Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Sinopsis District 13: Ultimatum, Aksi Parkour dan Konspirasi yang Menegangkan

Daniel Ngantung - wolipop
Sabtu, 14 Feb 2026 17:10 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

District 13: Ultimatum
Foto: Dok. IMDb
Jakarta -

Film 'District 13: Ultimatum' kembali hadir di Bioskop Trans TV. Film bergenre laga ini tayang pada Sabtu (14/2/2026), tepatnya pukul 23.30 WIB.

Bagi pencinta film aksi Eropa, District 13: Ultimatum menjadi salah satu sekuel yang tak kehilangan tenaga. Film produksi Prancis ini melanjutkan kesuksesan film pertamanya, District 13, dengan skala konflik yang lebih besar sekaligus tensi politik yang lebih tajam.

Disutradarai oleh Patrick Alessandrin dan diproduseri oleh sineas kenamaan Luc Besson, film ini kembali membawa penonton menyusuri kerasnya kehidupan di kawasan kumuh District 13-sebuah distrik terisolasi yang dipagari tembok raksasa dari dunia luar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Beberapa tahun setelah peristiwa film pertama, harapan akan perubahan ternyata tak pernah benar-benar terwujud. Alih-alih membaik, kondisi District 13 justru semakin brutal. Wilayah ini kini dikuasai lima geng besar dari latar belakang etnis berbeda yang saling berebut kekuasaan.
Kerusuhan, perdagangan senjata, dan kekerasan menjadi pemandangan sehari-hari. Situasi ini dimanfaatkan pihak tertentu di pemerintahan untuk menjalankan agenda tersembunyi: rencana penghancuran total District 13 dengan dalih menumpas kriminalitas.


Di tengah konspirasi tersebut, dua nama lama kembali menjadi harapan. Leïto, diperankan oleh David Belle-tokoh yang dikenal sebagai pelopor parkour dunia-masih menjadi penjaga tak resmi distrik. Dengan kelincahan ekstremnya, ia hafal setiap sudut wilayah berbahaya itu.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Kapten Damien Tomaso yang kembali dimainkan Cyril Raffaelli mendapat misi baru. Ia harus menyusup ke dalam distrik dan menjalin aliansi dengan Leïto untuk mengungkap kebenaran di balik operasi militer pemerintah.
Kolaborasi keduanya kembali menghadirkan dinamika menarik: perpaduan aparat hukum dan warga distrik yang sama-sama berjuang mencegah kehancuran.


Sebagai film yang dikenal lewat identitas parkour, District 13: Ultimatum meningkatkan level aksinya. Penonton disuguhi lompatan antargedung, kejar-kejaran di atap kumuh, hingga pertarungan tangan kosong tanpa banyak efek visual.

Namun bukan hanya aksi yang ditawarkan. Sekuel ini memperdalam isu sosial seperti diskriminasi kawasan miskin, manipulasi politik, hingga bagaimana negara bisa menjadikan rakyatnya sendiri sebagai korban kebijakan.

Lewat perpaduan aksi cepat, koreografi parkour autentik, dan cerita konspirasi yang relevan, District 13: Ultimatum tampil sebagai sekuel yang lebih matang. Film ini bukan sekadar tontonan adrenalin, tetapi juga potret keras tentang perjuangan wilayah terpinggirkan melawan kekuasaan.
Bagi penggemar film aksi dengan napas sosial yang kuat, kisah Leïto dan Damien di distrik terlarang ini masih layak untuk diikuti hingga akhir.

(dtg/dtg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads