Niat tulus seorang wisudawati yang berdoa ingin menjadi pengajar setelah lulus kuliah berbuah manis, meski jalurnya tak pernah ia duga sebelumnya. Pemilik akun Instagram @cl_sanda membagikan kisah inspiratifnya ketika doa singkat untuk mengabdi sebagai guru langsung terjawab dengan penempatan tugas di wilayah pedalaman Papua Pegunungan.
Perjalanan menuju lokasi mengabdi bukanlah hal yang mudah. Demi sampai ke distrik tujuan, ia harus menempuh perjalanan darat menggunakan ojek selama dua jam sambil membawa perbekalan pokok yang diikat di sepeda motor.
Tak hanya medan yang menantang, fasilitas di rumah dinas tempatnya bermukim pun terbatas mulai dari ketiadaan tabung gas sehingga harus memasak menggunakan kayu bakar. Dia juga tinggal di rumah dinas dengan fasilitas kamar mandi yang memanfaatkan tong bekas.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan infrastruktur, keindahan alam yang memukau serta kehangatan anak-anak lokal menjadi penawar lelah tersendiri baginya.
"Semoga tempatnya bersahabat ya, Tuhan selalu menjaga ๐๐," tulisnya dalam unggahan yang menampilkan senyum bahagianya saat berkumpul bersama anak-anak pedalaman Papua Pegunungan.
Perjalanan wanita asal Toraja, Sulawesi Selatan ini bermula saat ia baru saja menyelesaikan wisuda di usia 24 tahun. Bertekad ingin mengabdi, ia memberanikan diri bertanya kepada rekannya yang sudah lebih dulu menjadi pengajar di pedalaman Papua.
Tak butuh waktu lama, ia diminta segera mengirimkan berkas ke dinas pendidikan setempat. Meski sempat tidak mendapat izin dari orang tua karena pertimbangan jarak dan menjadi pengalaman merantau pertamanya, ia mantap melangkah karena meyakini tugas ini sebagai sebuah panggilan jiwa.
Perjalanan menuju Distrik Bogonuk menuntut perjuangan fisik dan mental yang tidak ringan. Menjadi perempuan pertama yang bersedia ditugaskan di kawasan tersebut, ia harus menempuh perjalanan darat naik ojek dari Karubaga hingga 3 jam dengan biaya Rp 700.000.
Setibanya di lokasi pada sore hari, rasa haru dan cemas sempat melingkupinya saat melihat pemukiman yang belum tersentuh listrik, tanpa fasilitas air bersih, serta kondisi kamar mandi yang sangat darurat.
Namun, keterbatasan infrastruktur itu seketika terbayar oleh ketulusan warga dan anak-anak setempat. Setiap sore, anak-anak kecil kerap datang berkumpul untuk menemaninya agar tidak merasa kesepian, bahkan tak jarang membawakan hasil kebun seperti buah-buahan segar sebagai wujud kasih sayang.
Kehangatan tersebut membuatnya merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar warga distrik, sekaligus memberinya pelajaran berharga tentang arti kesederhanaan dan rasa syukur yang sesungguhnya.
Unggahan tersebut langsung mendapatkan banjir komentar yang memberikan dukungan dan ucapan terima kasih dari warganet.
"Terimakasih sudah punya hati yang tulus dan kasih yang besar. Tuhan senantiasa jaga dan lindungi selalu. Semangat selalu kaka ๐๐ฝโค๏ธ๐," kagum pengguna Instagram @_agitoz.
"Terimakasih kaka sudah membantu mencerdaskan saudara di Papua โค๏ธ," takjub akun @jatimloker.id.
"Saya juga mau kakkak...masih bisa kah kakโค๏ธ," tanya akun @rovitha.kollo27.
"Kak Tutor bisa ngajar ke situ kaka?" penasaran akun @faturamadhoan27.
Melalui kolom komentar akun Instagram @cl_sanda menanggapi pertanyaan netizen. "Dulu kebetulan dinas pendidikan sangat butuh guru kk. saya ada teman guru dia menawarkan saya langsung kirim berkas 1 minggu kemudian langsung di panggil untuk mengajar, untuk sekarang sebenarnya masih banyak sekali guru yg di butuhkan tapi kalau untuk honor pasti kk atau teman teman yg lain pertimbangkan lagi karena disini kebutuhan hidup sangat mahal๐," balasnya.
Konfirmasi Wolipop
Niat tulus untuk mengabdi sebagai tenaga pendidik membawa Klara Sanda pada pengalaman hidup yang tak terlupakan. Wanita yang akrab disapa Ara ini membagikan kisah inspiratifnya saat pertama kali ditugaskan mengajar di pedalaman Papua Pegunungan, sebuah wilayah terpencil dengan akses dan fasilitas yang sangat terbatas.
Perjalanan Ara bermula usai dirinya menyelesaikan kuliah di usia 24 tahun. Bertanya kepada seorang rekan guru mengenai peluang mengajar di pedalaman Papua, wanita kelahiran 25 tahun lalu ini tanpa ragu langsung mengirimkan berkas pendaftaran ke dinas pendidikan setempat. Langkah tersebut diambilnya meski sempat tidak mendapatkan izin dari orang tua yang khawatir akan keselamatan serta jarak yang terlampau jauh.
Mengajar Semua Mata Pelajaran di Tengah Keterbatasan
Sejak mulai bertugas pada Juni 2024, Ara harus beradaptasi dengan kondisi sekolah yang mengalami krisis tenaga pendidik. Hal ini membuatnya harus mengampu seluruh mata pelajaran bagi anak-anak di distrik tersebut.
"Aku mengajar mulai bulan Juni 2024. Mengajar semua mata pelajaran karena gurunya tidak ada," ungkap Ara saat dikonfirmasi oleh Wolipop.
Meski berada di kawasan yang cukup rawan dan jauh dari pusat kota, Ara mengaku rasa cemasnya perlahan sirna seiring berjalannya waktu. Kehangatan warga dan anak-anak setempat menjadi penguat utamanya dalam menjalankan tugas sehari-hari.
"Awalnya merasa takut, tapi lama-kelamaan aku mulai berinteraksi dengan anak-anak dan masyarakat. Mereka sangat sayang sama aku. Rasanya sangat nyaman, meskipun kadang ada konflik penembakan, tapi saya tetap bersyukur bisa hidup, duduk, dan makan bersama mereka," jelasnya.
Menjalani keseharian dengan memasak memakai kayu bakar dan memanfaatkan fasilitas seadanya tidak menyurutkan semangat Ara untuk terus mendampingi anak-anak Papua. Mengamati keteguhan hidup masyarakat lokal justru memberikan pelajaran berharga baginya tentang ketulusan dan rasa syukur.
Di akhir perbincangan, wanita yang kini berdomisili di Papua ini menyampaikan pesan mendalam bagi masyarakat luas agar senantiasa menghargai apa yang dimiliki.
"Pesannya khusus untuk teman-teman semua, jangan lupa bersyukur. Terkadang kita tidak pernah puas dengan apa yang kita punya atau apa yang kita makan. Harus ingat, banyak saudara-saudara kita khususnya di tempat tugas saya yang sangat-sangat kekurangan, tapi mereka tidak pernah mengeluh. Mereka anak-anak yang kuat," tutur Ara.
"Dan untuk yang mengambil hak mereka, semoga panjang umur. Doa saya dan anak-anak selalu menyertai," tutupnya.
(gaf/eny)