Hari Kartini, Pemimpin Wanita KPK Bicara Peran Wanita dalam Melawan Korupsi

Rahmi Anjani - wolipop Rabu, 21 Apr 2021 14:17 WIB
Lili Pintauli Siregar Foto: Dok. KPK
Jakarta -

Korupsi dianggap sebagai salah satu masalah terbesar di Indonesia. Kasus-kasus terbaru terkait penyalahgunaan uang negara pun belakangan jadi perhatian masyarakat. Seolah sudah menjadi kebiasaan, usaha untuk mencegah tindak korupsi terus digalakkan. Dalam acara 'Perempuan dalam Pemberantasan Korupsi' yang digelar KPK, Wakil Ketua dan Anggota Dewan Pengawas KPK mengungkap opini mereka mengenai peran wanita untuk melawannya.

Peran wanita dalam kasus korupsi menjadi salah satu bahasan dalam diskusi yang digelar untuk memperingati Hari Kartini beberapa waktu lalu. Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar dan Anggota Dewan Pengawas KPK Albertina Ho pun membagikan pengalaman mereka sebagai para 'Kartini' yang berhadapan dengan kasus-kasus korupsi. Menurut keduanya, cara mencegah perilaku koruptif bisa dimulai dari rumah oleh seorang wanita.

Albertina Ho mengatakan jika wanita sering kali terlibat secara pasif dalam kasus korupsi. Karena itu, penting agar mereka menjadi alat kontrol paling tidak dalam keluarganya sendiri.

"Kaum perempuan bisa menjadi alat kontrol. Kalau kita lihat banyak tindak korupsi yang terjadi bisa dikatakan tidak sedikit perempuan yang berperan serta di situ bukan dalam arti secara aktif tapi pasif,"

"Paling tidak mereka bisa jadi alat kontrol di dalam keluarganya. untuk anak-anaknya sedari kecil sudah diajarkan integritas yang akan dibawa terus nantinya. Kemudian dengan suami yang seorang aparatur negara jika melihat ada perilaku (mencurigakan) misalnya uangnya kok sekarang banyak mungkin. Mohon maaf, kadang-kadang justru mereka malah menikmati," ungkap wanita yang sebelumnya berprofesi sebagai hakim itu.

Satu hal lain yang ditekankannya sebagai upaya pencegahan korupsi adalah keberanian untuk berkata tidak dalam lingkungan pekerjaan. "Perempuan kadang ada di lingkaran pekerjaan di mana ada ketidakberanian mengungkapkan tidak, artinya dia tidak punya sikap tegas kalau itu salah. Kemudian mereka mulai terseret arus dan konsekuensinya baru disesali setelah berstatus tersangka," ujarnya.

Sedangkan Lili Pintauli Siregar menyoroti pentingnya wanita sebagai ibu juga tentunya bersama bapak menanamkan nilai-nilai kejujuran dalam keluarga sejak kecil. Begitu juga dengan rasa tanggung jawab dan menjauhi gaya hidup mewah.

"Kita bisa mengajarkan kemampuan untuk berbagi ke sesama, kepekaan, rendah hati, tidak menyakiti sesama. Sesuatu yang kita bisa mencontohkan sebagai keluarga secara konsisten, komitmen, dan amanah," kata Lili.

Albertina pun menambahkan jika nilai-nilai tersebut penting untuk ditanamkan dalam keluarga tanpa standar ganda. "Kadang-kadang tanpa disadari ada standar ganda sebagai contoh orangtua mengatakan anak harus jujur tapi orangtua pelaku (berbohong). Mereka akan berpikir berarti kalau sudah tua boleh berbohong. Kalau bicara integritas juga kita harus menerima sesuatu sesuai dengan kewajiban dan hak," tutur Albertina.

(ami/ami)