Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Daily Runway Review F/W 2011:

Vera Wang, Yigal Azrouel, Vivienne Tam

wolipop
Rabu, 23 Feb 2011 15:37 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Jakarta - Dari Paris hingga Cina, inspirasi budaya memperkaya koleksi  desainer New York ini. Ada yang sukses mengolahnya kembali, adapula yang  tidak dan mendatangkan kritik pedas.

Vera Wang
Parka adalah benda fashion yang bercita rasa high-end, sangat  fungsional, hadir dalam banyak variasi model, dan menjadi hits dalam  pekan mode New York. Vera Wang salah satu desainer yang mengolah parka  menjadi trend dengan menambahkan bulu musang di luar dan di dalamnya.  Setelah puas bermain motif floral dan warna merah musim untuk musim  semi, ia kembali ke palet warna favoritnya, yakni hitam. Layaknya  kombinasi parka pada umumnya, ia disandingkan dengan rompi, gaun sifon, dan celana skinny flannel.

Untuk koleksi gaun malam, pleats (lipit) mendominasi gaun-gaun mewah sebagai detail. Gaun lipit mulai dari panjang, pendek, mengekspos bahu, punggung, menutupi leher maupun lengan menjadi variasi cantik. Inspirasinya diungkapkan oleh sang desainer kepada style.com, yakni  tokoh fashion legendaris seperti Viscountess Thelma Furness, Lady emerald Cunard dan Duchess of Windsor Wallis Simpson. Dari koleksi musim gugurnya, terbukti hanya dengan dua konsep besar, yakni parka dan pleats, Anda tak perlu perhiasan heboh atau payet berkilau untuk tampil mewah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Koleksi lengkap klik di sini.

Yigal Azrouel
Inspirasi rancangan busana pria (menswear) berpindah-pindah sesuai musim. Namun tanpa terkecuali, banyak yang mengambil ide merancang menswear dari koleksi busana wanita rancangan Yigal Azrouel. Dan untuk musim gugur mendatang, kita diajak duduk di jok belakang, kita akan berkendara, ungkap style.com.

Di studionya sebelum sebelum show berlangsung Azrouel bercerita, bahwa berpindahnya peragaan menswearnya ke Paris mendatangkan banyak pemikiran dan salah satunya gaya ala Paris. Gaya Paris yang kental akan gaya maskulin kemudian diperagakan di Lincoln Center. Celana crop dalam warna pop: oranye, pink, biru. Begitu pula versi lain tuxedo dalam bahan wol dan beludru kombinasi kulit. Ia juga menyebut salah satu karyanya sebagai "granddad" coat (mantel kakek).

Ia juga masih mengembuskan ringannya semangat musim semi dalam koleksi musim gugurnya, seperti gaun tipis dengan detail bulu unggas yang secara keseluruhan sangat berdaya pakai tinggi namun spesial dengan detail gaya
tumpuk yang khas wanita Paris.

Koleksi lengkap klik di sini.

Vivienne Tam
Desainer yang satu ini terkadang mengambil ide dari sebuah inspirasi terlalu harfiah, seperti yang dilakukannya dengan koleksinya yang bertemakan opera Cina. Untungnya, koleksi ini terbilang fleksibel untuk  dipakai dalam kehidupan nyata. Konsep yang diambil dari Opera Kun kuno, menghadirkan ragam kerah berstruktur ala kostum panggung. Detail embroidery pun menghiasi hem rok disana-sini.

Sayangnya terlalu banyak embellishments (pemakaian payet dan hiasan) yang terlampau banyak. Alhasil gaun malam dan cocktail dress terlihat berlebihan. Ada gaun tunik dengan hiasan rumbai dilengkapi dengan kerah potong dan print multiwarna. Warnanya terbilang ok, namun menjadi buyar fokusnya karena terlalu banyak detail. Namun kembali lagi, meskipun koleksi terlalu berat di  mata, banyak pihak mengacungi jempol karena sebagai salah satu desainer berdarah Cina yang sukses di New York, ia mau mengangkat kembali budaya asalnya.

Koleksi lengkap klik di sini.

(fer/fer)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads