Kata Influencer yang Jasa Curhat Berbayarnya Jadi Kontroversi

Nada Saffana - wolipop Jumat, 11 Jan 2019 18:19 WIB
Jonathan End, influencer yang membuka jasa curhat berbayar. Foto: Dok. Jonathan End Jonathan End, influencer yang membuka jasa curhat berbayar. Foto: Dok. Jonathan End

Jakarta - Influencer Jonathan End menjadi perbincangan di media sosial saat mengumumkan bahwa dirinya membuka jasa curhat berbayar melalui telepon. Jonathan menetapkan biaya Rp 100 ribu untuk sesi lima menit mengobrol dengannya atau bisa juga membayar Rp 1 juta untuk sesi mengobrol satu jam.

Penetapan harga ini dibuat bukan tanpa pertimbangan. Selama ini pria lulusan jurusan arsitektur dari Institut Teknologi Bandung itu dikenal sebagai influencer yang kerap berbagi tips dunia kerja. Pernah bekerja di Singapura sebagai arsitek selama dua tahun, salah satu tips yang diberikannya contohnya bagaimana lika-liku mencari kerja di Negeri Singa.

Pria kelahiran 18 November 1984 itu juga pernah bekerja di multinational digital marketing agency hingga menduduki jabatan social media director. Dan Jonathan pernah bekerja sebagai Head of Social Media Go-Jek.

Saat Jonathan mempublikasikan di Twitter soal dirinya membuka jasa mengobrol berbayar, sebagian netizen nyinyir pada peluang bisnis yang tengah dirintisnya itu. "Gue mungkin bisa memberikan solusi, tapi tidak janji!" demikian tweet influencer yang dikritik netizen. Ada yang mengatakan apa yang dijanjikannya seperti janji politikus.
"Ada beberapa yang kontra, katanya lebih baik kalau stres karena masalah, curhatnya ke psikolog bukan ke saya. Kalau untuk itu sih saya setuju sekali, ada beberapa penelepon yang stres juga dan saya selalu menganjurkan ke psikolog untuk stress management dan membantu mencari akar permasalahan stresnya," ujar influencer dengan followers di Instagram lebih dari 89 ribu itu saat diwawancara Wolipop melalui pesan teks, Kamis (10/1/2019).

Jonathan mengaku pernah mendapatkan audience yang menangis ketika bercerita tentang masalah keluarga dan kehidupan. Kalau sudah sampai begini, ia selalu menyarankan untuk konsultasi dengan psikolog.

Tapi pada kenyataannya 70% penelepon Jonathan bukan orang yang butuh mengobrol dengan psikolog. Orang-orang yang rela mengeluarkan uang untuk curhat dengannya melalui telepon lebih banyak bertanya seputar tips interview kerja, bagaimana caranya bisa bekerja di startup bergengsi, sampai konsultasi mengenai digital marketing. Jonathan pun mengatakan tidak semua 'curhat' yang datang kepadanya berhubungan dengan kesehatan mental, namun lebih menanyakan sesuatu ke orang yang tepat.
"Saya selalu bilang kalau saya mungkin bisa memberikan solusi, tapi tidak janji! Tapi untungnya selama ini orang-orang selalu puas dengan sesi telepon mereka bersama saya sampai memberikan rekomendasi di Instagram mereka," kata influencer dengan nama akun Instagram @jonathanend itu.

Terlepas dari adanya kontroversi, Jonathan menganggap sesi telepon berbayar yang dibukanya ini adalah tempat bertukar gagasan dan pikiran antar individu. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda mengenai suatu hal. Jadi, tidak masalah jika ingin mengobrol atau bertukar pikiran dengan orang lain demi memperkaya wawasan. Ia berharap jasa telepon ini bisa membantu membuka mata setiap orang menjadi lebih baik lagi.
(eny/hst)