Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Perjuangan Uma Hapsari Bangun Bisnis Sepatu: Ungkap Tantangan & Realita Pahit

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Selasa, 28 Apr 2026 21:44 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

KARTINI DI CARTINI - UMA HAPSARI SEGMEN 1
Foto: Wolipop
Jakarta -

Tahukah kamu bahwa seiring bertambahnya usia, anatomi kaki manusia cenderung berubah dan melebar? Fakta unik ini bukan sekadar trivia, melainkan salah satu insight krusial yang mendasari desain produk dan tantangan dalam bisnis sepatu.

Saat sebuah sepatu menawarkan kenyamanan kepada konsumen, terdapat tantangan industri yang cukup kompleks dalam menjalankan brand sepatu lokal di Indonesia. Sosok wanita muda dan pebisnis, Uma Hapsari membagikan cerita awal perjalanan merintis bisnis sepatu untuk Kartini di Cartini.

Uma sendiri telah berekspansi ke berbagai sektor, mulai dari ritel sepatu (101 Shoes), kacamata (Maison Y), hingga ekosistem gaya hidup di Bali yang mencakup gym (Obsidian Gym), paddle tennis, hingga bisnis F&B seperti Chinese Food modern.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tantangan bisnis sepatu di Tanah Air

Bagi Uma, menjalankan brand sepatu selama tiga tahun terakhir bukan tanpa hambatan. Salah satu tantangan terbesar yang sering disalahpahami oleh publik adalah mengenai label "Made in Indonesia". Meskipun perakitan sepatu memang dilakukan di Tanah Air, ketersediaan material pendukungnya masih sangat bergantung pada impor.

ADVERTISEMENT

"Sepatu di Indonesia itu materialnya nggak ada yang lokal. Semuanya tuh diimpor. Ini kita ngomongin sepatu yang kayak artificial leather, yang pabrikan gitu. Kebanyakan impor," ungkap Uma.

Menurutnya, ekosistem industri pembuatan sepatu di Indonesia saat ini belum sepenuhnya mendukung ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan oleh pelaku usaha.

Keterbatasan ini menjadi batu sandungan, terutama bagi brand lokal yang memiliki visi untuk go global. Untuk bersaing di pasar internasional, kreativitas adalah kunci utama. Sayangnya, kreativitas tersebut sering kali terbentur oleh minimnya akses terhadap material yang variatif, mulai dari warna hingga komponen teknis seperti lasting (cetakan sepatu) dan tali sepatu.

"Kreativitas itu membutuhkan resources, membutuhkan kreativitas dari segi material, butuh kreativitas dari segi warnanya harus beda. Dan itu agak slow lah kalau di sini. Ekosistemnya belum terlalu mendukung," tambah Uma.

Kendati ekosistem industri masih memiliki celah, Uma menegaskan bahwa ini bukan lah alasan untuk berhenti berkarya. Ia memandang tantangan tersebut sebagai bagian dari dinamika bisnis yang harus dihadapi oleh semua brand lokal di tanah air. Dengan mentalitas yang adaptif, keterbatasan resource justru menuntut pengusaha untuk lebih cerdas dalam menyiasati keadaan.

"Tapi, you can survive this. Semua yang di Indonesia kan mengalami challenge yang sama ya. Dengan limited resources, ya mau bagaimana lah kita caranya," pungkas Uma dengan optimis.

(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads