Dipecat Setelah Keguguran, Direktur Wanita Tuntut Kantornya Rp 2,4 Miliar

Rahmi Anjani - wolipop Sabtu, 16 Mar 2019 06:33 WIB
Ilustrasi wanita dipecat. Foto: Thinkstock Ilustrasi wanita dipecat. Foto: Thinkstock

Jakarta - Berbagai macam alasan bisa membuat seseorang dipecat dari perusahaan. Namun masalah kesehatan seharusnya tidak jadi salah satunya. Karena itu, seorang wanita bernama Eleanor Marie Coleman menuntut sebuah bank karena memecatnya setelah keguguran. Direktur itu pun mengaku jika atasannya telah mmebuat komentar tidak menyenangkan mengenai kehamilan dan keluarganya. Karena itu, Eleanor menuntut Rp 2,4 miliar.

Eleanor menuntut sebuah bank swasta Swiss di Hongkong senilai lebih dari HK$1,37 juta atau sekitar Rp 2,4 miliaran. Dalam dokumen kasus tersebut disebutkan jika suatu hari ia diberi surat pemecatan dan diminta untuk menandatangani surat pengunduran diri. Padahal wanita itu baru saja keguguran dan sedang cuti.

Wanita itu pun tidak bisa menghindari pemecatan itu karena terancam tak akan mendapat pekerjaan lain atau tidak mendapat lisensi dari Otoritas Moneter. Hal itu dikatakan menyalahi aturan dalam peraturan Diskriminasi Seks dan Diskriminasi Orang Berkebutuhan Khusus Hong Kong. Eleanor pun menuntun perusahaan karena telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan hal-hal lain.



Direktur wanita tersebut pun menuntut agar bank memberikan permintaan maaf juga meminta agar mereka memberikan training kesadaran anti-diskriminasi kepada semua staff senior dan direktur.

Berdasarkan surat perintah disebutkan jika Eleanor mulai bergabung sebagai direktur atau wakil presiden mulai 2016. Ia pun hamil di tahun selanjutnya dan belum memberi tahu orang lain di luar keluarga inti sampai trimester pertama. Singkat cerita, Eleanor memilih untuk tidak memberi tahu pihak HRD setelah supervisornya mengatakan jika ia akan dipandang buruk karena belum selesai masa percobaan, sudah hamil. Supervisor itu juga menyarankan Eleanor untuk memberitahu perusahaan ketika mendekati waktu melahirkan.

Sayangnya Eleanor mengalami keguguran pada 31 Maret dan harus dilarikan ke rumah sakit pada 3 April karena pendarahan yang disebabkan pengobatan. Ia kemudian diminta untuk istirahat selama seminggu sebelum kembali beraktivitas.

Tapi setelah kembali bekerja Eleanor malah mendapat komentar tidak menyenangkan. Pihak HRD menilai waktu cutinya tidak bisa diterima dan ia seharusnya menghadapi tanggungjawabnya jika ingin jadi ibu yang baik. Bahkan atasannya memberi tahu Eleanor bahwa ia harus fokus pada pekerjaan karena menjadi tulang punggung keluarga dan kehamilannya sudah berakhir.

Setelahnya Eleanor terus saja mengalami pendarahan terlebih banyaknya tekanan dari rumah dan pekerjaan. Karena itu, ia harus kembali dioperasi sehingga kembali tidak masuk kantor sampai 30 April. Tapi karena takut dengan reaksi supervisornya, ia mengatakan akan kembali bekerja pada 26 April. Namun Eleanor malah dipecat pada 28 April.

Pengacara pun mengatakan jika Eleanor banyak menderita karena supervisornya tersebut. Untuk itu, ia menuntut pria itu karena memberikan pernyataan tidak pantas mengenai kehamilan dan kehidupan keluarga.




(ami/eny)