LVMH Kini Miliki 20% Saham Rumah Mode Hermes
wolipop
Rabu, 22 Des 2010 13:45 WIB
Jakarta
-
Sejak Paris Fashion Week S/S 2011 berakhir bulan Oktober yang lalu, telah tersiar kabar burung bahwa LVMH Group yang membawahi brand high-end internasional seperti Louis Vuitton, Fendi, Loewe, Marc Jacobs, Celine, Kenzo, Givenchy, Christian Dior Perfumes hingga wine Moet & Chandon, mulai melirik untuk membeli saham rumah mode Hermes dan mengelolanya seperti yang dikutip dari Nymag.
Menanggapi hal itu, CEO Hermes, Patrick Thomas menuturkan kepada WWD, "Saya tidak pernah berpikir rumah mode seperti Hermes bisa bertahan dalam lingkungan yang dikendalikan oleh kekuasaan uang. Rumah mode ini telah membuktikan kepada dunia berulang-ulang bahwa 'puisi' tidak berhubungan dengan bisnis… Saya hanya berharap agar kekuatan uang tidak akan membunuh sang bunga yang cantik." (Patrick menganalogikan rumah mode Hermes sebagai puisi dan bunga yang cantik).
Kekhawatiran ini digambarkan pihak rumah mode Hermes dari penggambaran masyarakat 'pekerja' yang tidak sesuai kelasnya untuk menenteng produk-produknya yang 'aristokrat'. Dan ketika LVMH mengelola sebuah rumah mode menjadi sebuah brand yang berdaya jual sekaligus berdaya beli tinggi, otomatis tidak ada lagi eksklusifitas yang telah dijaga sesuai tradisi.
Berbagai upaya pun dilakukan rumah mode Hermes untuk menghindari LVMH membeli sahamnya sejak saat itu. Namun sayangnya, kemarin (21/12/2011), LVMH mengumumkan secara resmi kepada dunia bahwa grupnya telah memiliki 20% dari rumah mode Hermes. Pihak terpercaya dari LVMH juga menyatakan secara tidak resmi bahwa mereka tidak berniat mengambil alih rumah mode Hermes sepenuhnya dalam kurun waktu enam bulan ke depan. Mereka akan membeli sahamnya secara bertahap.
(fer/fer)
Menanggapi hal itu, CEO Hermes, Patrick Thomas menuturkan kepada WWD, "Saya tidak pernah berpikir rumah mode seperti Hermes bisa bertahan dalam lingkungan yang dikendalikan oleh kekuasaan uang. Rumah mode ini telah membuktikan kepada dunia berulang-ulang bahwa 'puisi' tidak berhubungan dengan bisnis… Saya hanya berharap agar kekuatan uang tidak akan membunuh sang bunga yang cantik." (Patrick menganalogikan rumah mode Hermes sebagai puisi dan bunga yang cantik).
Kekhawatiran ini digambarkan pihak rumah mode Hermes dari penggambaran masyarakat 'pekerja' yang tidak sesuai kelasnya untuk menenteng produk-produknya yang 'aristokrat'. Dan ketika LVMH mengelola sebuah rumah mode menjadi sebuah brand yang berdaya jual sekaligus berdaya beli tinggi, otomatis tidak ada lagi eksklusifitas yang telah dijaga sesuai tradisi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(fer/fer)










































