Intimate Interview
Whulandary Herman Lebih Menghargai Waktu dan Sesama Sejak Jadi Model
wolipop
Jumat, 11 Apr 2014 18:34 WIB
Jakarta
-
Terpilihnya Whulandary Herman menjadi Puteri Indonesia 2013 tak lepas dari profesi sebelumnya sebagai seorang model profesional. Meski kerap dianggap sebagai pekerjaan yang tidak membutuhkan kepintaran, bagi wanita yang akrab disapa Whulan ini awal karirnya sebagai peragawati telah mengajarinya banyak hal.
Berhasil meraih sejumlah penghargaan di dunia modeling, ternyata bakat Whulan sudah terlihat sejak dia masih kanak-kanak. Ibu dan neneknya lah yang melihat potensi wanita bertinggi badan 176 cm tersebut sehingga Whulan kerap diikutkan pada lomba-lomba modeling cilik. "Walaupun aku tomboy mereka melihat aku sejak kecil sudah ada bakatnya. Dari kecil aku sudah ikut lomba tingkat RT, RW, atau 17an," ujarnya.
Menurutnya, modal utama seorang peragawati adalah keunikan bukan hanya sekadar mengandalkan postur badan. Di matanya, semua wanita sudah dikaruniai kecantikan sehingga bagaimana menjadi berbeda dan memiliki ciri khas merupakan suatu keharusan. Menjadi model pun tidak semudah dan seglamor yang masyarakat pikirkan. Dibutuhkan pula kerja keras dan kedisiplinan.
"Kita sering tidur di lantai kalau di backstage. Satu model show paling lama hanya sekitar 12 detik tapi kita disuruh standby dari jam 5 pagi, shownya jam 8 malam. It was not easy," tutur Whulan saat ditemui di sebuah hotel di bilangan Sudirman, Jakarta Pusat, sebelum melakukan pemotretan fashion spread bersama Wolipop belum lama ini.
Wanita asal Padang ini juga menambahkan, "Keharusan bagi seorang model mempunyai gaya tersendiri supaya bajunya itu hidup dan membuat orang tertarik untuk membeli. Itu tantangan kan? Itu juga perlu berpikir, bukan sekadar memakai saja."
Diakui Whulan yang kini sibuk menjadi presenter Insert, pekerjaannya di dunia model lebih banyak meninggalkan suka daripada duka walaupun ada satu-dua hal yang kerap mengganggunya. Dari sedikit hal yang tidak disukainya adalah pengaturan waktu fashion show di Indonesia yang kurang efisien karena kerap membuat model menunggu lama dari pagi hingga malam. Selain itu, senioritas di antara peragawati juga pernah membuatnya kurang nyaman ketika masih berstatus model junior.
"Kalau dulu masih awal-awal, Whulan merasakan bagaimana kalau tiba-tiba kita udah ngantri lama, tiba-tiba model senior datang dan bilang, 'udah kamu nanti aja, saya dulu.' Itu nggak enak banget rasanya. Jadi sekarang, waktu orang bilang Whulan termasuk model senior, Whulan bener-bener menghargai model junior," kenang wanita pemenang Wajah Femina 2008 tersebut.
Selain membuat Whulan berkesempatan mengunjungi banyak negara, modeling juga mengajarkannya untuk menjadi lebih tepat waktu. Harus bekerja sama dengan banyak orang, wanita yang tengah berencana menulis sebuah buku ini juga diajarkan menghargai sesama pekerja dari golongan atas sampai bawah. "Coba kalo kita telat, itu akan merusak jadwal semua orang kan, mood kita nggak bagus, semua juga nggak enak bekerja dengan kita," jelas si pecinta olahraga yoga itu mengakhiri perbincangan.
(ami/eny)
Berhasil meraih sejumlah penghargaan di dunia modeling, ternyata bakat Whulan sudah terlihat sejak dia masih kanak-kanak. Ibu dan neneknya lah yang melihat potensi wanita bertinggi badan 176 cm tersebut sehingga Whulan kerap diikutkan pada lomba-lomba modeling cilik. "Walaupun aku tomboy mereka melihat aku sejak kecil sudah ada bakatnya. Dari kecil aku sudah ikut lomba tingkat RT, RW, atau 17an," ujarnya.
Menurutnya, modal utama seorang peragawati adalah keunikan bukan hanya sekadar mengandalkan postur badan. Di matanya, semua wanita sudah dikaruniai kecantikan sehingga bagaimana menjadi berbeda dan memiliki ciri khas merupakan suatu keharusan. Menjadi model pun tidak semudah dan seglamor yang masyarakat pikirkan. Dibutuhkan pula kerja keras dan kedisiplinan.
"Kita sering tidur di lantai kalau di backstage. Satu model show paling lama hanya sekitar 12 detik tapi kita disuruh standby dari jam 5 pagi, shownya jam 8 malam. It was not easy," tutur Whulan saat ditemui di sebuah hotel di bilangan Sudirman, Jakarta Pusat, sebelum melakukan pemotretan fashion spread bersama Wolipop belum lama ini.
Wanita asal Padang ini juga menambahkan, "Keharusan bagi seorang model mempunyai gaya tersendiri supaya bajunya itu hidup dan membuat orang tertarik untuk membeli. Itu tantangan kan? Itu juga perlu berpikir, bukan sekadar memakai saja."
Diakui Whulan yang kini sibuk menjadi presenter Insert, pekerjaannya di dunia model lebih banyak meninggalkan suka daripada duka walaupun ada satu-dua hal yang kerap mengganggunya. Dari sedikit hal yang tidak disukainya adalah pengaturan waktu fashion show di Indonesia yang kurang efisien karena kerap membuat model menunggu lama dari pagi hingga malam. Selain itu, senioritas di antara peragawati juga pernah membuatnya kurang nyaman ketika masih berstatus model junior.
"Kalau dulu masih awal-awal, Whulan merasakan bagaimana kalau tiba-tiba kita udah ngantri lama, tiba-tiba model senior datang dan bilang, 'udah kamu nanti aja, saya dulu.' Itu nggak enak banget rasanya. Jadi sekarang, waktu orang bilang Whulan termasuk model senior, Whulan bener-bener menghargai model junior," kenang wanita pemenang Wajah Femina 2008 tersebut.
Selain membuat Whulan berkesempatan mengunjungi banyak negara, modeling juga mengajarkannya untuk menjadi lebih tepat waktu. Harus bekerja sama dengan banyak orang, wanita yang tengah berencana menulis sebuah buku ini juga diajarkan menghargai sesama pekerja dari golongan atas sampai bawah. "Coba kalo kita telat, itu akan merusak jadwal semua orang kan, mood kita nggak bagus, semua juga nggak enak bekerja dengan kita," jelas si pecinta olahraga yoga itu mengakhiri perbincangan.
(ami/eny)










































