Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Viral, Wanita Ngaku Baca 120 Buku dalam Setahun Malah 'Dirujak' Netizen

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Selasa, 30 Des 2025 21:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Armah.
Armah. Foto: Dok. X
Jakarta -

Menjelang 2026, banyak orang membagikan pencapaian mereka sepanjang 2025 di media sosial. Salah satunya adalah wanita yang mengaku telah menuntaskan membaca 120 buku dalam setahun.

Unggahannya pun viral, namun alih-alih menuai pujian, klaim tersebut justru memancing cibiran dan perdebatan netizen.

Wanita tersebut adalah Armah, seorang digital marketer sekaligus kreator konten buku. Melalui akun X, ia mengunggah foto dirinya berpose di samping dua tumpukan buku yang menjulang tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam keterangan unggahannya, Armah menulis dengan bangga, "I did it!! 120 books read this year."

Unggahan itu langsung menyita perhatian publik. Tak sedikit yang terkesima dengan pencapaiannya, mengingat banyak orang kesulitan menamatkan bahkan satu atau dua buku dalam setahun.

ADVERTISEMENT

Postingan Armah pun ditonton dan dibicarakan jutaan kali.

"Lumayan banget. Aku baru baca tiga halaman saja sudah ketiduran," tulis seorang warganet.

"120 buku dalam setahun? Itu luar biasa. Otakmu pasti kerja keras banget," komentar pengguna lain.

Namun, pujian tersebut tak berlangsung lama. Sejumlah warganet mulai mempertanyakan validitas pencapaian Armah, terutama setelah mengetahui bahwa sebagian besar buku yang dia baca adalah e-book dan novel romansa dewasa yang oleh sebagian orang disebut sebagai smut books.

"Banyak fiksi itu sampah. Baca 100 novel murahan sama saja seperti nonton reality show berjam-jam," sindir seorang pengguna X.

"Aku baru tahu buku smut dihitung sebagai buku," tulis warganet lain.

Tak berhenti di situ, kritik lain pun muncul. Ada yang membandingkan Armah dengan mahasiswa dan akademisi yang menghabiskan waktu bertahun-tahun membaca jurnal dan buku ilmiah demi keahlian tertentu.

"Baca 120 buku bukan prestasi besar. Coba bandingkan dengan orang yang membaca buku teks dan jurnal untuk jadi ahli di bidangnya," tulis komentar pedas lainnya.

Meski begitu, banyak juga yang menilai kritik tersebut berlebihan. Menurut mereka, apa pun jenis bacaan yang dipilih, kebiasaan membaca tetap layak diapresiasi, terlebih di era digital yang serba cepat seperti sekarang.

Menanggapi tudingan bahwa pencapaiannya tidak nyata, Armah akhirnya angkat bicara. IDiaa membalas komentar-komentar miring dengan membagikan tangkapan layar akun Goodreads miliknya.

"Kepada yang menuduh saya berbohong karena tidak sadar sebagian besar buku itu e-book... tangkapan layar Goodreads saya menyapa," tulisnya, menegaskan bahwa daftar bacaannya memang nyata.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads