuan.

Dari sekian banyak modifikasi yang paling sering dilakukan terhadap busana adat, terutama pada kain-kain, adapula yang keliru dan harus dihindari, seperti yang diungkapkan oleh Koestriastuti Koestedjo dari Cita Tenun Indonesia. Ia menekankan terlebih dahulu pada modifikasi yang benar sifatnya.

Untuk penggunaan pada busana hingga tren mode, penataan pola ragam hias dan tata warna boleh saja disesuaikan dengan tren yang berlaku. Berbeda dengan penggunaannya pada produk interior atau produk, corak ragam hias harus ditentukan kegunaannya untuk mencegah persepsi yang salah akan filosofi dari motif.

Modifikasi yang benar adalah corak ragam hias yang diserasikan sesuai kegunaan, manfaat hingga fungsinya terhadap pemakaiannya. Apakah itu untuk busana, interior atau produk.

Tidak bisa dipungkiri, penggunaan warna emas mulai dari tumpahan prada yang memberikan efek emas maksimal hingga benang emas yang memberikan sentuhan mewah yang lebih halus mendatangkan kesan mewah tiada tara. Namun perlu diingat modifikasi yang terlalu ekstrem akan menghilangkan esensi dari keindahan busana adat itu sendiri.

Beberapa bagian busana yang tidak semestinya diberikan sentuhan emas tetap harus dijaga orisinalitasnya, jangan sampai mengejar kesan mewah yang akhirnya justru memberikan kesan berlebihan dan tidak pada tempatnya. Sama halnya dengan penggunaan bahwan warna emas itu sendiri, ketika filosofi adat menghindari penggunaannya sesuai kaidah acara tertentu, jangan dipaksakan untuk tampil beda.

(fer/eny)
...
Hide Ads