RI Siapkan Lulusan SMK buat Jadi Tenaga Pendamping Lansia di Jepang

Advertorial - wolipop Jumat, 18 Sep 2020 15:03 WIB
Caregiver Foto: Caregiver
Jakarta -

Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kemendikbud terus membuka ruang penyerapan kerja bagi lulusannya. Salah satu upaya terkini yang dilakukan, yaitu menyiapkan tenaga caregiver (pendamping lansia) untuk bekerja di Jepang bekerja sama dengan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI).

Untuk mematangkan persiapan calon caregiver dari SMK, Direktorat SMK dan BP2MI menggelar pelatihan kerja caregiver untuk para lulusan SMK, Rabu (15/9) lalu. Kegiatan yang berlangsung melalui video conference ini dihadiri Direktorat SMK, BP2MI, dan para calon tenaga kerja caregiver ke Jepang.

Terdapat 10 SMK yang mengirimkan delegasi calon caregiver, antara lain SMKN 8 Semarang, SMKN 2 Malang, SMK Citra Medika Sragen, SMKN 28 Jakarta, SMK Annisa 3 Bogor, SMK Taruna Terpadu 1 Bogor, SMK Muhammadiyah 3 Metro, SMK Sari Farma Depok, SMK Kesehatan Citra Semesta Indonesia Kulon Progo, dan SMKS Plus NU Sidoarjo.

Para peserta pelatihan yang merupakan alumni SMK lulusan tahun 2020 dar bidang keahlian kesehatan, dibekali materi Bahasa dan Budaya Jepang, serta kompetensi caregiver. Beberapa lembaga pelatihan dilibatkan dalam pelatihan tersebut, antara lain Koba Mirai Japan.

Setelah mengikuti pelatihan, para peserta mendapatkan dua sertifikat sekaligus, yakni Sertifikat Bahasa Jepang setingkat N4 dan Sertifikat Kompetensi Teknis Caregiver/Careworker dari Prometric. Kedua sertifikat itu merupakan syarat utama untuk bekerja di Jepang.

Melalui pesan tertulisnya, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto yang mempunyai pengalaman bekerja 3,5 tahun di Jepang menyampaikan, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan mengalami penurunan jumlah angkatan kerja. Hal itu membuka peluang bagi lulusan SMK yang ingin bekerja di luar negeri. Tidak hanya dalam bidang Caregiver, tetapi juga bidang-bidang pekerjaan lainnya.

"Ketimpangan jumlah angkatan kerja dengan pensiunan di Jepang dan negara lainnya dapat menjadi peluang meraup devisa luar negeri melalui penciptaan tenaga kerja internasional yang terampil, kompeten, unggul dan berkarakter," ujar Wikan.

Direktur Sekolah Menengah Kejuruan M Bakrun menegaskan program pelatihan tenaga kerja SMK ke Jepang ini dibuat melalui bantuan program retooling (penguatan) SMK dan program Center of Excellence. Program ini diprioritaskan untuk lulusan SMK Kesehatan (kompetensi keahlian perawat kesehatan, keperawatan social, dan pekerja sosial) tahun 2020, sebab akhir tahun pembelajaran mereka terkendala pandemi COVID-19, sehingga baik pembelajaran maupun pengujiannya tidak dapat berjalan lancar.

Sebelum mengikuti pelatihan, para peserta telah dibekali kemampuan Bahasa Jepang setara N5 dari sekolah masing-masing. Kemampuan bahasa tersebut akan ditingkatkan untuk memperoleh sertifikat kemampuan bahasa selevel JLPT N4 atau JFT Basic A2 dari Japan Foundation. Mereka juga akan mengantongi sertifikat Skill Exam Careworker dari Prometric yang akan ditempuh melalui pelatihan selama 4 sampai 6 bulan

"Seperti diketahui berbagai pihak, bahwa pandemi menyebabkan banyak PHK, namun tenaga caregiver justru banyak dibutuhkan, karena banyak lansia tidak dimungkinkan bepergian dan membutuhkan pendamping untuk aktivitasnya," ujar Deputi Penempatan dan Perlindungan Kawasan Amerika Dan Pasifik BP2MI Dwi Anto.

"Terlebih lagi Jepang, sebagai negara yang berpenduduk mayoritas lansia mempunyai kebutuhan sebanyak 60.000 selama 5 tahun dan demand tahun 2020 sebanyak 1.200, untuk tenaga Caregiver melalui visa kerja dengan penghasilan yang menggiurkan," lanjutnya.

Direktorat SMK dan BP2MI telah sepakat untuk terus meningkatkan kolaborasi agar kebekerjaan lulusan SMK semakin meningkat. Bakrun berharap pada masa mendatang siswa SMK dapat dijajaki minatnya untuk bekerja di dalam atau di luar negeri.



Simak Video "Melania Trump Masih Batuk-batuk Usai Sembuh dari Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(ads/ads)