Intimate Interview
Moza Pramita & Tantangan Mempopulerkan Matah Ati
Kesuksesan pagelaran Matah Ati tak terlepas dari sosok wanita yang satu ini. Ditunjuk sebagai publisis pagelaran besar nasional berskala internasional, tidak membuatnya kaget profesi dan membuat hidupnya berantakan karena memiliki kesibukan lain.
Berprofesi sebagai ibu rumah tangga dengan anak dua, penyiar radio, penulis, publisis hingga pengamat social media yang apik, tidak membuat dirinya kelimpungan dan kehilangan arah. Iapun berbagi kisahnya dengan Wolipop dalam sebuah bincang intimate di kediamannya di bilangan Kuningan, Rabu (06.27.2012).
Sebagai publisis dari Matah Ati, ia bertanggung jawab untuk memperkenalkan pagelaran tersebut ke audiens sebesar-besarnya. Menumbuhkan apresiasi hingga membuka peluang baru untuk menapaki ruang tayang seluas-luasnya. Dengan pengalamannya sebagai penyiar, duta dan public speaker, hal ini mungkin terkesan mudah, namun ia pun menerima tantangan tersendiri selama menjalaninya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun merasa begitu tertantang untuk yang memberikan terbaik untuk Matah Ati. Bisa dibayangkan betapa sulitnya mensosialisasikan pagelaran budaya yang kental nuansa tradisional kepada masyarakat Indonesia yang mengagungkan budaya luar untuk menaikkan derajat sosial dalam pergaulan. "Ini yang namanya derap hidup. Kita harus selalu di-challenge dengan orang-orang Baru. Kalau kita nyaman-nyaman aja, life is boring. Di Matah Ati, a lot of things Happened," ujarnya antusias.
Setelah ditelusuri, ini bukan pertama kalinya Moza menjalani profesi sebagai publisis. Wanita Indonesia Tanpa tembakau dan Yayasan Jantung Indonesia adalah proyek pertamanya, dan ia sukses mengumpulkan delapan pemimpin redaksi media terkemuka Jakarta dan beberapa artis ibukota dengan satu misi, yakni kampanye anti rokok.
Berbekal network yang ia jalin semasa menimba ilmu di industrial penyiaran radio, Hal tersebut dimaksimalkannya dengan berbagai strategi. Salah satunya dengan berprinsip bahwa bukan menyampaikan apa yang diinginkan produk, namun lebih menitikberatkan pada 'what people want to listen, not need to listen' ujar ibunda dari Malik dan Akma ini. (fer/kik)











































