Ini Marvia Malik, Presenter Berita Transgender Pertama di Pakistan
Rahmi Anjani - wolipop
Selasa, 27 Mar 2018 10:19 WIB
Jakarta
-
Seorang pembaca berita di stasiun televisi berita Pakistan jadi perbincangan beberapa waktu ini. Wanita tersebut diketahui merupakan presenter transgender pertama yang pernah membawakan acara berita. Adalah Marvia Malik yang menjadi pembaca berita di stasiun Kohenoor setelah tiga bulan training. Ia pun mengaku senang bica mencapai posisi tersebut.
"Mimpi yang aku inginkan untuk diriku sendiri, aku bisa menaiki tangga pertama untuk meraihnya," ungkap Marvia Malik kepada BBC yang mengaku tak bisa berhenti berteriak setelah tahu diterima jadi pembaca berita.
Transgender sendiri belum menjadi golongan yang diterima secara luas di Pakistan. Beberapa bahkan terpaksa harus mengemis, menari, hingga melakukan prostitusi untuk menghasilkan uang. Tentunya langkah Marvia Malik menjadi seorang pembaca berita adalah sebuah kemajuan besar. Dengan profesinya, ia pun berharap bisa meningkatkan taraf hidup komunitas transgender di Pakistan.
Baca Juga: Kalahkan Finalis Indonesia, Transgender Ini Jadi yang Tercantik di Dunia
"Komunitas kami seharusnya diperlakukan dengan setara dan seharusnya tidak ada diskriminasi kepada semua gender. Kami seharusnya diberikan hal setara dan dianggap seperti warga biasa dari pada gender ketiga," kata Marvia.
Sebelum menjadi presenter berita, Marvia Malik sebelumnya bekerja sebagai seorang model. Ketika ditawari menjadi pembawa acara ia pun mengaku senang hingga menangis. Meski sudah menelurkan prestasi, sayangnya Marvia masih dikucilkan oleh keluarga.
Baca Juga: Wanita Transgender Ini Sadar Tertarik Pada Wanita Usai Kencani 100 Pria
"Keluargaku tahu aku sudah bekerja sebagai model dan mereka tahu aku bekerja sebagai pembawa berita. Ini adalah zaman media sosial dan tidak ada yang tidak diketahui keluargaku. Tapi mereka tetap mengucilkanku," tambahnya.
Pihak stasiun televisi Kohenoor sendiri mengaku tidak mempermasalahkan gender Marvia Malik. Apalagi awal bulan ini, senator Pakistan telah mendukung pembiayaan untuk melindungi hak orang-orang transgender. Di Pakistan, kini para transgender sudah berhak untuk memilih jenis kelamin mereka sendiri.
Sebelumnya di Pakistan pernah terjadi kasus di mana seorangaktivitastransgender meninggal karena terlalu lama mendapat penanganan di rumah sakit. Ketika itu, pihak rumah sakit mengaku bingung harusmenempatkantransgender tersebut di ruangan pria atau wanita. (ami/ami)
"Mimpi yang aku inginkan untuk diriku sendiri, aku bisa menaiki tangga pertama untuk meraihnya," ungkap Marvia Malik kepada BBC yang mengaku tak bisa berhenti berteriak setelah tahu diterima jadi pembaca berita.
Transgender sendiri belum menjadi golongan yang diterima secara luas di Pakistan. Beberapa bahkan terpaksa harus mengemis, menari, hingga melakukan prostitusi untuk menghasilkan uang. Tentunya langkah Marvia Malik menjadi seorang pembaca berita adalah sebuah kemajuan besar. Dengan profesinya, ia pun berharap bisa meningkatkan taraf hidup komunitas transgender di Pakistan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Komunitas kami seharusnya diperlakukan dengan setara dan seharusnya tidak ada diskriminasi kepada semua gender. Kami seharusnya diberikan hal setara dan dianggap seperti warga biasa dari pada gender ketiga," kata Marvia.
Foto: Kohenoor |
Baca Juga: Wanita Transgender Ini Sadar Tertarik Pada Wanita Usai Kencani 100 Pria
"Keluargaku tahu aku sudah bekerja sebagai model dan mereka tahu aku bekerja sebagai pembawa berita. Ini adalah zaman media sosial dan tidak ada yang tidak diketahui keluargaku. Tapi mereka tetap mengucilkanku," tambahnya.
Pihak stasiun televisi Kohenoor sendiri mengaku tidak mempermasalahkan gender Marvia Malik. Apalagi awal bulan ini, senator Pakistan telah mendukung pembiayaan untuk melindungi hak orang-orang transgender. Di Pakistan, kini para transgender sudah berhak untuk memilih jenis kelamin mereka sendiri.
Sebelumnya di Pakistan pernah terjadi kasus di mana seorangaktivitastransgender meninggal karena terlalu lama mendapat penanganan di rumah sakit. Ketika itu, pihak rumah sakit mengaku bingung harusmenempatkantransgender tersebut di ruangan pria atau wanita. (ami/ami)











































Foto: Kohenoor