Influencer Tarot Didenda Rp 170 Miliar Usai Tuduh Profesor Terlibat Pembunuhan
Seorang influencer pembaca tarot diperintahkan membayar ganti rugi sebesar US$ 10 juta atau sekitar Rp 170 miliar setelah terbukti memfitnah seorang profesor dalam kasus pembunuhan mahasiswa di Amerika Serikat. Kreator konten Ashley Guillard menuduh profesor Rebecca Scofield telah terlibat dalam kasus pembunuhan empat mahasiswa University of Idaho pada 2022.
Ashley dikenal di media sosial karena kerap membahas kasus kriminal besar yang belum terpecahkan, termasuk dengan membaca kartu tarot. Dalam sejumlah video TikTok yang diunggah pada November 2022, ia menuding profesor Rebecca sebagai dalang di balik pembunuhan tersebut. Sebagai informasi, kasus tersebut kini telah menetapkan pembuhnya yakni Bryan Kohberger, yang mengaku bersalah dan dijatuhi empat hukuman penjara seumur hidup.
Dalam gugatan yang diajukan Rebecca pada Desember 2022, disebutkan bahwa Ashley juga menyiratkan atau secara langsung menyatakan bahwa sang profesor memiliki hubungan romantis dengan salah satu korban pembunuhan. Rebecca telah mengirimkan beberapa surat peringatan (cease and desist) agar Ashley menghentikan tudingan tersebut. Namun, konten serupa tetap diunggah, bahkan disertai klaim bahwa Rebecca mengatur pembunuhan karena sang mahasiswa mengancam akan mempublikasikan hubungan mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 6 Juni 2024, hakim federal menyatakan bahwa pernyataan Ashley bersifat memfitnah dan didasarkan hanya pada intuisi spiritual tentang pembunuhan tersebut bukan pada objektifitas. Hakim juga menyoroti bahwa unggahan Ashley tetap berlanjut meskipun Kepolisian Moskow, Idaho, telah merilis pernyataan resmi pada Desember 2022 yang menegaskan Rebecca bukan tersangka dalam penyelidikan.
"Putusan 10 juta dolar ini menegaskan keputusan hakim dan mengirimkan pesan yang jelas bahwa pernyataan palsu di internet memiliki konsekuensi di dunia nyata bagi orang-orang nyata dan tidak dapat diterima di komunitas kami," ungkap Rebecca.
Ia juga menambahkan, "Pembunuhan empat mahasiswa pada 13 November 2022 adalah bab paling gelap dalam sejarah universitas kami. Keputusan hari ini menunjukkan bahwa rasa hormat dan kepedulian harus selalu diberikan kepada para korban dalam tragedi seperti ini."
Ashley merespon putusan tersebut melalui 21 video TikTok yang diunggah pada 2 dan 3 Maret. Dalam video itu, ia membantah keputusan juri dan menyebutnya tidak adil dan konyol. Ia juga mengindikasikan kemungkinan akan mengajukan banding atas putusan tersebut.
(kik/kik)











































