Keunikan Teknik Tenun Rangrang Bali yang Tidak Ditemui di Negara Lain
Bali sarat akan keindahan dan keunikan. Selain alam, tapi juga budaya yang mencakup tradisi menenunnya.
Jenis tenunnya pun beragam, mulai dari endek hingga gringsing. Namun, tenun rangrang menawarkan pesonanya tersendiri.
"Ini suatu teknik tersendiri yang saya belum pernah temukan di negara lain," ujar Syamsidar Isa, pengurus Cita Tenun Indonesia (CTI) bidang pengendali mutu, saat jumpa pers jelang peragaan kolaborasi CTI dengan tiga brand lokal untuk Fashion Nation Senayan City baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibu Tjami, begitu sapaan akrab beliau, merujuk pada detail bolong-bolong yang menghiasi kain.
Dikutip dari situs ceraken.baliprov.go.id, nama "Rangrang" berasal dari sebutan lokal "nyrangnyang" yang berarti kain yang berbentuk bolong-bolong. Kata tersebut bermakna tembus pandang dengan filosofinya yang berkaitan ketulusan dan keikhlasan. Barang siapa yang berbuat demikian akan mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
"Mengapa dibuat seperti itu, apakah ada pengaruh karena awalnya dipakai untuk upacara adat. Kalau nggak salah potong gigi salah satunya. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut," ujarnya.
Ibu Tjami bertutur sembari memperlihatkan salah satu kain rangrang buatan perajin di Desa Seraya Timur.
Kain rangrang lebih dikenal buatan perajin di Nusa Penida. Namun, ia menduga banyak perajin di daerah tersebut berasal dari Seraya Timur. Hanya saja, lanjutnya, kondisi kesejahteraan perajin di Seraya sangat memprihatinkan.
Untuk Fashion Nation 2026, CTI menggandeng Saroong Atelier. Sebanyak 12 set busana akan ditampilkan pada 23 September 2026 mendatang.
(dtg/dtg)









































