Model Seksi Habiskan Uang Rp 2,8 M Demi Punya Bokong Sempurna

Hestianingsih - wolipop Senin, 17 Mei 2021 17:01 WIB
Stephanie Palomares. Stephanie Palomares. Foto: Instagram/@stephhaniepalomares_
Jakarta -

Demi tampil cantik, ada orang yang rela melakukan apa saja. Termasuk mengeluarkan biaya hingga miliaran rupiah untuk operasi plastik.

Seperti yang dilakukan Stephanie Palomares, model seksi dan bintang situs dewasa Onlyfans. Wanita 27 tahun ini menghabiskan uang hingga USD 200 ribu atau sekitar Rp 2,8 miliar demi mendapatkan bentuk bokong yang sempurna.

Dia memilih jalan operasi plastik agar bokongnya terlihat seksi dan besar. Kini Stephanie pun populer di Instagram dengan follower mencapai 1,9 juta setelah memamerkan bokong seksinya di plaform media sosial berbasis foto tersebut.

Meskipun menghabiskan biaya yang tak sedikit, wanita asal Las Vegas, Amerika Serikat, tersebut mengatakan kalau usahanya telah membuahkan hasil. Lewat jualan konten seksi dan endorsement di Instagram, Stephanie mengungkap kalau dia bisa meraih pendapatan tak kalah besar hingga bisa membeli dua properti.

Stephanie Palomares.Stephanie Palomares. Foto: Instagram/@stephhaniepalomares_

Bahkan dia mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1 miliaran dari salah satu properti yang dibelinya tersebut. "Yang aku lakukan hanya kerja keras dan berdoa untuk semua berkah yang kudapat. Beli rumah dengan lima kamar tidur di Vegas. Kini aku dapat penyewa yang membayar tiga kali lipat dari harga hipotek," tulisnya di Instagram.

Namun hidup Stephanie Palomares bukannya tanpa tantangan. Dia kerap kali diganggu penguntit hingga harus memanggil polisi demi keamanannya.

Stephanie terus saja diteror melalui telepon dengan nomor palsu, mengirimkan pizza ke rumah bahkan menuduhnya yang bukan-bukan. Dia juga pernah mendapatkan tindak kekerasan verbal.

"Penguntit adalah masalahnya. Ada satu yang sejauh ini paling buruk di antara semuanya. Dia mengenalku dari berlangganan OnlyFans dan dia terobsesi padaku dari situ," ujarnya seperti dikutip dari Daily Star.

Aksi paling parah yang pernah dialaminya adalah ketika penguntit tersebut menelepon polisi dan memberi laporan palsu. Sang penguntit mengatakan bahwa Stephanie telah menyandera seseorang dan menyimpan mayat di rumahnya.

"Pada satu malam, enam polisi menggeruduk rumahku seperti anggota SWAT. Dia menunjuk-nunjuk dan menyuruhku jalan ke depan," tuturnya.

Gangguan ekstrem dari penguntit tidak membuat Stephanie takut. Dia justru berani melawan dan tidak mau menuruti kemauannya.

(hst/hst)