Situs game online Mr. Gamez menganalisa perbedaan budaya tepat waktu di berbagai negara, mulai dari benua Asia sampai Eropa. Hasilnya, setiap negara punya pemahaman yang berbeda-beda soal ketepatan waktu. Ini dia hasil risetnya. Foto: Thinkstock
Korea Selatan sangat menghargai waktu, terutama ketika ada janji temu dengan orang lain. Terlambat datang ke sebuah pertemuan, berarti kamu dianggap sebagai orang yang tidak sopan. Foto: Thinkstock
Batas toleransi orang Malaysia soal ketepatan waktu lebih longgar dibandingkan Korea Selatan. Ketika seseorang bilang akan terlambat lima menit, berarti dia baru akan datang satu jam kemudian dan itu dianggap lumrah. Foto: AFP PHOTO
Di China, kamu tidak akan dimarahi karena terlambat jika datang 10 menit lebih lama dari waktu janjian. Tapi lebih dari itu, kamu dianggap tidak tepat waktu. Foto: (Wahyu/detikTravel)
Jepang bisa dibilang salah satu negara yang sangat tepat waktu. Jika kereta sampai di stasiun lebih dari satu menit dari jadwal seharusnya, sudah dianggap terlambat. Foto: Hans Henricus
Batas toleransi terlambat untuk Meksiko adalah 30 menit dari waktu pertemuan yang telah ditentukan. Foto: REUTERS/Henry Romero
Orang Jerman akan sangat menghargai jika seseorang datang 10 menit lebih awal dari jadwal pertemuan yang telah ditentukan. Foto: Thinkstock
Di Nigeria, jika sebuah meeting dijadwalkan pada pukul 13.00, maka pertemuan itu sendiri baru akan dimulai antara pukul 13.00 dan 14.00. Foto: iStock
Tepat waktu tidak dianggap terlalu penting di Yunani. Terlambat 30 menit dari jadwal masih bisa diterima. Namun bagi orang asing, diharapkan mereka bisa datang tepat waktu. Foto: Thinkstock
Terlepas dari hasil survei, Indonesia juga memiliki budaya on time sendiri. Sudah jadi hal biasa bagi orang Indonesia untuk bilang 'otw (on the way' atau sedang dalam perjalanan, tapi kenyataannya mereka baru berangkat dari rumah. Terlambat 30 menit dari jadwal pertemuan pun dianggap jadi hal biasa. Namun batasan tepat waktu bisa berbeda-beda. Tergantung seberapa penting pertemuan dan siapa orang yang akan ditemui. Foto: Johanes Randy/detikcom